Garuda Pangkas Jumlah Direksi dan Komisaris - Jaga Kesehatan Perusahaan

NERACA

Jakarta – Komitmen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) untuk menjaga kesehatan perusahaan terus dilakukan dengan menekan efisiensi dan termasuk memangkas jumlah komisaris dan direksi. Dimana berdasarkan hasil rapat umum pemegang sahm tahunan (RUPST) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memutuskan untuk merombak dari formasi direksi dan komisaris.

Untuk jajaran komisaris Garuda Indonesia jumlahnya berkurang 2 orang dari 7 orang menjadi 5 orang. Ada 4 komisaris yang telah berhenti, termasuk Komisaris Utama Garuda Agus Santoso yang digantikan oleh Sahala Lumban Gaol, perwakilan dari Kementerian BUMN. Sementara 3 orang komisaris yang telah diberhentikan lainnya yakni Dony Oskaria, Muzaffar Ismail dan Luky Alfirman. Sementara tambahan komisaris yang baru hanya dua, Sahala Lumban Gaol dan Eddy Purwanto.

Untuk Dony Oskaria sendiri merupakan komisaris perwakilan dari pemegang saham PT Trans Airways. Dengan begitu, komisaris perwakilan dari Trans Airways di Garuda Indonesia hanya tinggal satu orang yakni Chairal Tanjung.”Pergantian komisariskan perlu dioptimalkan," kata Deputi Jasa Keuangan, Survei, dan Konsultasi Kementerian BUMN, Gatot Trihargo di Jakarta, kemarin.

Selain itu, ada pergantian komisaris perwakilan dari pemerintah juga juga tinggal satu orang yakni Sahala Lumban Gaol yang menjadi Komisaris Utama. Sementara untuk direksi, ada dua orang yang diberhentikan yakni Direktur Layanan Nicodemus Panarung Lampe dan Direktur Teknik I Wayan Susena. Kedua posisi direksi itu kini digabungkan menjadi Direktur Teknik dan Layanan. Posisi itu diisi oleh orang baru yakni Iwan Juniarto.”Untuk direksi ada dua diganti satu. Jadi berkurang dari 8 menjadi 7," ujar Gatot.

Pencapaian positif Garuda Indonesia yang berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 20,48juta di kuartal pertama tahun ini, menjadi angin segar bagi pemegang saham. Pasalnya, bila dibandingkan priode yang sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi bersih US$ 65,34 juta. Bahkan pencapaian laba di kuartal pertama tahun ini diklaim terbaik sejak kuartal I-2016.

Analis Mirae Sekuritas, Lee Young Jun mengatakan, membaiknya kinerja GIAA disebabkan oleh hasil kargo dan penumpang masing-masing meningkat 41,0% year on year (yoy) dan 20,4% yoy. Apalagi, pemerintah mengumumkan peraturan penetapan harga baru lewat Peraturan Menteri Perhubungan No. 20/2019 untuk industri penerbangan. Pemerintah merevisi kenaikan harga tiket pesawat dari 30% menjadi 35% dari batas harga.

Badan Usaha MilikNegara (BUMN) kabarnya akan mengkonsolidasikan perusahaan-perusahaan penerbangan. Lee menilai rencana ini merupakan sinyal positif, sebab GIAA bisa menjadi prioritas di antara perusahaan sejenis. Dirinya menambahkan, probabilitas dukungan pemerintah yang lebih tinggi sehingga memungkinkan GIAA untuk membagikan dividen.

Lee dalam risetnya 22 April 2019 meramal sampai dengan akhir tahun ini GIAA dapat mencetakpendapatan sebesar US$ 4,93 miliar. Naik 12,7% di bandingkan pendapatan akhir tahun lalu sebanyak US$ 4,37 miliar. Lee optimistis GIAA dapat meningkatkan kinerja keuangan dan operasional. Untuk itu Lee merekomendasikan beli saham GIAA dengan target harga Rp 690 per saham sampai dengan akhir tahun.

BERITA TERKAIT

Kemenkes Siapkan 6.047 Fasilitas Layanan Kesehatan di Jalur Mudik

    NERACA   Jakarta - Kementerian Kesehatan menyiapkan 6.047 fasilitas layanan kesehatan di sepanjang jalur mudik 2019 untuk memastikan…

Menteri Perhubungan - Mudik Harus Berjalan Lancar dan Aman

Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan Mudik Harus Berjalan Lancar dan Aman Bandarlampung - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan…

Gelar Bazar Lebaran - Pemerintah Terus Dorong Industri Jaga Ketersediaan Pasokan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian senantiasa mendorong sektor industri manufaktur agar siap memenuhi kebutuhan konsumen terutama di pasar domestik selama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…