Transmigran Sukses Karena Sawit

NERACA

Jakarta - Program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah pada era Presiden Soeharto telah memberikan banyak perubahan bagi Made Gunarta (55 tahun). Pria asal Nusa Penida, Bali itu sukses merajut kehidupannya yang dahulu terbilang susah menjadi serba ada. Kesuksesan tersebut diraih berkat tanaman sawit yang ia miliki.

Saat berbincang dengan beberapa media di kediamannya di perkebunan sawit Desa Balantik, Mamuju Utara, Sulawesi Barat, awal pekan ini, Gunarta mengkisahkan saat pertama kali dia berserta 325 orang lainnya yang mengikuti program transmigran pada tahun 1988 harus meninggalkan kampung halamannya untuk merantau di Sulawesi dan bergabung dengan PT Unggul Widya Teknologi Lestari untuk menjadi petani sawit.

"Saat dahulu di Bali, hidup saya cukup susah. Untuk punya sepatu saja, orangtua saya tidak mampu. Makanya saya nekat untuk mengikuti program transmigrasi, dari pada saya pahit di kampung maka lebih baik saya keluar cari nasib yang lebih baik," katanya.

Gunarta beserta 325 orang lainnya diberikan lahan sebesar satu kavling atau 2 hektar dan setengah hektar untuk pekarangan. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk menanam sawit, setelah menghasilkan tanah tersebut diberikan kepada warga transmigran. "Saat itu saya benar benar kerja keras agar bisa memiliki uang yang lebih. Alhasil saya dapat gaji Rp2 ribu sebagai tenaga harian," jelasnya.

Kerja keras Gunarta di perkebunan sawit berbuah manis. Jika dulu ia hanya punya 2 hektar lahan, kini ia memiliki hampir 100 hektar lahan sawit. Selain itu, ia dipercaya oleh para petani untuk menjadi ketua kelompok petani sawit. Kini penghasilannya pun berlipat lipat, meski ia tak menyebutkan angka pasti penghasilnya per bulan namun Gunarta menyebutkan penghasilannya cukup untuk membesarkan kelima anaknya dengan hidup yang layak.

Kelima anaknya pun mendapatkan pendidikan yang layak. Anak pertama Gunarta telah mengenyam pendidikan hingga S2 dengan jurusan ekonomi bisnis, lalu ada yang berprofesi sebagai dokter, mahasiswa S1 dan juga masih duduk di bangku sekolah. "Anak-anak saya ini besar dan menjadi sekarang karena sawit. Jadi sawit ini benar benar mengubah hidup saya," kata Gunarta diiringi tawanya.

Jika dahulu Gunarta hanya mendapatkan rumah yang hanya berbahan dasar kayu, kini rumah Gunarta sudah menjadi permanen. Bahkan, halaman rumahnya juga sudah dilengkapi ruangan sembahyang. Di depan terasnya sudah mejeng mobil Toyota Rush keluaran terbaru. "Rencananya saya akan menambah tempat sarang walet," ujarnya sambil menunjukkan lokasi sarang walet yang berada bersebelahan dengan rumahnya.

Sawit telah merubah hidupnya, kini Gunarta juga mempunyai lahan sebesar 5 are yang berada di Bali, rumah senilai Rp1,4 miliar dan lahan sawit di Kalimantan sebesar 100 hektar. "Saya juga mencoba beli beberapa lahan sawit di Kalimantan. Jadi lahan disini akan saya serahkan kepada anak pertama untuk dikelola sambil saya mengurus lahan juga di Kalimantan," sambungnya.

Kesuksesan Gunarta untuk menjadi seperti saat ini juga tak terlepas dari peran para pendamping dari PT Unggul Widya Teknologi Lestari (UWTL). Membuka lahan di Kecamatan Baras, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, PT UWTL telah mendatangkan 15.350 transmigran yang tersebar di 10 desa. Beberapa asal transmigran didatangkan dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Bali, NTT dan NTB. “Disini dominan warga transmigran berasal dari Bali atau sekitar 963 kepala keluarga,” ungkap Kuasa Direksi PT UWTL Muchtar Tanong, saat berbincang di perkebunan sawit.

BERITA TERKAIT

Haris Azhar Bakal Laporkan Majelis Hakim PT Jakarta ke KY dan Bawas - Diduga Tak Periksa Berkas Banding

      NERACA   Jakarta - Jaksa berprestasi Chuck Suryosumpeno tidak pernah lelah untuk menuntut keadilan hukum di Indonesia.…

ITDC Fokus Kembangkan The Mandalika - Katalisator Pembangunan Ekonomi NTB

    NERACA   Jakarta - PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), BUMN pengembang dan…

UMP 2020 Disebut Masih Mengacu PP 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebutkan besaran upah minimum provinsi (UMP) untuk 2020 diperkirakan masih…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Ayam Geprek Menara Tawarkan Sistem Waralaba

  NERACA Jakarta - Menu makanan ayam dari dulu sampai sekarang sangat banyak digemari di semua kalangan masyarakat. Mulai dari…

Mobvista Ungkap Peluang Besar dalam Konten Video

  NERACA Jakarta - Platform teknologi penyedia jasa mobile advertising dan analytic, Mobvista mengungkap bagaimana brand dan marketer di Indonesia dapat…

Pindahkan Ibukota, Bappenas Minta Saran Tokoh Dayak

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta saran dari para…