Peluang Sri Mulyani Masih Imbang - Terkait Bursa Presiden Bank Dunia

NERACA

Jakarta - Peluang Sri Mulyani menduduk Presiden Bank Dunia masih imbang. Alasannya Amerika Serikat dan China sebagai pemegang saham terbesar memiliki kepentingan melalui Bank Dunia. Artinya, AS belum rela melepaskan jabatan itu. "Peluangnya 50-50, karena saya belum tahu sih karena China juga memiliki porsi kepemilikan yang lebih besar dan pasti akan mengajukan nama, Amerika juga tidak mau kehilangan powernya karena Bank Dunia begitu penting, untuk memengaruhi di negara-negara berkembang, kalau eropa sudah dapat IMF," kata Ekonom UGM Anggito Abimanyu saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (20/3/2012).

Untuk itu, lanjut Anggito, agar posisi Sri Mulyani menjadi kuat maka diperkukan dukungan penuh dari negaranya yang merupakan anggota dari Bank Dunia. Karena itu pemerintah mestinya berani mencalonkan Sri Mulyani secara resmi. Sehingga dukungan itu menambah keyakinan untuk mantan Menkeu tersebut. "Rules baru bisa dicalonkan siapa saja, masalah nasionalitas tidak ada, tapi yang memilih adalah negara anggota tergantung kuotanya. Indonesia harus mengusulkan Sri Mulyani, ngapain orang lain, tidak ada lagi, lagian dia juga sudah di sana," tandasnya.

Namun Dosen DE UGM ini menambahkan Sri Mulyani Indrawati bisa membawa angin perubahan yang cukup signifikan jika memang terpilih menjadi bos Bank Dunia. "Perubahan kepada image bank dunia yang disetir oleh pemegang saham dan orientasinya lebih ke negara berkembang," ujarnya.

Selain itu, lanjut Anggito, kepemimpinan Sri Mulyani dapat memberikan garansi mengenai pembiayaan di Indonesia. Bahkan Indonesia ke depan makin bisa dipercaya para investor. "Tidak hanya mengenai bantuan teknis, bantuan-bantuan pemikiran-pemikiran dan juga memberikan garansi kepada Indonesia yang sudah masuk investment grade, supaya bisa menjadi negara yang dipercaya," ungkapnya.

Pasalnya, lanjut Anggito, meskipun dari sisi pinjaman, dana dari ADB dan Bank Dunia sudah tidak relevan lagi karena tingginya bunga pinjamannya. Apalagi Indonesia sudah masuk dalam kategori investment grade. "Jadi fungsi garantor, bahwa ekonomi kita stabil, tapi dari sisi pemberian pinjaman, ADB dan Bank Dunia menjadi tidak relevan karena kita sudah masuk investment grade untuk mendapatkan dana dari pasar, tapi kalau pasarnya tidak ada karena krisis, jadi Bank Dunia bisa menjadi pengganti," imbuhnya

Sebelumnya, Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani belakangan disebut-sebut bisa menjadi Presiden Bank Dunia. Sri Mulyani bisa bersaing dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Selain itu, nama Sachs muncul setelah ia meminta dukungan kepada negara-negara berkembang dunia. Jeffery sudah secara terang-terangan mengatakan mengincar posisi tertinggi Bank Dunia tersebut.

Sachs mengaku sudah berbicara kepada para pemimpin dunia dari negara berkembang untuk meminta dukungan seperti Kenya, Malaysia, dan Namibia. **cahyo

Related posts