Dampak Harga Kenaikan BBM Terhadap Berbagai Sektor Ekonomi

Kenaikan harga bahan bakar minyak pada 1 April 2012 diperkirakan akan mempengaruhi berbagai sektor ekonomi masyarakat. Mulai dari sektor pariwisata, harga obat bahkan sampai ke sembilan bahan pokok (sembako).

NERACA

Kenaikan harga BBM mulai 1 April dinilai akan mempengaruhi sektor pariwisata dalam negeri. Kenaikan bisa mengurangi kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

"Kenaikan BBM pasti berdampak terhadap pariwisata," kata Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Matta Fair, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu, 18 Maret 2012.

Menurut Sapta, jika harga BBM naik, hukum ekonomi akan berlaku. Permintaan dan persediaan akan terpengaruh. Agen perjalanan akan menaikkan biaya paket tur. Kenaikan biaya pasti membuat perjalanan terlihat mahal.

Untuk itu, menurut Sapta, kementerian dan pihak terkait harus mencari cara agar dapat mempertahankan atau menarik warga asing untuk datang. "Kami harus memodifikasi supaya paket-paket liburan misalnya bisa tetap diminati. Jadi harus cari jalan untuk bertahan," katanya.

Rencana kenaikan BBM ini, kata dia, memang tidak bisa dihindari lagi. Saat ini yang bisa dilakukan adalah mencari solusi agar dapat mencapai target optimis datangnya wisatawan asing ke Indonesia pada tahun ini, yaitu 8 juta orang. "Yaitu dengan melihat komponen biaya dan efektivitas biaya tersebut," ujarnya.

Dia menyadari, kenaikan BBM dan ditambah kondisi perekonomian dunia yang sedang tak menentu, orang berpikir berkali-kali untuk mengeluarkan uang terlalu besar di Indonesia. Menurut data Kementerian Pariwisata, rata-rata setiap wisatawan asing dapat menghabiskan dana US$ 1.100 per kunjungan.

Dengan kenaikan BBM, setidaknya dapat menambah rata-rata pengeluaran wisatawan asing hingga 10 persen dibandingkan spending sebelumnya. "Mungkin ada reduksi, tetapi kami berharap orang yang datang bisa bertambah. Kalau bertambah, pengurangan pendapatan tadi bisa diimbangi dengan penambahan volume."

Obat Naik 6%-9%

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akhirnya menetapkan kenaikan harga obat sebesar 6%–9%. Kenaikan ini diputuskan terkait rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, kenaikan harga obat ini ditetapkan berdasarkan rekomendasi tim evaluasi harga obat. Tahun 2012 ini, paparnya, harga eceran tertinggi (HET) obat generik ditetapkan sejak 23 Februari 2012.

“Penentuan HET ini sudah melalui bermacam-macam pertimbangan. Di antaranya kemungkinan pembatasan BBM bersubsidi, kenaikan bahan baku obat, kenaikan upah minimum regional (UMR), dan sebagainya,” ungkap Endang di Jakarta kemarin.

Menurut Endang, tim evaluasi harga obat yang terdiri dari LSM, organisasi profesi, Kemenkes, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pakar ekonomi, pakar farmasi, dan pakar kesehatan telah mempertimbangkan dari 498 obat, ada kenaikan harga pada 170 jenis obat. Sedangkan harga pada 327 jenis obat, justru akan mengalami penurunan. Dia mengungkapkan, hanya 34% dari seluruh jenis obat yang akan mengalami kenaikan harga.

Dari 170 jenis obat yang HET-nya naik, 28 item di antaranya adalah sediaan injeksi dengan rata-rata kenaikan per item sebesar Rp343.

“Di samping itu, sebanyak 123 jenis tablet dan kapsul naik rata-rata Rp31. Lalu sebanyak delapan item sirup juga rata-rata naik sebesar Rp30, dan tiga macam salep dengan rata-rata kenaikan Rp221. Dengan demikian, kenaikan harga obat tersebut berkisar 6–9 persen,” ungkapnya.

Endang mengutarakan, kenaikan harga obat berbeda dengan kenaikan harga bahan pokok lainnya di pasar, sebab untuk harga obat ada pengaturannya oleh pemerintah. Selain itu, bagi para penduduk yang dijamin oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), sebetulnya kenaikan ini tidak akan mempengaruhi mereka karena sudah di-cover.

Dia menjelaskan, HET obat sebenarnya ditetapkan setiap tahun. Ada beberapa obat yang sudah berproduksi saat ini masih memakai harga lama. Meski demikian, menurut dia, untuk pijakan tahun depan, akan mempertimbangkan kembali hal itu. Biasanya, ujarnya, yang akan mengusulkan penyesuaian harga obat adalah farmasi.

“Karena pada umumnya produsen tidak memproduksi satu macam saja, maka bisa subsidi silang. Contohnya, ada harga obat yang sekarang naik tapi sebenarnya jenis tersebut belum naik dalam 2–3 tahun. Jadi, produsen bisa mengaturnya di situ,” tuturnya.

