Bangun Karakter di Keuangan Syariah

Oleh : Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Meski sudah berjalan selama dua dekade lebih keberadaan dari praktik lembaga keuangan syariah (LKS), perbedaan antara lembaga keuangan syariah dan konvensional nyaris hanya sedikit perbedaanya. Bahkan di kalangan masyarakat banyak melihatnya masih sama dari segi pendekatannya. Jika ada perbedaan, hanya pada istilah kosa kata saja seperti bunga diganti dengan nisbah bagi hasil. Sementara, substansi tentang LKS yang memberikan rasa keadilan dan kesejahteraan belum terasa kentara untuk dirasakannya.

Hal inilah yang terkadang menjadikan daya tarik dari LKS belum mampu memberikan jawaban dari kebutuhan masyarakat yang sesungguhnya. Lantas jika demikian apa yang harus dibenahi dalam mengembangkan keuangan syariah sehingga kedepan bisa on the track?

Untuk menjawabnya, kita bisa merunut dari selain keahlian dan profesionalisme dalam mengelola lembaga keuangan, ada yang hal yang palinv penting untuk diketahui oleh para pengelola LKS, yaitu pembangunan karakter dalam mengelola LKS. Pembangunan karakter sangat diperlukan, karena terkait dengan subyek pengelola dari LKS itu sendiri. Mustahil masyarakat bisa membedakan antara keuangan syariah dan konvensional hanya melihat dari aspek produk, akan tetapi dari segi karakter LKS tak tersentuh sama sekali.

Untuk itulah pembangunan karakter dalam pengembangan LKS perlu dilakukan, dengan dimulai dari pemahaman individu para pengelola dalam mengetahui visi dan maqosid al syariah sebagai landasan bermuamalah. Hingga pada corporate culture branding pada institusi. Dengan demikian akan terasa berbeda mana LKS dan konvensional.

Mengembangkan LKS bukan hanya sekedar mencari keuntungan belaka, akan tetapi makna dari sepiritualitas dalam bermuamalah harus selalu dikedepankan agar untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Maka nilai dalam pengembangan LKS harus selalu dikedepankan sebagai bentuk watak dan perilaku profesionalisme yang benar-benar hijrah ke jalan Allah SWT.

Disinilah peran dari Dewan Pengawas Syariah (DPS) harusnya lebih aktif dalam keterlibatan di LKS. DPS bukan hanya dalam kepatuhan syariah saja tapi juga selalu memberikan masukan dan motivasi dalam membangun corporate culture sesuai dengan nilai universal ajaran Islam. Dengan demikian karakter berbisnis secara Islami dan tidak bisa nampak. Hal inilah seyogianya bisa diterapkan di LKS sehingga berinteraksi dengan keuangan syariah bukan bisnis semata, tapi merupakan nilai tambah yang tak dijumpai di lembaga keuangan lainya.

BERITA TERKAIT

Alokasikan Capex Rp 2,5 Triliun - Charoen Pokphand Bangun Dua Pabrik Baru

NERACA Jakarta – Tingkatkan kapasitas produksi pakan, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk berencana membangun dua pabrik baru dengan belanja modal…

Lewat LinkAja, BNI Syariah Incar Fee Based Naik 52%

    NERACA   Jakarta - PT. BNI Syariah mengincar pendapatan berbasis komisi dapat meningkat hingga 52 persen menjadi Rp115…

Bank Jatim Dorong Pembiayaan Rumah Syariah

    NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) melalui Unit Usaha Syariah (UUS)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Teknologi dan Industri di Satu Sistem

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Teknologi dan Industri dalam kesehariannya adalah kosakata netral. Tetapi begitu saling bersenyawa menyatu…

Damai 22 Mei

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tahapan pesta demokrasi akan mencapai klimaksnya pada 22…

Pembiayaan "Back to Back" Syariah

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Di lembaga keuangan syariah ternyata dijumpai istilah pembiayaan "back to back" yaitu pinjaman yang…