Perbankan Syariah Satukan Langkah - Hadipi Krisis Global

NERACA

Jakarta—Industri perbankan syariah mencoba menyatukan kekuatan secara bersama-sama guna menghadapi perekonomian global yang makin memburuk. Karena itu diperlukan langkah dan strategi yang tepat. Sehingga dibutuhkan semangat yang sama. “Kalau kita satu ruh atau satu spirit, maka sudah tidak peduli lagi tubuh siapa, tubuh ini, tubuh itu, itu adalah masalah nomor dua," kata Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), A Riawan Amin di Jakarta,21/3.

Menurut Riawan, melalui penyatuan pandangan dari para pelaku industri perbankan syariah, diharapkan menciptakan sebuah kesatuan yang dapat mendukung perbankan syariah ke depannya. “Diharapkan juga ada spirit yang terus berjuang dan ada mekanismenya dalam menjalankannya dengan baik, sehingga memunculkan kesinambungan,” ungkapnya lagi

Lebih jauh kata Riawan, penyatuan pelaku industri perbankan syariah di Indonesia diperlukan agar tantangan ke depan terhadap bank-bank syariah bisa di atasi bersama. “Ini guna menghadapi tantangan yang ada terkait perbankan syariah ke depan”, paparnya

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengaku tetap optimis industri perbankan dari segi aset bisa meningkat menjadi 10% dalam lima tahun mendatang. Saat ini, perbankan syariah baru memegang 4% dari pangsa pasar. “Kalau pertumbuhannya bisa berlanjut seperti sekarang, bukan mustahil dalam lima tahun mendatang pangsa pasar syariah bisa mendekati 10%. Kalau ditambah lima tahun lagi bisa 15%,” ungkap Halim saat membuka Musyawarah Nasional Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Rabu (21/3).

Berdasarkan data BI per Januari 2012, untuk aset bank umum syariah saja terjadi peningkatan nilai aset sebesar 47,43% menjadi Rp 115,296 triliun dibandingkan Januari 2011 sebesar Rp 78,203 triliun. Untuk mencapai target pangsa pasar mendekati 10% dalam lima tahun mendatang, menurut Halim ada beberapa tantangan yang harus dihadapi industri perbankan syariah. Pertama, peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia. Kedua, peningkatan inovasi produk dan layanan yang kompetitif. Ketiga, keberlangsungan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Menyangkut inovasi produk perlu diskusi dengan regulator dan industri. Lebih dilihat lagi skema yang bisa ditawarkan ke masyarakat. Apakah itu kompetitif dari segi biaya? Sebetulnya ada banyak produk perbankan syariah juga yang masyarakat belum banyak tahu. Misalnya, KPR di syariah yang skemanya berbeda dengan bank konvensional,” terang Halim

Menurut Halim, untuk mendorong pangsa pasar semakin besar, BI melihat perlu pula ada insentif. Apalagi industri perbankan syariah masih terbilang baru. Insentif itu bisa dari segi perpajakan maupun aturan penetrasi pasar. “Namun, insentif bukan segalanya. Industri perbankan syariah tetap harus mengembangkan dan meningkatkan produk serta layanannya,” pungkasnya. **cahyo

Related posts