Kimia Farma Mengadu Keberuntungan Garap Bisnis Rumah Sakit - Siapkan Investasi Rp 1 Triliun

Neraca

Jakarta – Pembangunan rumah sakit tidak hanya sekedar bicara pelayanan kesehatan semata, namun juga bisnis didalamnya. Pasalnya, bisnis rumah sakit memiliki prospek yang cukup cerah ditengah sepinya para pemain disektor tersebut. Maka alasan inilah yang dilakukan PT Kimia Farma Tbk yang berencana bangun rumah sakit.

Direktur Utama Kimia Farma Syamsul Arifin mengatakan, perseroan akan membangun rumah sakit dengan nilai investasi sekitar Rp 1 triliun. Maka untuk memuluskan rencana tersebut, Kimia Farma akan membentuk usaha baru dengan menggandeng PT Prakarsa Transforma Indonesia, “Melalui anak usaha baru ini, kita akan mendirikan lima rumah sakit dalam jangka panjang,”katanya di Jakarta, Selasa (20/3).

Maka pada tahun ini, perseroan akan memulai pilot project rumah sakit di Jakarta. Nilai investasinya Rp 280 miliar-Rp 300 miliar, rumah sakit di bilangan Jalan Saharjo yang siap beroperasi 2013. Kata Syamsul, pembangunan lima rumah sakit akan dibangun di tanah milik perseroan dengan bekerjasama para mitra yang berpengalaman. Lahan yang sudah dimiliki perseroan adalah di Bandung, Ujung Pandang, Medan, dan Surabaya. “Nilai investasi membangun tiap satu RS rata-rata Rp 250 miliar dan total seluruhnya diperkirakan mencapai Rp 1 triliun," tandasnya.

Pembangunan rumah sakit pun dapat mendorong bisnis perseroan lebih baik. Obat-obatan hasil produksi perseoran bisa dijual di rumah sakitnya sendiri. "Ini akan punya multiplier effect. Obat kita bisa terjual. Dalam membangun bisnis kita harus punya great costumer, bisnis mudah dijalankan serta berkelanjutan," imbuh Syamsul.

Akuisisi RS BUMN

Selain itu, ambisi perseroan menggarap bisnis rumah sakit juga dilakukan dengan rencana mengambilalih rumah sakit (RS) milik Badan Usaha Milik Negara sebagai instruksi dari Meneg BUMN Dahlan Iskan agar Kimia Farma fokus pada bisnis intinya rumah sakit dan penanganan obat-obatan.

Asal tahu saja, instruksi ambil alih rumah sakit BUMN dikarenakan keberadaan bisnis rumah sakit disetiap perusahaan BUMN dianggap tidak maksimal, sehingga perlu dievaluasi. Kendatipun demikian, Syamsul mengakui, rencana akuisisi rumah sakit BUMN masih dikaji secara matang sebagai ekspansi perseroan, “Ada beberapa BUMN yang memiliki rumah sakit. Saya tidak dapat sebutkan siapa BUMN-nya,"ungkapnya.

Kata Syamsul, bila rumah sakit BUMN tersebut terletak di tengah kota, maka pelayanan akan disesuaikan dengan standar rumah sakit yang ada. Sementara, bila rumah sakit terletak di daerah, maka pelayanannya akan lebih murah. "Yang penting, kita akan adakan terapi, pengobatan yang baik dan pelayanan yang baik juga," ungkapnya.

Ada beberapa BUMN yang memiliki rumah sakit, antara lain PT Pertamina Persero dengan RS Pertamina, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Persero dengan RS Pelni dan PT Perkebunan Nusantara X dengan RS Gatoel. Juga, PT Pupuk Sriwidjaya, PT Pupuk Kalimantan Timur, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, yang merupakan salah satu BUMN berbentuk Perusahaan Jawatan.

Bersaing Ketat Dengan Swasta

Sebagai informasi, sebelumnya Ciputra Grup sudah memulai bisnis pembangunan rumah sakit dan tidak lagi sekedar sektor properti. Corporate Secretary PT Ciputra Development Tbk (CTRA), Tulus Santoso pernah bilang, pihaknya akan membangun 10 rumah sakit dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Untuk proyek pembangunan rumah sakit, perseroan telah menganggarkan dana investasi sekitar Rp 500 miliar, "Paling kita akan pilih dua dan tiga kota untuk pembangunan rumah sakit ditahun 2012. Nanti akan ada kota-kota lain, karena pembangunan dilakukan secara bertahap,”jelasnya

Namun yang pasti, saat ini perseroan tengah melakukan feasebility studies ke lima kota, Jakarta, Makassar, Palembang, Manado dan Surabaya. Nantinya, tiga kota akan dipilih sebagai lokasi awal pembangunan rumah sakit di 2012.

Sementara rivalnya, PT Lippo Karawaci Tbk juga tidak mau kalah untuk merambah bisnis rumah sakit dengan berencana membangun 20 rumah sakit baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari bisnis itu perseroan membidik pendapatan sebesar US$ 500 juta pertahun.

Pendiri Grup Lippo Mochtar Riady mengatakan, pengembangan rumah sakit di Indonesia penting untuk menarik kembali tren pasien yang berobat ke rumah sakit di luar negeri dengan cara membangun rumah sakit yang berkualitas dan memenuhi harapan terhadap layanan kesehatan. “Kalaupun biaya berobat di LN lebih murah dibandingkan dengan di Tanah Air, nyatanya biayanya menjadi lebih mahal karena dibebani biaya keluarga yang mendampingi ke sana,”tandasnya.

Lippo dalam waktu dekat akan membangun rumah sakit di Jambi dengan bendera Siloam Hospitals. Nilai investasi senilai US$ 18 juta, maka melalui pengembangan bisnis rumah sakit diperkirakan pendapatan tahunan LPKR pun akan naik 5%.

Sebelumnya, perseroan telah mengakuisisi rumah sakit Jambi yang merupakan rumah sakit kelima dalam jaringan rumah sakit perseroan. Berdasarkan transaksi ini, LPKR mendapatkan 83% kepemilikan dan mengendalikan rumah sakit swasta tersebut. Padahal tahun lalu, perseroan juga sudah mengambil 79,61% kepemilikan sebuah rumah sakit di Balikpapan pada 15 November tahun lalu. Nilai transaksinya mencapai US$ 26 juta.

Selanjutnya pada 7 Januari 2011 kemarin, perseroan kembali membangun sebuah rumah sakit di Makasar senilai US$ 26 juta. Rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit ke delapan LPKR dan akan berfungsi sebagai rumah sakit rujukan pendukung di bagian timur Indonesia. (bani)

Related posts