AS Yakin Indonesia Kuat Tahan Krisis

NERACA

Jakarta –Banyak kalangan meyakini Indonesia mampu menghadang efek krisis ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika saat ini. Alasanya, perbankan dan pasar modal Indonesia kondisinya sehat. "Ekonomi Indonesia stukturnya kuat, mulai dari pertumbuhan investasi, pasar modal dan perbankan di Indonesia kondisinya sehat, dan tentunya akan kuat menghadapi krisis ekonomi di eropa dan amerika," kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dari Universitas Chicago Booth Scohool of Business, Randall Krozner di Jakarta,20/3

Menurut Randall, adanya koreksi terhadap target pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap krisis ekonomi tersebut hanya sedikit yakni 0,2%. "Koreksi target pertumbuhannya kecil dari 6,7% menjadi 6,5%, sementara efek krisis di negara besar di Asia cukup besar, seperti China yang mengoreksi pertumbuhan ekonominya dari 8% menjadi 7,5%," tanbahnya

Namun demikian Randall mengakui bukan berarti Indonesia sama sekali tak kena dampak krisis di Amerikan dan Eropa. "Pasar ekspor, ya pasar ekspor Indonesia akan cukup terkena dampak, tapi kebijakan-kebijakan negara yang diambil mampu meredam dampak tersebut, bahkan saya yakin investasi di dalam negeri akan tetap tumbuh signifikan akan banyak pemodal asing masuk ke sini," ucapnya.

Randall menambahkan apalagi dengan berbagai kenaikan peringkat investasi sementara beberapa negara lain turun di saat krisis ekonomi ini akan memancing investasi asing lebih tinggi lagi.

Ditempat terpisah, Analis Sucorinvest Central Gani, Pang Tek Djen memprediksi minimnya sentimen positif dan peringatan IMF atas melambannya pertumbuhan ekonomi regional membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan Selasa berakhir di zona negatif. Malah secara teknikal IHSG bergerak "mixed" dengan kecenderungan melemah. "Peringatan IMF atas risiko melambannya pertumbuhan ekonomi negara berkembang dan penurunan tajam harga rumah di China memberikan sentimen pada indeks," kata Pang dalam risetnya.

Tercatat sektor saham yang mengalami penurunan antara lain sektor aneka industri sebesar 0,8 persen, industri dasar sebesar 0,4% dan manufaktur sebesar 0,2%, sedangkan sektor saham yang mengalami penguatan antara lain sektor perkebunan sebesar 0,4 persen, infrastruktur 0,3 persen dan perdagangan 0,1%.

Pada penutupan perdagangan sesi I Selasa, IHSG melemah 8,13 poin (0,20 persen) ke level 4.016,60. Untuk indeks saham unggulan LQ45 merosot 2,48 poin (0,36 persen) ke level 691,54. Perdagangan pada sesi pertama Selasa ini berjalan dengan frekuensi transaksi mencapai 48.377 kali dengan volume 1,403 miliar lembar saham. Sebanyak 93 saham naik, 92 saham turun dan sisanya 117 saham stagnan.

Untuk saham yang mengalami penurunan antara lain PT Astra International Tbk (ASII) yang merosot Rp700 menjadi Rp69.800, PT Indo Tambangraya Raya Tbk (ITMG) turun Rp600 menjadi Rp41.550 dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) melemah Rp400 menjadi Rp52.500. **cahyo

Related posts