Laba Unilever Indonesia Turun 4,37%

NERACA

Jakarta –Pencapaian kinerja keuangan laba PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di kuartal pertama 2019 masih negatif. Tengok saja laba emiten consumer goods ini terkoresi sebesar 4,37%, sejalan dengan penjualan yang turun tipis 0,76% pada periode yang sama.Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Selain laba yang turun, penjualan bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,66 triliun atau turun 0,76% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp10,75 triliun. Penjualan berasal dari segmen home and personal care (HPC) sebesar Rp7,47 triliun, diikuti segmen foods and refreshement (F&R) sebesaR Rp3,20 triliun. Penjualan di segmen HPC mengalami kenaikan sebesar 2,61% secara tahunan, sedangkan di segmen F&R turun 7,83%.

Berdasarkan segmen geografis, penjualan dalam negeri tumbuh 0,49% menjadi Rp10,19 triliun, sedangkan penjualan ekspor turun 21,54% menjadi Rp478,44 miliar.Lebih lanjut, harga pokok penjualan naik 1,99% menjadi Rp5,36 triliun. Sehingga laba kotor turun 3,40% menjadi Rp5,31 triliun. Dengan demikian, perseroan mencetak laba sebesar Rp1,75 triliun pada kuartal I/2019, turun 4,37% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,83 triliun.

Total aset perseroan per 31 Maret 2019 sebesar Rp22,04 triliun, naik 8,43% secara tahunan. Jumlah liabilitas dan ekuitas masing-masing sebesar Rp12,98 triliun dan Rp9,06 triliun.Kata Direktur dan Sekretaris Unilever Indonesia, Sancoyo Antarikso, jika tanpa memperhitungkan penjualan kategori Spreads yang telah didivestasi pada kuartal III/2018, maka perseroan membukukan pertumbuhan penjualan domestik sebesar 4,9%.

UNVR terus meluncurkan inovasi-inovasi baru untuk menangkap peluang sesuai aspirasi konsumen, salah satunya peluncuran Nameera Aquatic Botanical, sebagai rangkaian produk halal dari bahan natural pada 31 Januari 2019.“Perseroan terus melakukan transformasi pada seluruh rantai bisnisnya, agar bisnis kami dapat terus maju dengan berlandaskan pada tujuan yang kuat dan lebih tangguh lagi dalam menghadapi tantangan masa depan,"jelasnya.

Per tanggal 1 Januari 2019, perseroan menerapkan PSAK 73:Sewa. PSAK tersebut mewajibkan perseroan untuk mengakui semua nilai kontrak perjanjian sewa yang memiliki jangka waktu lebih dari 12 bulan sebagai aset hak guna, kecuali aset tersebut bernilai rendah. Sebagai implikasi dari penerapan strandar akuntansi ini, perseroan mencatat penambahan aset hak guna dan utang sewa masing-masing sebesar Rp881 miliar dan Rp1 triliun pada laporan posisi keuangan interim 31 Maret 2019. Perseroan juga melakukan penyesuaian kembali laporan keuangan untuk posisi keuangan Desember 2018 dan 1 Januari 2018.

BERITA TERKAIT

Unilever Perkuat Kanal Distribusi Digital

Pacu pertumbuhan penjualan dengan memanfaatkan boomingnya tren masyarakat belanja online, mendorong PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) untuk memperluas kanal distribusi…

Bayan Bukukan Laba Bersih Turun 30,85%

NERACA Jakarta – Positifnya harga batu bara di pasar belum memberikan dampak terhadap pencapaian kinerja PT Bayan Resources Tbk (BYAN).…

Jelang Lebaran 2019 - Pertumbuhan Penumpang Pesawat Turun Dua Kali Lipat

NERACA Jakarta – Pertumbuhan penumpang pesawat penerbangan domestik turun hampir dua kali lipat pada Lebaran 2019, kata Direktur Jenderal Perhubungan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…