The Fed Prediksi Tak Ada Kenaikan Suku Bunga

NERACA

Washington - Federal Reserve AS atau The Fed kemungkinan akan membiarkan suku bunga tidak berubah tahun ini, mengingat sejumlah risiko bagi ekonomi AS dari perlambatan global serta ketidakpastian kebijakan perdagangan dan kondisi keuangan, menurut risalah dari pertemuan kebijakan 19-20 Maret. Bank sentral AS itu masih berputar secara tiba-tiba pada pertemuan ke posisi yang jauh kurang agresif, dan risalah yang dirilis pada Rabu (10/4) menunjukkan para pembuat kebijakan setuju untuk "bersabar" untuk mengambil langkah apa pun terhadap suku bunga.

"Mayoritas peserta berharap bahwa evolusi prospek ekonomi dan risiko-risiko terhadap prospek kemungkinan akan menjamin mempertahankan kisaran target (suku bunga) tidak berubah untuk sisa tahun ini," menurut risalah tersebut, sebagaimana dikutip dari kantor berita Antara, kemarin.

Para gubernur bank sentral AS juga memperdebatkan kemungkinan langkah kebijakan yang dapat dilakukan The Fed setelah mereka mengakhiri program pengurangan neraca pada September, dengan beberapa menganjurkan pembelian sekuritas surat utang negara AS pada saat itu. Reaksi pasar keuangan terhadap rilis risalah pertemuan kebijakan Maret sebagian besar redup. Saham-saham AS sedikit berubah dan imbal hasil (yield) surat utang negara bergerak naik dari level terendah hari itu

Beberapa pembuat kebijakan mengatakan mereka mungkin berubah pikiran tentang apakah langkah Fed selanjutnya adalah menaikkan atau menurunkan suku bunga. "Beberapa peserta mencatat bahwa pandangan mereka tentang kisaran target yang tepat untuk suku bunga federal fund bisa bergeser ke arah mana pun berdasarkan data yang masuk," menurut risalah.

Namun begitu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Federal Reserve (Fed) harus menurunkan suku bunga dan mengejar kebijakan "pelonggaran kuantitatif" (quantitative easing) untuk meningkatkan ekonomi Amerika Serikat. "Saya pribadi berpikir The Fed harus menurunkan suku bunganya. Saya pikir mereka benar-benar memperlambat kami. Tidak ada inflasi," kata Trump kepada wartawan.

Presiden juga menyarankan bank sentral untuk mengejar pelonggaran kuantitatif, sebuah strategi yang digunakan setelah terjadi krisis keuangan satu dekade lalu, yang melibatkan pembelian triliunan obligasi pemerintah dan sekuritas yang didukung hipotek. Trump telah berulang kali mengkritik kenaikan suku bunga The Fed tahun lalu, dan dilaporkan bahkan telah membahas pemecatan Ketua Fed Jerome Powell bulan lalu. The Fed menyetujui empat kenaikan suku bunga pada 2018, melanjutkan langkah menuju normalisasi kebijakan yang dimulai pada 2015.

Pada Maret, The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah setelah mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari, dan sekali lagi berjanji untuk bersabar dengan kenaikan suku bunga di masa depan. The Fed juga mengatakan akan mengakhiri limpasan atau pengurangan neracanya pada akhir September. The Fed mulai secara bertahap mengurangi portofolio efek dan obligasi yang didukung hipotek pada Oktober 2017 dengan membiarkan sekuritas jatuh tempo tanpa menginvestasikan kembali hasilnya, yang disebut "pengetatan kuantitatif" (quantitative tightening). The Fed telah memangkas neracanya dari posisi tertingginya sebesar 4,5 triliun dolar AS menjadi 4,1 triliun dolar AS saat ini.

Menurut data dari Departemen Perdagangan AS, produk domestik bruto riil meningkat 2,9 persen pada 2018, sedikit di bawah target pertumbuhan tahunan 3,0 persen administrasi Trump. Dalam proyeksi ekonomi terbaru yang dirilis pada Maret, The Fed memotong perkiraan pertumbuhan ekonomi AS pada 2019 dan 2020, memperkirakan tingkat pertumbuhan masing-masing 2,1 persen dan 1,9 persen.

BERITA TERKAIT

Apakah Ada Larangan Memotret di KRL?

Kami pernah melihat petugas Patwalka menegur penumpang saat memotret di dalam gerbong KRL Commuterline rute Bekasi-Jakarta. Padahal aturan yang terpasang…

Kenapa Harus Ada “People Power”?

  Oleh : Dewi Komalasari, Pemerhati Masalah Sosial Politik Kenapa mesti ikut pemilu jika dirinya tidak percaya dengan kinerja KPU?…

ANGGOTA DPR BERHARAP DEMO SEGERA BERAKHIR - Darmin: Aksi Demo Tak Berdampak Signifikan

Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini dampak aksi demonstrasi 22 Mei 2019 tidak akan berdampak signifikan terhadap kondisi investasi…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Meski Terjadi Aksi 22 Mei, Transaksi Perbankan Meningkat

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan demonstrasi terkait Pemilu pada 22 Mei 2019 yang diwarnai…

Libur Lebaran, BI Tutup Operasional 3-7 Juni

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menetapkan untuk meniadakan seluruh kegiatan operasional pada 3-7 Juni 2019 atau…

Asosiasi Fintech Minta Dapat Kemudahan Akses Data Kependudukan

    NERACA   Jakarta – Industri Finansial Technology (fintech) berharap agar pemerintah bisa mengizinkan usaha fintech bisa mendapatkan akses…