INCO Pangkas Target Bawah Produksi Nikel - Pemeliharaan Larona Canal

NERACA

Jakarta – Mempertimbangkan adanya pemeliharaan Larona Canal Relining, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) merevisi target produksi nikel dari 76.000 ton menjadi 70.000-72.000 ton pada tahun ini. Revisi ke bawah ini sejalan dengan adanya pemeliharaan alat dan hal ini telah berdampak pada penurunan produksi pada kuartal I/2019.

Chief Financial Officer Vale Indonesia, Bernardus Irmanto mengungkapkan dengan target produksi nikel matte pada 2019 sekitar 70.000-72.000 metrik ton, maka setiap kuartal diproyeksikan menghasilkan 17.500-18.000 metrik ton. Namun, realisasi produksi hanya 13.080 metrik ton pada 3 bulan pertama 2019.”Kami melakukan pemeliharaan pada Larona Canal Relining selama 10 pekan, sehingga hal itu berdampak pada penurunan produksi. Pemeliharaan itu juga berlangsung hingga pekan kedua April,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Hal senada juga pernah disampaikan CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia, Nicolas Canter. Disampaikannya, pemeliharaan Larona Canal Relining telah membuat produksi pada kuartal I/2019 lebih rendah 36% dari produksi kuartal IV/2018. Menurutnya, penutupan pabrik dan masalah tungku listrik muncul secara tidak terencana."Sebagai hasil kegiatan ini, kami merevisi target produksi setahun penuh ke kisaran 70.000--72.000 ton per tahun," kata Nicolas.

Perseroan mengungkapkan, bila pemeliharaan Larona Canal Relining rampung, produksi kuartal selanjutnya diyakini bakal lebih tinggi dari kuartal I/2019. Maka untuk mencapai target, perseroan bakal mengincar produksi sekitar 19.000-20.000 pada kuartal ketiga dan keempat 2019.

Sepanjang tahun 2018 kemarin, Vale Indonesia membukukan pendapatan sebesar US$776,9 juta atau tumbuh 23,45% secara tahunan. Adapun laba bersih yang dibukukan mencapai US$60,51 juta, setelah pada 2017 mencatatkan rugi bersih US$15,27 juta. Pada tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal senilai US$165 juta atau hampir dua kali lipat dari 2018 yang sebesar US$83 juta. Peningkatan belanja modal sejalan dengan besarnya kebutuhan investasi perseroan.

Perseroan juga memutuskan tidak membagikan dividen untuk laba kinerja keuangan 2018 sekitar US$ 60 juta, lantaran tahun ini ada kebutuhan capital yang cukup besar dibandingkan dengan tahun lalu. Saat ini, perseroan tengah membidik pengembangan proyek besar yakni pengembangan smelter feronikel di Bahadopi, Sulawesi Tengah dan smelter nikel di Pomala, Sulawesi Tenggara. Perseroan menyebut proyek tersebut sedang dalam proses negosiasi final.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Kapasitas Produksi - Impack Anggarkan Capex Rp 188 Miliar

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) tahun ini menyiapkan belanja modal sebesar Rp 188…

Permintaan Pasar Meningkat - Produksi Batu Bara Golden Energy Tumbuh 45%

NERACA Jakarta – Kuartal pertama 2019, PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) membukukan pertumbuhan produksi batu bara 45%. “Produksi batu…

PG Rendeng Kudus Targetkan Produksi Gula 12.700 Ton

NERACA Jakarta – Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus, Jawa Tengah, pada musim giling 2019 menargetkan tingkat produksi gula sebanyak 12.700…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…