Digital Ekonomi di Bawah Jokowi

Oleh: Nailul Huda

Peneliti INDEF

Usai sudah kita menggelar pesta demokrasi terbesar di dunia pada 17 April lalu. Pemilu Presiden pertama yang digabungkan dengan Pemilu Legislatif menjadikan kompleksitas tersendiri dalam pesta demokrasi kita kali ini. Terlepas dari minimnya hiruk pikuk pemilu legislatif, pilpres kali ini memang mengundang perhatian lebih masyarakat karena isu-isu yang digaungkan oleh kedua paslon capres-cawapres pasti dibahas secara nasional. Mulai dari isu hutang, ketahanan pangan, hingga tidak kalah seru adalah isu ekonomi digital. Beberapa kali isu ekonomi digital ini muncul dalam perdebatan capres maupun cawapres. Terkadang memunculkan kata-kata yang mungkin terdengar asing di masyarakat awam seperti Unicorn, infrastruktur langit, e-sport, hingga palapa ring.

Dibandingkan dengan paslon lainnya, paslon nomor 01 Jokowi-Ma’ruf Amin memang sudah menjadikan ekonomi digital menjadi program unggulan mereka. Beberapa kali dalam debat ataupun kesempatan di luar debat, paslon 01 dan tim-nya memaparkan mengenai program-program ekonomi digitalnya. Selain menjaring suara muda dan milenial, program ini juga menunjukkan pasangan ini siap untuk bersaing secara global dengan negara lain karena ekonomi digital merupakan salah satu ekonomi global yang akan sengit persaingannya. Hampir semua negara akan mengembangkan teknologi, baik dalam produksi maupun inovasi untuk memproduksi barang secara lebih efisien dan unggul dalam hal kualitas. Di ASEAN sendiri, Indonesia masih kalah bersaing dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura dalam hal kesiapan teknologi dan inovasi. Bahkan Indonesia terancam dengan perkembangan industri dari Vietnam dan Myanmar.

Memunculkan program digital ekonomi sangat bagus bagi Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih. Terlebih paslon yang terpilih memiliki visi dan misi memajukan Sumber Daya Manusia untuk bersaing di revolusi industri 4.0. Pembentukan SDM berkualitas baik melalui jalur pendidikan maupun pelatihan menjadi kunci dari persaingan di ekonomi digital saat ini. Penawaran tenaga kerja yang berkualitas bagus masih sangat kurang di bidang ekonomi digital seperti Fintech, e-commerce, maupun ekonomi digital lainnya. Maka dari itu penawaran SDM ekonomi digital menjadi sangat penting.

Hal lainnya yang krusial adalah infrastruktur untuk menghadapi persaingan ekonomi digital. Sebagaimana kita ketahui, untuk bersaing di era serba digital sekarang. Kecepatan internet dan keamanan data menjadi isu utama dalam penciptaan infrastruktur. Program palapa ring menjadi andalan utama pemerintah untuk menciptakan internet cepat dan merata di seluruh wilayah. Kepemilikan satelit pribadi juga berguna untuk meningkatkan kecepatan dari internet kita dimana masih jauh di bawah negara-negara maju yang sudah memiliki internet super cepat.

Mudah-mudahan menteri terkait yang terpilih nanti tidak mengulangi kesalahan salah satu menteri era presiden terdahulu yang saat itu pernah mengucapkan “internet cepat buat apa?”.

BERITA TERKAIT

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…

Bank Wakaf Mikro, Apa Kabar ?

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Menjelang akhir 2018, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan program Bank Wakaf…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…