CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA

Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat minuman oplosan. Walaupun tidak secara langsung berdampak pada angka korban minuman oplosan, keberadaan PLB akan membuat para importir menaikkan harga jual minol tersebut akibat munculnya biaya tambahan.

Peneliti Cente for Indonesian Policy Studies (CIPS) Mercyta Glorya Jorsvinna mengatakan, penerapan sistem satu pintu dalam peredaran minuman beralkohol wajib dipertanyakan keabsahannya, mengingat hal ini sangat merugikan untuk pengusaha-pengusaha minol yang sudah terdaftar dan memiliki izin. Pasalnya, PLB hanya ada di Jakarta. Hal ini membuat pengusaha-pengusaha minol yang berada di luar Jawa, Bali contohnya, tidak bisa mendapatkan minol impor yang mereka mereka pesan dari pelabuhan terdekat, dan harus menunggu proses pengiriman dari Jakarta yang memakan waktu yang lebih lama.

Belum lagi besaran biaya perjalanan tambahan yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan produk minol impor tersebut. Pastinya, pengusaha-pengusaha akan menaikan harga minol impor tersebut untuk menutupi biaya perjalanan yang jauh lebih panjang dari sebelumnya, sebelum sistem PLB belum diimplementasikan. Hal ini akan berdampak kepada konsumen, karena harga minol menjadi jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

“Regulasi untuk minuman beralkohol yang legal sudah banyak diterapkan. Hal ini dikhawatirkan akan membuat konsumen, terutama yang berasal dari kalangan bawah, beralih ke minuman oplosan yang efeknya justru lebih berbahaya kepada kesehatan. Risiko untuk kehilangan nyawa jauh lebih besar. Kita tidak bisa menahan orang untuk minum. Kalaupun minum, seharusnya mereka diarahkan untuk mengonsumsi minuman beralkohol yang legal yang lebih aman daripada oplosan,” jelas Mercyta, disalin dari siaran resmi.

Pemerintah memberlakukan kebijakan tambahan terkait dengan peredaran minuman beralkohol. Setelah minol impor sampai di pelabuhan-pelabuhan yang ditunjuk pemerintah, yakni; Pelabuhan Laut Belawan di Medan, Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya, Bitung di Bitung, dan Soekarno Hatta di Makassar serta pelabuhan udara internasional, minuman alkohol wajib dikirim ke PLB, sebelum akhirnya minuman beralkohol didistribusikan lebih lanjut ke pedagang dan dijual.

Penelitian dari Center for Indonesian Policy Studies menemukan fakta bahwa tingginya harga alkohol memiliki dampak negatif, karena masyarakat golongan menengah ke bawah akan mencari alternatif minuman yang lebih murah dan lebih mudah didapat. Padahal efek minuman oplosan jauh lebih berbahaya dan mematikan.

Jumlah konsumen maupun volume konsumsi alkohol di Indonesia termasuk yang paling kecil di dunia. Berdasarkan data WHO, konsumsi alkohol legal di Indonesia sebesar 0,6 liter per kapita per orang per tahun. Namun jumlah konsumsi minuman oplosan dan alkohol illegal berjumlah lima kali lebih besar dari angka tersebut.

BERITA TERKAIT

KKP Sebut Teknologi RAS Dorong Produksi Benih Gurame

NERACA Jakarta – Jika dikomparasi dengan sistem konvensional, pendederan ikan gurame dengan teknologi Recirculation Aquaculture System (RAS) dapat meningkatkan padat…

Optimalkan Penjualan Lewat Digital - MAPA Targetkan Kontribusi Bisa Sampai 5%

NERACA Jakarta – Memanfaatkan pertumbuhan digital saat ini, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) akan mulai menggenjot penjualan digital di…

Gandeng Kerjasam Baznas - SIMAC Berdayakan Umat Lewat Festival Kopi

Berbagi keberkahan di bulan Ramadhan, Santri Millenial Center (SIMAC) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengadakan festival kopi di Plaza…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Pasar Murah Efektif Jaga Stabilisasi Harga Kebutuhan Pokok

NERACA Jakarta – Kepala Perum Bulog Divisi Regional Aceh Sabaruddin Amrullah menyatakan pasar murah yang digelar di seluruh kabupaten/kota di…

Kebutuhan Pokok - Kemendag Catat Pemintaan Sembako Naik Hingga 20% Saat Ramadhan

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut permintaan bahan pokok atau sembako meningkat sekitar 10 persen hingga 20 persen saat…

RI Mendorong Penguatan Sistem Perdagangan WTO

NERACA Jakarta – Indonesia mendorong penguatan sistem perdagangan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang disampaikan melalui Pertemuan Menteri Perdagangan Asia-Pacific Economic…