Ikhtiar Peningkatan Dagang RI-Bangladesh Berbuah Manis

NERACA

Jakarta – Upaya untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Bangladesh menunjukkan kemajuan positif, ujar Duta Besar RI untuk Bangladesh Rina P Soemarno.

“Ini termasuk keinginan kedua negara untuk mengembangkan hubungan dagang yang saling menguntungkan dengan negosiasi pengurangan tarif,” kata Dubes Rina dalam Forum Bisnis dan Investasi Indonesia-Bangladesh di Dhaka, disalin dari Antara.

Pemerintah kedua negara pada Februari lalu telah merampungkan putaran pertama negosiasi preferential trade agreement (PTA), dan diharapkan kesepakatan tersebut dapat ditandatangani pada paruh pertama 2020.

Minat kuat untuk investasi dan usaha patungan (joint venture) di Bangladesh juga ditunjukkan dari berbagai sektor bisnis di Indonesia, termasuk energi, penerbangan, otomotif, logistik, hotel dan properti, transportasi, serta infrastruktur.

Salah satu kisah sukses yang menunjukkan hubungan bilateral ekonomi yang kuat dan saling melengkapi adalah kerja sama antara PT Industri Kereta Api (INKA) dan Kementerian Perkeretaapian Bangladesh, di mana PT INKA memasok 250 kereta api untuk Bangladesh yang pengiriman awalnya telah dilakukan awal tahun ini.

Februari lalu, Indonesia untuk pertama kalinya mengekspor 14 unit bus eksekutif produksi perusahaan karoseri CV Laksana ke Bangladesh dengan total nilai penjualan 808 ribu dolar AS.

Mengacu pada hal tersebut, KBRI Dhaka menyelenggarakan sebuah forum di sela-sela pameran Indonesia Fair 2019 yang lebih menekankan pada unsur investasi, yang dihadiri perwakilan dari Otoritas Pengembangan Investasi Bangladesh (BIDA), Otoritas Zona Ekonomi Bangladesh (BEZA), Kamar Dagang dan Industri Indonesia-Bangladesh (IBCCI), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, Kementerian Luar Negeri RI, serta pelaku usaha kedua negara. “Forum ini akan menjadi tempat yang ideal untuk membahas peluang bisnis dan investasi di Bangladesh, dan selanjutnya akan membawa sektor bisnis kita lebih dekat,” tutur Dubes Rina.

Di sisi lain, ia melanjutkan, ada peluang ekspor yang sangat besar dari Bangladesh ke Indonesia yang masih belum dieksplorasi mengingat neraca perdagangan kedua negara menunjukkan surplus lebih dari 90 persen bagi Indonesia. “Saya harap forum hari ini akan membuka cakrawala bisnis baru antara kedua negara,” tutur Dubes Rina.

Total nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Bangladesh pada 2018 mencapai 1,97 miliar dolar AS, atau meningkat 48 persen sejak 2016. Tren peningkatan nilai perdagangan kedua negara berlanjut tahun ini, dengan total nilai perdagangan selama Januari-Februari 2019 mencapai 410 juta dolar AS, atau meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kereta api buatan PT Industri Kereta Api (INKA) Indonesia yang diberi nama "Bonolata Express" resmi diluncurkan di Kota Rajshahi, Bangladesh, Kamis, dan dihadiri langsung oleh Menteri Perkeretaapian Bangladesh Md. Nurul Islam Sujon.

Upacara peluncuran kereta tersebut yang akan melayani rute Rajshaji-Dhaka-Rajshahi secara non-stop mulai 27 April ini terasa semakin istimewa dengan hadirnya Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina melalui video conference.

Peluncuran kali ini secara resmi menandakan kali ketiga PT INKA dapat menembus pasar kereta api di Bangladesh, di mana sejak tahun 2006 perusahaan BUMN tersebut telah berhasil memasok sebanyak 450 kereta api ke Bangladesh.

"Sebuah bukti nyata bahwa industri kereta api milik Indonesia mampu bersaing di pasar internasional,” kata Duta Besar RI untuk Bangladesh Rina P Soemarno ditemui secara terpisah di sela-sela pameran Indonesia Fair 2019 di Dhaka, disalin dari Antara.

Pemerintah Indonesia, melalui KBRI Dhaka, dalam beberapa tahun terakhir secara aktif berupaya untuk lebih meningkatkan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Bangladesh, khususnya di bidang perdagangan dan investasi.

Upaya tersebut semakin ditunjukkan dengan pelaksanaan kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke Bangladesh pada Januari 2018. Dari kunjungan tersebut sebanyak lima kesepakatan kerja sama dalam bentuk penandatanganan nota kesepakatan (MoU) berhasil dilakukan.

Bonolata Express telah lama dinantikan peluncurannya oleh penduduk Bangladesh. Penantian tersebut dimulai sejak PT INKA pada awal tahun ini berhasil mengirim 50 gerbong kereta api dari total 250 gerbong yang telah disepakati ke Bangladesh.

BERITA TERKAIT

Dampak Negatif Perang Dagang - Tren Laju IHSG Berada di Zona Merah

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin (17/6) awal pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 1% (59,75 poin)…

Dampak Perang Dagang - Ekspor MARK Ke Malaysia Berpeluang Naik 7%

NERACA Jakarta – Selalu mencari peluang di tengah tantangan bisnis global adalah strategi pelaku bisnis dan hal inilah yang dilakukan…

AKIBAT PERANG DAGANG DAN FAKTOR POLITIK - Asumsi Makro 2019 Diprediksi Meleset dari Target

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 tidak sesuai target. Penyebabnya faktor…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Diminati Pasar Global, Ekspor Batik Dibidik 8%

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berkontribusi dalam upaya pelestarian batik Nusantara serta mendorong pengembangan industri batik nasional agar lebih…

Niaga Internasional - Amerika Serikat Tetap Jadi Tujuan Penting Ekspor Indonesia

NERACA Jakarta – Walaupun terkena imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, Amerika Serikat tetaplah tujuan penting dari…

Pasar Produk Kerajinan Nasional Semakin Meluas

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menjelaskan, pemerintah menyadari produk kerajinan…