Pengamat: Inflasi 2019 Diprediksi Lebih Tinggi dari Tahun Lalu

Pengamat: Inflasi 2019 Diprediksi Lebih Tinggi dari Tahun Lalu

NERACA

Sukabumi - Tingkat inflasi tahun ini cenderung akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pasalnya, ditahun ini ada momen yang memicu terjadinya inflasi meningkat. Pertama perhelatan pemilu dan kedua memasuki bulan ramadhan.

"Kalau tahun lalu kan hanya bulan puasa saja, sedangkan ditahun ini ditambah dengan adanya pelaksanaan pemilu," ujar salah satu pengamat ekonomi Kota Sukabumi KH. Fajar Laksana kepada Neraca, Sabtu (27/4).

Fajar mengatakan, meskipun di pemilu itu banyak uang yang beredar, tapi tidak mampu untuk meningkatkan produk barang dan jasa, sehingga inflasi terjadi. Sebab, di masa pemilu itu uang yang beredar itu tidak membentuk produk, melainkan konsumtif."Disaat pemilu uang beredar cukup tinggi, bahkan bisa mencapai triliunan, namun sayang tidak bisa menghasilakn produk dan jasa. Justru, akan meningkatan harga-harga," terang Fajar.

Kemudian lanjut Fajar, bulan depan sudah memasuki bulan ramadhan, dimana bulan puasa itu akan ada demain berlebih dan naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan barang strategis lainya."Tentu saja ini akan menggangu kestabilan ekonomi. Jadi, suka tidak suka pemerintah harus bekerja keras agar inflasi bisa di tekan," terang Fajar.

Makanya tambah Fajar, tahun ini bisa disebut dengan inflasi ganda. Pertama dampak dari pemilu ditambah dengan memasuki bulan puasa. Untuk itu pemerintah harus segera mengambil langkah cepat."Harus gelar operasi pasar (OP), sehingga bisa menekan harga yang melambung tinggi," katanya.

Selain mempengaruhi terhadap inflasi, tahun pemilu juga Fajar menilai para investor juga menahan dulu investasinya, sampai menunggu pemilu beres sampai tuntas. terutama bagi investor di sektor riil."para investor akan menahan dulu modalnya (wait and see). Sebab mereka ingin tahun siapa yang berkuasa dalam pemilu ini. karena kekuasaan akan merubah kepada program pembangunan, dan itu akan dilihat setelah hasil dari pemilu ini," kata Fajar.

Fajar juga mengakui saat ini dirinya belum memastikan berapa nilai inflasi tahun ini. Yang jelas cukup tinggi."Saya belum hitung-hitungan ya berapa nilai inflasi tahun ini, sebab penilaian itu perlu data yang akurat. apalagi tahun ini terjadi inflasi ganda," pungkasnya. Arya

BERITA TERKAIT

Bulan Maret Banten Alami Inflasi 0,08 Persen

Bulan Maret Banten Alami Inflasi 0,08 Persen   NERACA Serang - Meningkatnya harga barang-barang/jasa kebutuhan pokok masyarakat secara umum di Banten…

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

Agar Petani Lebih Dominan Gunakan Pupuk Organik

NERACA Jakarta – Petani di Kabupaten Lebak diminta menggunakan pupuk organik untuk usaha pertanian pangan, palawija, dan hortikultura guna mencegah…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Anies Masih di Lingkaran Ahokers

Anies Masih di Lingkaran Ahokers NERACA Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan perlu lebih cermat, terutama dalam memilih pejabat-pejabat…

Menteri LHK : Indonesia Angkat Langkah Sistematis Indonesia Sektor Lingkungan Hidup dan Energi

Menteri LHK : Indonesia Angkat Langkah Sistematis Indonesia Sektor Lingkungan Hidup dan Energi NERACA Karuizawa, Jepang - Menteri Lingkungan Hidup…

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik NERACA Jakarta - Lippo Group menggandeng Sumitomo Corporation untuk memperkuat bisnis…