Endang menyatakan, Kemenkes telah memberikan HET dari setiap obat generik. Ini dilakukan untuk mengontrol agar tidak ada kecurangan di lapangan ketika pemerintah menetapkan HET. Permasalahannya, ujar Endang, ada obat-obat di luar jenis obat generik yakni obat-obat bermerek yang hingga saat ini masih sukar diatur.

Obat Terjangkau

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menjamin, perusahaan produsen obat milik BUMN tidak akan menaikkan harga obat. Justru pihaknya memberi instruksi khusus kepada perusahaan obat BUMN untuk memproduksi obat yang terjangkau. Dahlan mengungkapkan, tidak serta-merta kenaikan BBM itu bisa mempengaruhi harga obat.

“Tidak harus begitu.Sepanjang produsen obat itu milik BUMN, kita minta untuk tidak menaikkan dulu sampai kemampuan masyarakat menjadi seimbang lagi,” ungkap Dahlan.

Bank Indonesia (BI) optimistis dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi terhadap kenaikan inflasi hanya beberapa bulan saja. Setelah itu, angka inflasi akan lebih dipengaruhi banyak faktor.

"Hitungan kita itu 4,4% (inflasi) kalau enggak ada apa-apa. Kalau ada ya 6,8-7,1 persen. Sebenarnya kalau inflasi kita secara di luar yang diatur harganya (administered price) itu rendah," ungkap Gubernur BI Darmin Nasution ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi XI, Senayan, Jakarta, Kamis (8/3/2012).

Menurutnya, berdasarkan pengalaman masa lalu keputusan menaikkan harga BBM bersubsidi, pengaruhnya hanya beberapa bulan. "Setelah itu reda," tambahnya.

Darmin menambahkan, inflasi akibat kenaikan harga BBM bersubsidi hanya tinggi beberapa bulan. Setelah itu, inflasi kembali akan terjaga sehingga Bank Sentral optimistis, inflasi tahunan akan berada di 6,8-7,1 persen. "Harus kita perhatikan betul adalah jangan sampai kenaikan harga BBM lampaui kenaikan inflasi seharusnya karena spekulasi," lanjut dia.

Melihat alasan inilah, BI, memutuskan untuk menahan BI rate di angka 5,75% bulan ini. Adapun dampak ke lending rate (suku bunga kredit bank). Menurutnya, akan disebabkan beberapa faktor di mana BI bisa ikut campur lewat operasi di pasar sekunder.

"Mungkin akan berdampak ke deposit rate juga, tetapi kita akan terus koordinasikan bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan akan kita lihat respons pasar," tandasnya.

Gelar Survei

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok menggelar survei ke sejumlah pasar tradisional untuk memantau harga bahan pokok. Menjelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), harga bahan pokok pun mulai merangkak naik.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok Farah Mulyati mengatakan, dari hasil pantauan rata-rata harga bahan pokok naik Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram (kg). Farah memastikan bahwa sektor perdagangan seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) akan terkena dampak kenaikan harga BBM, begitu pula industri kreatif.

"Naiknya tidak terlalu banyak, paling Rp500 sampai Rp1.000, intinya kalau pedagang dan pelaku UKM bahan bakunya naik, pastinya ada dampaknya, kenaikan ongkos transportasi, daya beli masyarakat turun," katanya di Balaikota Depok, Selasa (20/3/2012).

Farah menjelaskan pihaknya menunggu instruksi dari pemerintah pusat untuk mengelar operasi pasar. "Kita lihat situasinya, kalau OP dari pemerintah pusat, instruksi ke seluruh kabupaten kota, kalau tinggi sekali kenaikannya baru akan dilakukan," jelasnya.

Kenaikan harga bahan pokok, lanjut Farah, umumnya bukan karena menjelang kenaikan harga BBM. Namun karena cuaca. "Cabai merah terkendala karena hujan, cuaca, sudah ada kenaikan di minyak goreng, berkisarnya Rp500-Rp1.000, beras Rp500, cabai, telur sudah stabil lagi, untuk pendampingan industri kami membantu untuk melakukan pameran," tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok Farah Mulyati mengatakan harga beras rata-rata naik dari Rp7.400 hingga Rp7.600, lalu gula dari Rp11.000 hingga Rp11.100 dan minyak goreng dari Rp11.000 sampai Rp11.200.

"Cabai merah dari Rp20.700 sampai Rp23.000, lalu cabai keriting dari Rp20.400 hingga Rp22.400, tapi intinya kalau stok aman," kata Reni.

Reni menjelaskan, kenaikan harga gula pasir disebabkan karena terhambatnya transportasi. Sementara kenaikan harga minyak goreng karena pengaruh kenaikan harga minyak mentah. "Kalau harga beras karena musim panen raya sudah selesai," tandas Reni.

Sementara itu harga telur di tingkat pedagang eceran per kilogram kini sudah mencapai Rp28.000. Serta harga beras jenis IR 64 sudah berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram. (agus/dbs)

Related posts