Mengenali Bakteri TBC Resistan Obat

Nana (bukan nama sebenarnya) terduduk lesu. Satu per satu air matanya mulai mengalir dari sudut matanya, dia mengenang hari-harinya. Hari-hari yang masih penuh dengan kesibukan. Tiada hari tanpa aktivitas. Namun apa daya, Nana tak lagi seperti dulu. Dia tak lagi bisa terlalu banyak dan sosialisasi. Ini semua lantaran tuberkulosis yang dideritanya. Hanya saja, tuberkolosis (TB) yang dideritanya bukan jenis biasa, tapi resistan obat (TBC RO). Jenis ini setingkat lebih parah dibandingkan TBC yang banyak dijumpai yakni TBC sensitif (reguler).

"Jadi, kegiatan saya sekarang pengangguran. Biasanya ada kegiatan sekarang kegiatan cuma nongkrong lihat tv, berangkat ke rumah sakit, pulang lemes, makan maksa, tidur susah, apa enak?" katanya sambil berusaha menahan tangis dikutip dari CNN Indonesia.com.

Sudah enam bulan lamanya Nana harus menerima kenyataan. Sesekali, dia menghela napas dan membenahi masker yang tak pernah sekalipun lepas dari wajahnya. Di rumah, Nana kebanyakan berdiam diri di dalam kamar. Dia menjaga jarak dengan tujuh anggota keluarganya yang tinggal bersama di sebuah rumah seluas 72 meter persegi di daerah padat penduduk Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Tak cuma merenggut kesehatan dan aktivitasnya, TBC RO juga merenggut keceriaan dan cengkrama Nana bersama keluarganya. Nana yang dulu gemar bercengkrama dengan dua keponakannya yang masih balita, terpaksa harus menjauh agar tak menularkan penyakitnya kepada orang yang disayanginya. Dia juga harus menjaga jarak dengan ibunya yang sudah berusia senja. Sedih? jangan ditanya.

Tak dimungkiri, balita dan lansia memang merupakan orang yang rentan tertular TBC. Masker yang dipakai pun tak bisa 100 persen jadi cara pencegahan super efektif untuk menjaga keluarga tercintanya tertular.Keluarga yang masih sehat harus melakukan pencegahan ekstra dengan melakukan pengecekan rutin di puskesmas dan cepat memeriksa jika memiliki gejala batuk.

Awal 'Mimpi Buruk'

Perubahan hidup Nana berawal saat musim pancaroba tahun lalu. Kala itu wabah batuk mulai marak, Nana pun ikut tertular walau tak tahu dari mana. Saat itu, Nana mengalami batuk parah yang tak kunjung sembuh lebih dari dua mengganggu hingga membuatnya kehilangan suara. Batuk ini merupakan salah satu gejala TBC, lainnya berupa penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, dan demam.

Nana pun memeriksakan batuk yang tak kunjung sembuhnya itu ke puskesmas. Tes dahak pun dilakukannya. Dia pun dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Nahas, dia pun divonis menderita TBC RO. Nana merupakan satu dari lebih 23 ribu penderita TBC RO di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan. Sementara penderita TBC sensitif mencapa 842 ribu jiwa.

Berbeda dengan pasien TBC RO lain, yang umumnya sudah pernah menderita TBC sensitif/reguler, Nana belum pernah terkena penyakit itu. Namun, pada 2005 lalu, Nana pernah memiliki flek di paru-paru dan pernah mengonsumsi obat yang diperuntukkan untuk TBC sensitif selama satu tahun rutin setiap hari. Kini, saat didiagnosis TBC, tubuh Nana tak lagi bisa menerima obat tersebut karena sudah resistan. Menurut dokter spesialis paru Fathiyah Isbaniah, resistan obat dapat terjadi karena banyak penyebab.
"Bisa karena memang sudah ada resistan, ditambah dengan pengobatan tidak adekuat, tidak minum secara teratur, atau cara minum obat yang salah," kata Fathiyah yang berasal dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI-RSUP Persahabatan.

Fathiyah menjelaskan TBC RO merupakan jenis penyakit TBC yang pasiennya sudah kebal terhadap suatu jenis obat, sehingga harus mengonsumsi obat lain dengan reaksi atau efek samping yang lebih berat.
 Pengobatan TBC RO juga lebih lama ketimbang TBC sensitif yang hanya memakan waktu pengobatan rutin enam bulan dan dapat dilakukan dari rumah saja.

