Alasan Efisiensi, Kimia Farma Ingin Aksi Korporasi Bersamaan

Neraca

Jakarta - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengharapkan penerbitan saham baru (rights issue) tidak mempengaruhi jalannya akuisisi 100% saham milik PT Indofarma Tbk (INAF) yang direncanakan bisa dilakukan secara bersamaan.

Direktur Utama Kimia Farma Syamsul Arifin mengatakan, aksi korporasi yang besar ini diharapkan tidak mengganggu aksi yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk efisiensi dan langkah yang cepat,”Kalau mau gabung dulu tidak masalah. Tetapi kalau mau `rights issue` juga tidak apa-apa. Namun, kalau dilakukan bersamaan akan lebih baik," katanya di Jakarta, Selasa (20/3).

Menurutnya, perseroan telah memasukkan dokumen rencana "rights issue" dan akuisisi saham publik milik Indofarma kepada DPR. Nantinya, Kimia Farma akan menerbitkan saham baru sekitar 20% dengan dana yang diperoleh sekitar Rp700 miliar.

Pengambilalihan saham publik milik Indofarma ini dilakukan menyusul rencana penggabungan ke dua perusahaan farmasi tersebut. Saat ini, pemegang saham publik Indofarma sebanyak 19,32%, sedangkan pemerintah menguasai 80,66%.

Kata Syamsul, keputusan rights issue ini tunggu izin DPR. Begitu juga dengan `regrouping. Selain itu, rencana rights issue dapat dilakukan pada semester I-2012. Hal ini sehubungan dengan kondisi "January Effect" yang akan berdampak pada rencana aksi korporasi tersebut.

Sebelumnya terbit Keputusan Menteri Koordinasi Selaku Ketua Komite Privatisasi Perusahaan Perseroan No. KEP-06/M.EKON/01/2012 tanggal 31 Januari 2012 yang di dalam lampiran butir ke-5 menyatakan bahwa rights issue Kimia Farma disetujui maksimal 20% dengan terlebih dahulu pengalihan saham negara pada Indofarma kepada Kimia Farma.

Sementara itu, Deputi Menteri BUMN bidang Privatisasi dan Perencanaan Strategis Pandu Djajanto menegaskan Kimia Farma melakukan rights issue dahulu. Kemudian dana dari "rights issue" itu dipergunakan untuk mengambil 100% saham Indofarma, baik yang dikuasai publik maupun pemerintah.

Selain itu, sepanjang tahun 2011 perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp3,48 triliun. ”Kontribusi kami 70% masih mengandalkan industri dan 30% dari anak usaha,"ungkap Syamsul.

Sementara itu, jika melihat laba bersih 2011 setelah audit perusahaan berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp171 miliar. Selanjutnya, laba kotor perusahaan tercatat sebesar Rp1,138 triliun.

Disamping itu, perseroan akan membangun rumah sakit bekerjasama dengan PT Prakarsa Transforma Indonesia. Pembentukan tersebut akan menjadi anak usaha dengan nama PT Kimia Farma Hospital. Nilai investasi RS tersebut menelan biaya Rp280 miliar yang berasal dari 70% pinjaman bank dan 30% equity perusahaan. Nilai Rp 280 miliar tersebut belum termasuk tanah, sebab tanah merupakan aset yang sudah dimiliki perusahaan. (bani)

Related posts