Wapres Desak Segera Perbanyak SPBG

NERACA

Jakarta---Stasiun pengisian dan depo bahan bakar gas (SPBG) akan diperbanyak hingga 2014 dalam upaya mengurangi ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak khususnya untuk kendaraan bermotor. "Sedang kita garap upaya untuk menambah jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas," kata Wakil Presiden Boediono di Jakarta,20/3.

Lebih jauh kata Boediono, penambahan jumlah stasiun pengisian dan depo BBG dalam upaya mengurangi penggunaan BBM sehingga tidak lagi terpengaruh dengan harga minyak internasional yang pada akhirnya berpengaruh juga pada harga BBM di dalam negeri.

Wapres mengatakan, konversi BBM ke BBG sebenarnya sudah mulai dilakukan kepada sejumlah kendaraan seperti Trans Jakarta dan bajaj. Demikian juga dengan keperluan rumah tangga, katanya, saat ini hampir rumah tangga sudah menggunakan gas sebagai bahan bakar untuk masak. "Kita secara bertahap sudah melakukan konversi BBM menjadi bahan bakar gas dan program ini akan terus berlanjut hingga 2014 dan diharapkan tahun berikutnya," tambahnya

Bahkan, kata Wapres Boediono, di sejumlah kota akan dibangun jaringan pipa gas yang menghubungkan rumah tangga sehingga tidak lagi menggunakan tabung saat masak. Khusus untuk konverter, menurut Wapres, untuk kendaraan angkutan publik akan digratiskan sedangkan kendaraan pribadi akan disubsidi. "Memang sampai 2014 belum akan tuntas sejumlah program itu tapi arahnya tahun-tahun mendatang akan seperti itu," ujarnya

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah menargetkan pembangunan 250 stasiun bahan pengisian bahan bakar gas (SPBG) hingga 2014 dengan total biaya Rp2,5 triliun. "Dari tadinya hanya ada 10 SPBG, pemerintah akan menambah jumlahnya hingga 250 SPBG pada 2014 di wilayah Jawa dan Bali, baik berupa infrastruktur maupun yang dapat berpindah atau `mobile`," ujarnya

Menurut Hatta, konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas dilakukan bertahap. Namun yang perlu dibenahi adalah masalah infrastruktur, khususnya SPBG baik untuk jenis Liqufied Gas Vehichle (LGV) maupun Compressed Natural Gas (CNG).

Sementara Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita H. Legowo yang juga hadir dalam rapat tersebut mengatakan bahwa total nilai investasi untuk penambahan SPBG adalah Rp2,5 triliun. "Dana untuk membangun 108 SPBG untuk jenis LGV dan 54 SPBG untuk jenis CNG dan pembangunan pipa sekitar Rp2,5 triliun. Dananya sudah tersedia," kata Evita.

Namun untuk harga jual BBG, menurut Evita, masih belum diputuskan. "Harga sementara untuk CNG adalah Rp3.100 sementara LGV adalah Rp3.500, tapi harga tersebut belum pasti, terutama LGV karena harga LGV memang berada di atas harga tersebut," tambah Evita.

Evita juga mengatakan bahwa pemerintah menyediakan 24.000 "converter kit" secara gratis untuk kendaraan umum, termasuk taksi. "Pada tahun ini, kami menyediakan `converter kit` gratis untuk angkutan umum, converter untuk BBG jenis LGV ada 10.000 sedangkan untuk CNG berjumlah 14.000, bila produk dalam negeri tidak mencukupi maka akan diimpor," kata Evita. **cahyo

Related posts