Terdistorsinya Ruang Pasar yang Luas

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Ruang pasar (market space) adalah ruang "tanpa batas" secara ketika the world is flat. Ruang pasar yang di stigma tanpa batas tersebut, pada kenyataannya terlalu banyak dibangun tembok-tembok pembatas untuk melindungi kepentingan nasionalnya masing-masing negara yang berdaulat secara politik maupun ekonomi.

Akibatnya, konsep market driven harus dikontrol melalui mekanisme state driven ketika pasar terbukti gagal bekerja (market failure). Dan negara sejatinya menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk mengurangi segala belitan yang kini banyak terjadi di ruang pasar global

Dunia yang flat hakikatnya adalah ruang pasar milik dunia, dan menjadi tempat bernaung bagi para pelaku pasar dan konsumen sejagat raya ini berburu manfaat secara ekonomi, sosial dan politik untuk membangun kemakmuran bangsanya.

Namun, ruang pasar yang sangat luas bentangannya tersebut kini menjadi pasar yang tidak mampu lagi menjadi market driven karena sudah terlalu distortif sehingga WTO menyatakan bahwa pada tahun 2019 ini, perdagangan dunia hanya akan mampu tumbuh 2,6%.

Sementara itu, IMF juga mengoreksi bahwa pertumbuhan ekonomi global dari 3,9% menjadi 3,7% pada tahun ini. Supply side-nya pasti akan mengalami gangguan sehingga pemerintah di semua negara harus berusaha keras untuk menyelamatkan perekonomiannya masing-masing dengan menghadirkan mekanisme state driven.

Jadi, apa yang dihadapi oleh dunia dewasa ini adalah menjadi sebuah fakta bahwa globalisasi dan liberalisasi tidak berhasil menciptakan ruang pasar yang bebas diakses oleh para pelaku pasar karena di setiap ruang pasarnya telah dikapling-kapling lapaknya oleh kekuatan korporatokrasi untuk mengamankan lapaknya di setiap ruang pasar yang sudah dikuasainya dengan susah payah. Dinamika ini yang menyebabkan perdagangan multilateral menjadi kehilangan marwahnya.

Pernyataan WTO bahwa perdagangan global tahun ini hanya akan tumbuh 2,6% adalah bed news dan menjadi bukti bahwa sistem multilateral dalam perdagangan internasional menjadi tidak efektif, dan kemudian berkembang FTA-FTA dimana-mana secara regional untuk menyelamatkan agar perdagangan antar negara tidak mengalami stagnasi.

Jika sampai terjadi stagnasi, maka sistem yang ada di supply side akan mengalami gangguan hebat. Pengangguran terbuka terjadi dimana-mana, daya beli secara agregat akan rontok, utang tak terbayar, kerusakan lingkungan tidak bisa dipulihkan, tabungan dan cadangan devisa akan terkuras habis untuk memitigasi berbagai risiko ekonomi dan bahkan politik.

Pada ujungnya, semua akan berakhir dengan terjadinya krisis ekonomi atau depresi ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1929/1930. Fenomena ini menjadi menarik ketika kita dari waktu ke waktu disuguhi sebuah berita bahwa pertumbuhan ekonomi global melambat. Ya pasti melambat karena memang diperlambat oleh tiga sektor kekuatan utamanya, yaitu ekspor, impor dan investasi.

BERITA TERKAIT

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…