Garudafood Raih Pendapatan Rp 8,05 Triliun

NERACA

Jakarta – Di tahun 2018, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp8,05 triliun. Nilai itu meningkat 7,59% year on year (yoy) dibandingkan pendapatan 2017 sebesar Rp7,48 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dirilis di Jakarta, kemarin.

Sementara beban pokok penjualan juga meningkat menuju Rp5,39 triliun dari sebelumnya Rp5,06 triliun. Namun, laba bruto perusahaan masih naik pada 2018 menjadi Rp2,55 triliun dari 2017 sebesar Rp2,42 triliun. Disamping itu, perseroan mengungkapkan, penjualan ekspor pada 2018 juga meningkat menjadi Rp486,62 miliar dari 2017 sejumlah Rp373,93 miliar. Sementara itu, laba bersih sebelum efek penyesuaian laba marging entity Rp425,48 miliar. Nilai itu meningkat 19,01% yoy dari sebelumnya Rp357,51 miliar.

Pada 2018, GOOG menggelontorkan kas neto untuk operasi sejumlah Rp721,66 miliar, naik dari 2017 sebesar Rp506,36 miliar. Total kas pada akhir periode mencapai Rp217,69 miliar, meningkat dari sebelumnya Rp130,77 miliar. Total liabilitas GOOD pada 2018 menurun menuju Rp1,72 triliun dari sebelumnya Rp2,3 triliun. Total ekuitas naik menjadi Rp2,49 triliun dari 2017 sebesar Rp1,26 triliun. Jumlah aset pun naik menjadi Rp4,21 triliun dari sebelumnya Rp3,56 triliun.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan terus mengembangkan pasar ekspor untuk memenuhi target pertumbuhan penjualan tahun ini sebesar 15%. Untuk pasar ekspor, perseroan menargetkan tumbuh 20%. Direktur Garudafood, Paulus Tedjosutikno pernah bilang, perseroan berharap dapat mempertahankan pencapaian penjualan ekspor yakni tumbuh 20% pada tahun ini. Jika mengacu pada raihan penjualan ekspor 2018, maka GOOD mengincar penjualan ekspor 2019 mencapai Rp677,88 miliar.

Adapun, produk unggulan untuk pasar ekspor mencakup produk biskuit dengan pasar negara Asean, China, dan India. Ketiga pasar ini dinilai memiliki karakteristik konsumen yang sama dengan Indonesia. "Kami melalui tes market terlebih dahulu, mereka accept dengan taste produk yang kami tawarkan," katanya.

Perseroan optimistis dapat meraih target yang dipasang karena masih adanya peluang-peluang baru untuk mengembangkan pasar perseroan di luar negeri. Peluang ini terlihat dari pertumbuhan penjualan di Asia yang sangat baik.Saat ini, perseroan telah memasukkan produk ke lebih dari 20 negara dengan penjualan yang cukup besar di negara-negara Asia Tenggara dan India. Ekspor perseroan ke negara-negara Asia Tenggara mengambil porsi paling besar dibandingkan dengan negara lain karena negara tetangga tidak menerapkan pajak impor dan kedekatan geografis sehingga memungkinkan biaya logistik yang kompetitif.

BERITA TERKAIT

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…

Sikapi Kasus Pemalsuan Deposito - BTN Yakinkan Nasabah Kondisi Kinerja Masih Solid

NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyatakan perseroan dalam kondisi kinerja yang solid dengan performa perusahaan…

ADHI Catatkan Kontrak Baru Rp 6,8 Triliun

NERACA Jakarta – Sampai dengan Agustus 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp6,8 triliun.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PLN Terbitkan Surat Utang Rp 5,7 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggalang dana hingga Rp 5,7 triliun dari penerbitan surat…

Bidik Pasar Ekspor Timor Leste - Japfa Targetkan Volume Ekspor 1000 Ton

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan pasar ekspor, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke…

Pendapatan Merdeka Copper Naik 66,95%

NERACA Jakarta - Emiten pertambangan logam, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengantongi pendapatan US$191,77 juta pada semester I/2019 atau…