Sentimen Pelaku Pasar

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Pesta demokrasi memberikan pengaruh terhadap kondisi perekonomian dan karenanya kini pasar menunggu respons pesta demokrasi. Begitu juga sebaliknya, kepastian hasil pesta demokrasi memberikan pengaruh positif terhadap kepastian berusaha. Oleh karena itu sinergi dari ekonomi politik terhadap pesta demokrasi menjadi sangat menarik dikaji. Paling tidak investor dan pelaku pasar modal merupakan pihak yang berkepentingan dari hajatan pesta demokrasi. Terkait ini, penutupan IHSG pada 12 April kemarin melemah di level 6.405,866 dan di awal April 2019 transaksi harian BEI mencapai Rp.8,7 triliun. Pada awal Januari 2019 IHSG dibuka pada 6.197,87 atau menguat 7,23 poin dibanding penutupan akhir 2018 yaitu 6.194,50. Sayangnya penutupan perdagangan di Januari 2019 melemah menjadi 6.181,17.

Meskipun reaksi pasar tidak mencerminkan secara utuh ekspektasi pasar, namun secara riil diakui bahwa pesta demokrasi tidak bisa terlepas dari kepentingan banyak pihak. Hal ini menegaskan bahwa sikap wait and see menjadi barometer terhadap nilai keberhasilan pesta demokrasi. Selain itu, yang juga menarik dicermati meskipun kali ini ada dua pesta demokrasi yaitu pilkada pada 2018 dan pileg dan pilpres di tahun 2019 tapi keberhasilan dari pilkada serentak menjadi acuan terhadap keberhasilan pilpres. Oleh karena itu pasar sebenarnya menunggu reaksi dan kemudian menciptakan ekspektasi terhadap pilpres.

Kepentingan

Mengacu data IHSG bahwa pesta demokrasi cenderung menciptakan stimulus terhadap laju indeks itu sendiri. Artinya, secara historis hajatan pesta demokarsi memicu sentimen positif terhadap pasar. Bahkan, aksi profit taking biasanya mewarnai lantai bursa selama momen pesta demokrasi. Oleh karena itu sangat beralasan jika sejumlah pengamat justru meminta investor untuk berhati-hati agar tidak terjebak profit taking dengan cenderung memanfaatkan waktu sesaat.

Keyakinan ini diperkuat dengan bukti bahwa dalam pemilu 2004 dan 2009 ternyata diikuti dengan kenaikan indeks. Bahkan, dalam pesta demokrasi kali ini ternyata pergerakan indeks mendekati 6.200. Artinya, harapan pasar terhadap era baru karena akan terjadi pergantian rezim (jika Prabowo menang) dan periode kedua (jika Jokowi menang) memberikan stimulus terhadap pasar dan ini tentu harus terus didukung agar sentimen positif pra pesta demokrasi terus berlanjut pasca hajatan akbar 5 tahunan ini atau paling tidak sampai akhir tahun 2019.

Mencermati perilaku pasar dan ekspektasi terhadap pesta demokrasi maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap pesta demokrasi di republik ini. Hal ini juga didukung dengan fakta pada dua pesta demokrasi sebelumnya yaitu pada tahun 2004 saat SBY bersanding dengan JK ternyata respons pasar cukup bergairah dan hal ini diikuti dengan keberhasilan IHSG membukukan return 41,8 persen untuk setahun pasca pelantikan SBY-JK. Tentunya ini momen terbaik karena waktu itu juga ditandai dengan pergantian rezim dan hal ini juga terjadi di periode pesta demokrasi 2014 ketika Jokowi menggantikan rezim SBY.

Yang menarik dicermati bahwa pada pilpres 2004 ternyata sejumlah sektor memberikan kontribusi yang cukup signifikan karena diatas IHSG, misal sektor finansial 81,3 persen, properti dan konstruksi 61,9 persen, perkebunan 58 persen, industri lain-lain 56 persen, dan industri dasar 52,3 persen. Meski demikian, sektor lain yang cenderung berkinerja kecil misal pertambangan 41,5 persen, perdagangan 17,9 persen dan juga konsumsi 11 persen. Fakta ini semakin menguatkan bahwa ekspektasi pasar terhadap pesta demokrasi cenderung positif dan waktu itu sosok SBY benar-benar memberikan harapan dan hal ini juga dialami Jokowi saat ini. Artinya, sentimen dari publik cenderung merespons positif terhadap pencapresan Jokowi - Prabowo dan karenanya sangat beralasan jika kemudian muncul hipotesa tentang efek Jokowi – Prabowo dan semua tentunya berharap agar efek Jokowi – Prabowo tidak sesaat. Oleh karena itu, respons pasar justru ingin melihat pasca hasil pilpres yaitu apakah benar mendukung terhadap daya tarik Jokowi atau justru sebaliknya.

