Dampak MRT Masih Belum Terasa Terhadap Kinerja Properti

Dampak MRT Masih Belum Terasa Terhadap Kinerja Properti

NERACA

Jakarta - Pengoperasian Moda Raya Terpadu (MRT) yang diresmikan beberapa waktu lalu dinilai belum banyak berpengaruh terhadap penjualan berbagai jenis properti seperti apartemen dan ritel.

"Pada saat pasar masih lesu seperti sekarang, belum ada perbedaan antara tingkat penjualan antara apartemen yang dibangun sekitar MRT dengan apartemen yang berada di luar kawasan MRT," kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam paparan properti di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (9/4).

Dengan kata lain, menurut dia, sekarang masih sulit untuk melihat dampak MRT terhadap kinerja sektor properti apalagi MRT juga baru saja diresmikan pengoperasiannya. Namun, ujar dia, ke depan diyakini potensi itu bakal meningkat seperti terlihat dari pembicaraan beberapa pengembang di sekitar stasiun MRT bahwa sebenarnya banyak yang berminat untuk membeli unit apartemen di sekitar MRT, tetapi masalahnya para peminat itu belum mengambil keputusan untuk membelinya sekarang.

Ferry menyatakan, pihaknya berencana untuk membuat kajian mengenai dampak MRT terhadap kinerja berbagai sektor properti. Rencananya, ujar dia, pengumpulan data akan dilakukan di kota seperti Bangkok yang sudah memiliki MRT sejak beberapa tahun terakhir ini.

"Kami akan lihat berapa jumlah traffic yang menggunakan MRT, pergerakannya berapa banyak dan potensinya berapa banyak. Report ini butuh persiapan kami butuh waktu lagi," kata dia.

Namun, diyakini bahwa dengan adanya MRT maka kinerja sektor ritel yang terdapat di sekitar kawasan MRT juga diperkirakan bakal terus berdampak positif dan mengalami peningkatan. Selain itu, dengan beroperasinya infrastruktur baru seperti MRT dan LRT maka harga sejumlah properti diperkirakan bakal naik sekitar 5-6 persen per tahun hingga 2021.

Sebelumnya, manajemen PT MRT Jakarta menggandeng pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menyediakan beragam produk yang dibutuhkan pengguna moda transportasi massal tersebut.

Sekretaris Perusahaan MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin di Jakarta, Kamis (28/3), Menurut dia, kehadiran pelaku usaha mikro kecil menengah itu juga diharapkan mampu menumbuhkan ekonomi khususnya industri kecil dan sektor ritel.

Kamaluddin menjelaskan total ada 16 gerai UMKM yang akan beroperasi di lima stasiun Fase I MRT Jakarta rute Stasiun Bundaran HI-Lebak Bulus. Kelima stasiun tersebut, yakni Lebak Bulus dengan enam gerai UMKM, Fatmawati ada 6, Stasiun Dukuh Atas terdapat 2, dan masing-masing 1 gerai di Stasiun Haji Nawi dan Stasiun Blok A.

Lima stasiun itu merupakan lokasi yang paling sesuai berdasarkan pertimbangan yang dilakukan bersama dengan konsultan dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Sebelumnya diwartakan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai keberadaan kereta massal mass rapid transit atau moda raya terpadu (MRT) di DKI Jakarta akan mengubah peta properti komersial di Ibu Kota.

Usai menguji coba kereta MRT Jakarta dari Bundaran Hotel Indonesia ke Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Rabu (6/3), Sri Mulyani mengatakan nilai tawar hunian di sekitar rute MRT akan meningkat. Sasaran tempat tinggal pun kini tidak hanya fokus di tengah kota, karena MRT menawarkan akses transportasi yang cepat dan nyaman dengan tarif cukup terjangkau hingga ke pinggiran kota.

Pemerintah Provinsi DKI sudah mengusulkan tarif MRT rute Bundaran HI ke Lebak Bulus sebesar Rp10 ribu per penumpang."Orang tidak perlu beli apartemen di tengah kota atau tinggal di tengah kota. Dia bisa tinggal di Lebak Bulus yang dengan waktu tempuh 30 menit tanpa macet sampai ke kawasan Sudirman," kata dia.

Selain itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu juga meyakini kegiatan ekonomi dan nilai properti di sekitar stasiun MRT akan meningkat. Potensi ini juga, kata Sri Mulyani, telah disadari sejumlah perusahaan yang berlokasi di sekitar stasiun MRT. Di fase I, kereta MRT akan melewati 13 stasiun.

"Perusahaan-perusahaan swasta sudah meminta supaya stasiun MRT itu diberi nama perusahaannya. Itu berarti menimbulkan penerimaan," kata dia.

Ia juga mengatakan di masing-masing stasiun akan ada properti komersial yang sudah mulai disewa oleh perusahaan-perusahaan. Menurut dia, pihaknya memang belum menghitung nilai tambah properti setelah proyek MRT Bundaran HI-Lebak Bulus yang merupakan fase I selesai. Namun, setelah kereta itu beroperasi, dirinya akan meminta operator MRT bersama Kemenkeu menghitung taksiran dampak ekonomi yang dihasilkan. Mohar

BERITA TERKAIT

Dampak Kerusuhan

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca Kerusuhan massa yang terjadi Selasa malam (21/5) telah memunculkan kekhawatiran masyarakat saat…

MABA Masih Bukukan Rugi Rp50,64 Miliar

NERACA Jakarta – Perfomance kinerja keuangan emiten properti dan hotel, PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA) masih membukukan raport merah.…

Pasar Properti Masih Tertekan - Intiland Pilih Kerjasama Kembangkan Proyek Maja

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan properti di Maja, Banten, seperti yang sudah dilakukan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) menjadi daya…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Investasi Properti Semakin Bergairah Usai Pengumuman Hasil Pemilu

Investasi Properti Semakin Bergairah Usai Pengumuman Hasil Pemilu NERACA Jakarta - Pengusaha properti menilai investasi di sektor properti akan semakin…

Pemindahan Ibu Kota Dinilai Akan Dorong Permintaan Hunian

Pemindahan Ibu Kota Dinilai Akan Dorong Permintaan Hunian NERACA Jakarta - Rencana pemindahan ibu kota ke luar Jawa yang disampaikan…

Okupansi Grand Inna Malioboro Meningkat Dibanding Ramadhan 2018

Okupansi Grand Inna Malioboro Meningkat Dibanding Ramadhan 2018 NERACA Yogyakarta - Okupansi atau tingkat hunian kamar Hotel Grand Inna Malioboro…