OJK Dorong Generasi Milenial Investasi Saham - Ketergantungan Investor Asing

NERACA

Mataram - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Barat mendorong generasi milenial untuk berinvestasi saham sebagai salah satu upaya menjaga agar dana di dalam negeri tidak ke negara lain ketika terjadi gejolak ekonomi.”Itu sebagai salah satu strategi dari kebijakan jangka pendek, menengah dan panjang yang dilakukan OJK Pusat," kata Kepala OJK NTB, Farid Faletehan di Mataram, kemarin.

Menurutnya, pasar saham di Indonesia masih sangat tergantung pada investor dari luar negeri karena penyerapan dana di dalam negeri relatif terbatas. Hal itu dibuktikan dengan persentase jumlah investor saham di Indonesia sebesar 60-65% dan sisanya investor dari luar negeri. Kondisi ini, lanjutnya, berbeda dengan di Thailand dengan jumlah investor lokal sudah mencapai 75%. Makanya kalau terjadi gejolak ekonomi, dana keluar ke negara lain dan investor lokal juga ikut-ikutan.

Oleh sebab itu, kata Farid, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya meningkatkan investor ritel dari kalangan generasi milenial. Salah satu caranya adalah dengan terus menyosialisasikan manfaat berinvestasi saham di lingkungan kampus dan masyarakat umum. Dengan sosialisasi yang masif tersebut diharapkan generasi milenial dan masyarakat umum di NTB, termotivasi untuk berinvestasi saham. Apalagi sudah ada Kantor Perwakilan BEI di Mataram, dan lima perusahaan sekuritas yang beroperasi di NTB. Ada juga penjual reksadana yang sudah memiliki agen di daerah.

BEI juga sudah membuka gerai investasi di lingkungan kampus, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Akademi Manajemen Mataram (STIE AMM), Universitas Mataram, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), dan Unmas. Jumlah tersebut akan terus bertambah karena beberapa kampus swasta berminat.

Menurut Farid, upaya sosialisasi yang dilakukan bersama BEI mampu meningkatkan jumlah investor saham di NTB setiap tahunnya, khususnya dari kalangan generasi milenial.”Jumlah investor saham di NTB yang memiliki nomor tunggal identitas investor (SID) meningkat 100% pada 2018,”paparnya.

Kantor BEI Perwakilan NTB, mencatat jumlah investor pasar modal dari provinsi tersebut hingga Oktober 2018 sebanyak 3.895 orang dan mayoritas berasal dari generasi milenial atau berusia 18-30 tahun. Sebagian besar investor tersebut masih berstatus pelajar/mahasiswa, yakni sebanyak 1.201 SID.

Ada juga dari kalangan pegawai swasta sebanyak 1.113 SID, pegawai negeri sipil 711 SID, pengusaha 394 SID, pensiunan dan lainnya 342 SID, guru 71 SID, ibu rumah tangga 36 SID, dan TNI/Polri 9 SID. Sementar total aset seluruh investor pasar modal dari NTB yang tercatat di BEI mencapai Rp212,85 miliar, terdiri atas aset dalam bentuk saham senilai Rp84,35 miliar dan aset selain saham senilai Rp128,5 miliar. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan, Perhitungan Investasi Migas Dirombak

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan dua kebijakan, yakni di antaranya merombak mekanisme perhitungan investasi eksplorasi migas PT.…

MICE Bagikan Dividen Rp 10 Per Saham

NERACA Jakarta – Hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Multi Indocitra Tbk (MICE) memutuskan untuk membagikan dividen kepada…

Menperin: Milenial Penopang Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam memasuki era revolusi industri 4.0.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…