BUMI Telah Lunasi Utang US$ 239,39 Juta

NERACA

Jakarta – Pangkas beban utang, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus melakukan pembayaran utang yang jatuh tempo. Teranyar, perusahaan tambang ini telah melakukan pembayaran total utang senilai US$239,39 juta atas pokok dan kupon Tranche A. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata Dileep Srivastava, Director & Corporate Secretary Bumi Resources, perseroan telah memproses pembayaran kelima senilai US$19,85 juta melalui agen fasilitas pada 9 April 2019. Jumlah itu mewakili pinjaman pokok senilai US$11,11 juta dan bunga senilai US$8,74 juta untuk Tranche A.”Dengan dilakukannya pembayaran triwulanan kelima, perseroan saat ini telah membayar keseluruhan sebesar US$239,39 juta secara tunai, terdiri atas pokok Tranche A senilai US$145,48 juta dan bunga sebesar US$93,91 juta termasuk bunga akrual dan bunga yang belum dibayar,”ujarnya.

Dirinya menambahkan, pembayaran berikutnya atas Tranche A akan jatuh tempo pada Juli 2019. Kupon PIK dari 11 April 2019 hingga 9 April 2019 atas Tranche B dan C juga sudah mulai dikapitalisasi. Tahun ini, BUMI menargetkan penjualan batu bara senilai US$ 5,8 miliar atau setara Rp 81,2 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$). Disebutkan, total pendapatan tersebut dengan menggunakan asumsi harga jual batu bara di level US$ 57 per ton dan target penjualan sebanyak 96 juta ton di tahun ini.

Perusahaan meningkatkan produksi batu bara sebanyak 16,04% menjadi 94 juta ton, naik dari total produksi tahu lalu yang sebanyak 81 juta ton. Peningkatan ini sejalan dengan target produksi pada 2020 nanti yang sebanyak 100 juta ton. PT Kaltim Prima Coal (KPC) tahun ini akan memproduksi sebanyak 61,9 juta ton dan PT Arutmin Indonesia akan memproduksi sebanyak 32 juta ton.

Kemudian sepanjang tahun 2018 kemarin, BUMI berhasil membukukan pendapatan sebesar US$1,11 miliar atau tumbuh 6.304,49% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 17,36 juta. Adapun, beban pokok pendapatan yang dikeluarkan perseroan tahun lalu senilai US$965,31 juta pada 2018. Dari situ, laba kotor yang dibukukan perseroan senilai US$146,50 juta pada 2018. Realisasi itu naik 743,89% dari US$17,36 juta pada 2017.

Kendati demikian, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk perseroan tercatat turun 40,95% secara tahunan pada 2018. Nilai yang dikantongi turun dari US$373,25 juta pada 2017 menjadi US$220,41 juta pada 2018. Di sisi lain, total liablitas perseroan tercatat turun 0,20% secara tahunan dari US$3,41 miliar pada 2017 menjadi US$3,40 miliar pada 2018. Sebaliknya, total ekuitas naik 75,87% secara tahunan dari US$286,35 juta pada 2017 menjadi US$503,61 juta pada 2018. Dengan demikian, total aset yang dimiliki perseroan senilai US$3,90 miliar pada akhir 2018. Jumlah tersebut naik 5,69 dari US$3,69 miliar pada 2017.

BERITA TERKAIT

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…

Sikapi Kasus Pemalsuan Deposito - BTN Yakinkan Nasabah Kondisi Kinerja Masih Solid

NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyatakan perseroan dalam kondisi kinerja yang solid dengan performa perusahaan…

ADHI Catatkan Kontrak Baru Rp 6,8 Triliun

NERACA Jakarta – Sampai dengan Agustus 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp6,8 triliun.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Presiden Bakal Membuka Munas HIPMI Ke-XVI

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan membuka musyawarah nasional (Munas) Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda (BPP HIPMI)…

CEO Asia Aero Technology - Mengusung Hipmi 4.0 Agar Lebih Familiar

Jiwa muda dengan sederet perstasi adalah harapan pimpinan di masa mendatang, hal inilah yang menggambarkan Bagas Adhadirgha seorang Founder sekaligus CEO…

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…