"Target" Inflasi 5,3% Pesimis Tercapai

Kamis, 10/03/2011

“Target” Inflasi 5,3% Pesimis Tercapai

Jakarta—Pemerintah mengakui kesulitan mencapai target inflasi sebesar 5,3%. Meski pada tiga bulan ke depan terbuka kemungkinan deflasi. Alasannya tekanan inflasi pada Pebruari kemarin meningkat. "Pada Februari ada kenaikan tipis, tapi Maret-April ini, kita bisa berharap turun atau katakanlah ada deflasi, saya kira 5,3% tetap berat," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di Jakarta,9/3.

Diakui Rusman, tiga bulan kedepan merupakan kesempatan pemerintah untuk bisa memperbaiki agar tekanan inflasi tak meninggi. Bahkan bisa mengarah terjadinya deflasi, karena setelah tiga bulan ini tekanan inflasi cenderung menguat. "Sebenarnya tiga bulan ini diharapkan ada deflasi, setelah itu perhitungan kita lebih banyak inflasi daripada deflasi," tambahnya.

Lebih jauh kata Rusman, memang target angka 5,3% yang menjadi asumsi inflasi pemerintah bukan saja akan sulit tercapai..Namun karena Pebruari, harga pangan dunia masih tinggi. Sehingga mempengaruhi tekanan inflasi di dalam negeri.

Hanya saja, lanjut Rusman, BPS belum berani mengatakan jika asumsi pemerintah terkiat target angka inflasi harus direvisi. Alasannya saat ini akan masih banyak hal yang terjadi menjelang April ini. "Semua berharap 5,3% bisa dicapai kan gitu. Tapi saya enggak bisa katakan tercapai apa enggak sebelum melihat kejadian sampai April ini, maksudnya nanti kita lihat lagi apakah 5,3% ini masih relevan," paparnya.

Menyinggung soal kebijakan pembatasan BBM bersubsidi, Rusman menyarankan sebaiknya kebijakan tersebut dilaksanakan sebelum Juni 2011. Apapun opsi yang akan diambil pemerintah lebih baik diterapkan sebelum Juni. Berdasarkan data BPS bulan inflasi rendah hanya mencapai Mei. Sedangkan untuk bulan-bulan mendatang sudah memasuki semester baru. "Bulan inflasi rendah itu ya sampai Mei, Juni itu kita sudah dihadang anak sekolah, Juli sudah puasa lagi," tandasnya.

Namun dia menilai, jika momen yang paling tepat yakni pada April karena itu meruakan bulan panen raya yang sedang berlangsung. "Iya itu pas April, petani juga lagi happy panen, harga gabah di atas HPP, kan enak," jelasnya.

Menanggapi peryataan pemerintah yang kemungkinan akan menunda pembatasan BBM bersubsidi menjadi Juli, Rusman mengatakan pemerintah salah memilih momen. Pasalnya pada bulan tersebut tengah berlangung bulan Ramadan. "Juli sudah puasa, tambah repot itu," ungkap Rusman.

Ditambah lagi, ujar Rusman, pelaksanaan kebijakan pembatasan pada September justru bisa menimbulkan kepanikan. Karena bulan itu mendekati Idul Fitri. Sehingga bisa memancing gejolak social. “Apalagi ke depannya (bulan September), sudah Lebaran. Orang mau pulang kampung, isi bensin saja enggak kuat buat motornya," tambahnya.

Namun ketika dikonfirmasi apakah pemerintah tidak boleh melakukan penundaan pembatasan BBM bersubsidi, dirinya hanya berujar singkat tidak tahu, "Ya enggak tahu saya," imbuhnya. **cahyo