"Kumannya resistan atau lebih bandel, jadi memerlukan obat yang lebih kuat. Karena sudah resisten obat obat, maka diberikan obat lini kedua yang efektivitasnya lebih rendah sehingga harus konsumsi lebih banyak dan lama," tutur Fathiyah.

Setiap hari Nana mesti mengonsumsi obat sebanyak 9,5 tablet. Jumlah dosis tablet ini disesuaikan dengan berat badan dan ketersediaan di rumah sakit. Menurut Fathiyah, semakin berat badan pasien semakin banyak jumlah yang harus dikonsumsi. Seorang pasien TBC RO dapat meminum hingga 20 tablet setiap harinya.

Selain mengonsumsi obat minum, penderita TBC RO juga harus disuntik selama fase pengobatan intensif. Nana yang menjalani pengobatan jangka pendek disuntik selama enam bulan atau hingga bakteri sudah ditemukan negatif.

Minum obat dan suntik ini mesti dilakukan setiap hari tepat di jam yang sama di rumah sakit, berbeda dengan pasien TBC sensitif yang boleh meminum obat di rumah. Pasien TBC RO mesti diawasi lantaran efek samping obat yang tergolong berat.

Saat masuk ke tubuh, Nana mengaku obat itu langsung bereaksi. Dia bisa merasakan obat itu seketika mengocok-ngocok perut hingga membuatnya berkeringat sebesar bulir jagung. "Itu obatnya beneran Astaghfirullah hal adzim, perut seperti dimasak. Benar-benar dahsyat," pungkas Nana sambil memperagakan perutnya yang kesakitan.

Nana juga merasakan badannya dari ujung kepala hingga ujung kaki kepanasan. Dia pun kerap muntah jika sudah tiba di rumah. Reaksi obat ini berbeda-beda tiap orang."Banyak sekali, hampir 90 persen pasien yang minum obat ini mengalami mual dan muntah. Bisa juga telinga berdenging, insomnia, hingga halusinasi," ucap Fathiyah.

Reaksi obat pada Nana terus berlanjut ke malam hari. Dia mengeluarkan keringat malam dan suhu badannya pun meningkat menjadi panas seperti demam. Insomnia karena obat dan juga stres memikirkan penyakit juga dirasakan Nana. "Malam suka susah tidur, saya sendiri di kamar takutnya berhalusinasi atau berpikiran macam-macam, kadang suka ada," ucap Nana.

Konsumsi obat yang cukup banyak dan 'berat' ini pun tak cuma membuatnya mual dan muntah. Beratnya penerimaan obat ke tubuh ini juga tak jarang memengaruhi kondisi psikologis pasien. Pasien TBC RO pun didampingi oleh para perawat. Selain untuk membantu pengobatan, para perawat ini juga berfungsi sebagai teman curhat para pasien, termasuk Nana.

Nana sering curhat kepada perawat di rumah sakit. Dia kerap berkeluh kesah mengenai efek samping obat dan kondisinya dengan suster itu. Para perawat memang bertugas untuk dapat mendampingi pasien TBC."Sering di WA pasien, mengenai kondisi atau efek samping obat," kata penanggungjawab Poli TBC di Puskesmas Warakas, perawat Nur Afrilianti.

BERITA TERKAIT

Olahraga Yang Paling 'Tokcer' Buat Seks Makin 'Hot'

Sudah bukan rahasia lagi jika olahraga bisa membantu menjaga tubuh tetap sehat dan membantu menjaga kehidupan seksual tetap menyala. Bukan…

Infeksi Candida Auris, Jamur Kebal Obat yang Mematikan

Infeksi jamur candida auris semakin mengancam dunia. Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan obat maupun cara yang mampu menangkal infeksi…

Ini Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan

Daun kelor merupakan daun asal India yang telah digunakan sebagai pengobatan tradisional selama ribuan tahun. Daun dengan nama ilmiah moringa…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Olahraga Yang Paling 'Tokcer' Buat Seks Makin 'Hot'

Sudah bukan rahasia lagi jika olahraga bisa membantu menjaga tubuh tetap sehat dan membantu menjaga kehidupan seksual tetap menyala. Bukan…

Infeksi Candida Auris, Jamur Kebal Obat yang Mematikan

Infeksi jamur candida auris semakin mengancam dunia. Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan obat maupun cara yang mampu menangkal infeksi…

Ini Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan

Daun kelor merupakan daun asal India yang telah digunakan sebagai pengobatan tradisional selama ribuan tahun. Daun dengan nama ilmiah moringa…