Data yang sama juga terjadi pada pesta demokrasi di tahun 2009 yang waktu itu ditandai dengan tampilnya duet SBY - Boediono. Tim ekonomi dibawah asuhan Boediono konon menjadi pemicu kuat dari respons pasar yang sangat luar biasa. Bahkan, IHSG waktu itu mencatatkan return 148 persen. Fakta ini sangat menarik dicermati karena pada saat itu pasar modal AS sedang terkena imbas sementara sejumlah sektor di pasar modal dalam negeri justru menunjukan trend perbaikan misalnya sektor pertambangan 130 persen dan sektor konsumsi 106 persen. Artinya, dua kali pesta demokrasi terakhir memberikan sisi penting terkait wacana pesta demokrasi terhadap keyakinan publik, termasuk juga aspek ekspektasi pasar yang cenderung positif.

Komitmen

Kelompok optimistis menegaskan mengacu trend pesta demokrasi yaitu di April 1999 IHSG naik 25,8% dan di 2004 naik sedikit 6,5%, begitu juga pada pesta demokrasi di tahun 2009 dan 2014 maka bisa disimpulkan jika pesta demokrasi tidak ada keributan dan berjalan tenang maka ekspektasi IHSG pada tahun ini dapat menembus diatas 7.000. Keyakinan ini juga didukung oleh pergerakan IHSG di awal April 2019. Selain itu bursa regional nampaknya juga mendukung terhadap kondisi makro ekonomi sehingga tidak ada alasan untuk khawatir terhadap pesta demokrasi. Meskipun demikian, investor dan pelaku pasar tetap harus mewaspadai profit taking. Artinya, kalkulasi diatas kertas dapat menjadi acuan meski realitasnya tetap harus diperhatikan karena sebelum hari H pada 17 April semuanya masih bisa terjadi dan semua pasti menunggu hasil pencoblosan besok.

Terlepas dari kalkulasi matematis dan data trend IHSG selama pesta demokrasi, hajatan lima tahunan pesta demokrasi tetap menarik dicermati karena terkait dengan banyak hal, termasuk misalnya bagaimana reaksi pasar dan juga bagaimana sentimen investor. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika publik tetap harus mewaspadai semua hal yang dapat terjadi. Artinya, investor dan pelaku pasar tetap harus bijak mencermati segala potensi di hajatan pesta demokrasi, termasuk dampak negatif sekecil apapun.

Hal ini memberikan gambaran bahwa iklim sospol memang sangat penting mempengaruhi kinerja ekonomi. Bahkan pra dan pasca pesta demokrasi tentu harus diwaspadai karena ini terkait berbagai aspek, termasuk yang paling penting adalah memacu daya saing. Belajar bijak dari pesta demokrasi dan sinergi terhadap iklim sospol maka ekspektasi terhadap pesta demokrasi memang harus ditingkatkan. Paling tidak ini memberikan stimulus terhadap kepercayaan pasar dan jika stimulus ini berhasil tentu akan berpengaruh terhadap jaminan stabilitas sospol. Artinya, semua berharap pesta demokrasi berjalan lancar.

BERITA TERKAIT

Pasar Murah Efektif Jaga Stabilisasi Harga Kebutuhan Pokok

NERACA Jakarta – Kepala Perum Bulog Divisi Regional Aceh Sabaruddin Amrullah menyatakan pasar murah yang digelar di seluruh kabupaten/kota di…

Geliat Semen Pasca Pilpres - Indocement Bidik Pertumbuhan Pasar 5%

NERACA Jakarta – Ditetapkan rekapitulasi hasil pemilu presiden (Pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menetapkan Joko Widodo dan Maaruf…

Redam Kepanikan Pelaku Pasar - BEI Pastikan Sudah Miliki Protokol Krisis

NERACA Jakarta – Menjelang penetapan pemengangan pemilu presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei mendatang, memberikan situasi politik…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Persatuan Wujud Kemenangan Bersama Seluruh Warga Bangsa

  Oleh : Rahmat Ginanjar, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Pada 21 Mei dinihari merupakan hari dimana pengumuman resmi dari KPU telah…

Mengawal Kontribusi Pajak untuk Menjadi Manfaat

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak Berbagai upaya mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan di tahun 2019, pemerintah…

Diperlukan Konsolidasi Nasional, Segera!

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Sudah terlambat untuk saling menyalahkan. Begitu juga sudah bukan merupakan penyelesaian dengan mengatakan pelaku kerusuhan adalah…