Penurunan Bunga Perlu Dipelopori Bank BUMN

NERACA

Jakarta—Langkah penurunan suku bunga kredit murah terus digaungkan. Namun penurunan bunga deposito dan efek ke bunga kredit itu bisa terealisasi bila dimotori bank-bank besar yang memiliki likuiditas berlebih. Apalagi di luar giro wajib minimum (GWM), perbankan memiliki likuditas berlebih sebesar Rp 550 triliun – Rp 600 triliun. “Dana ini menumpuk pada 10 bank. Maka dengan supply likuiditas sebanyak itu harusnya 10 bank besar berani menurunkan bunga deposito sehingga bank lainnya akan mengikuti," kata ekonom Mirza Adityaswara di Jakata.

Seperti diketahui pada 15 Maret 2012 lalu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sudah menurunkan bunga penjaminan rupiah menjadi 5,5% atau turun 50 bps. Namun sayangnya perbankan sulit mengikuti penurunan ini.

Menurut Mirza, lambannya penurunan bunga simpanan diduga karena bank terlalu bergantung pada deposito. Padahal di beberapa negara sumber pendanaan sudah beralih pada sertifikat deposito dan obligasi, sementara peminat deposito sangat sedikit. Berkembangnya alternatif pendanaan, tak lepas dari besarnya kapasitas pasar modal.

Berdasarkan data LPS per Januari 2012, rekening dengan nilai di atas Rp 5 miliar hanya 42.000 rekening. Namun bank terus memperebutkan mereka. "Kami akan melihat dalam 1-2 bulan ini. Bila bank menurunkan bunga deposito 100 bps, perbankan masih melihat LPS rate. Tetapi bila datanya tidak turun artinya LPS rate is not relevant," tambah Mirza, yang juga menjabat Anggota Dewan Komisioner LPS.

Beberapa bank besar seperti Bank Mandiri, Bank Permata dan Bank Rakyat Indonesia (BRI), sudah memberikan sinyal akan menurunkan bunga deposito, sejalan dengan penurunan suku bunga acuan alias BI rate dan LPS rate. Ketiga bank kelas kakap ini sedang melakukan kajian penyesuain bunga.

Sementara itu, Direktur Keuangan BRI, Achmad Baiquni mengatakan, penurunan tersebut berdasarkan pada perubahan BI rate, LPS rate dan kondisi likuiditas di pasar yang masih mencukupi. "Biasanya bunga deposito tertinggi kami bawah LPS rate," ujarnya.

Sedankan Bank kelas menengah, seperti OCBC NISP, juga sudah menurunkan bunga simpanan. Kini, bunga deposito bank yang mayoritas sahamnya milik investor Singapura ini di level 5,5% atau turun 100 bps dalam 2 bulan. Penurunan tersebut mengacu pada LPS rate dan kebutuhan target dana yang sudah terpenuhi.

Tetapi, manajemen juga akan melihat realisasi kredit pada 3-4 bulan pertama ini. "Bila permintaan kredit meningkat dan butuh dana besar kami bisa saja menawarkan bunga lebih agresif lagi," ujar Direktur Konsumer OCBC NISP, Rudy N Hamdani.

Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) belum melihat perlunya penurunan suku bunga deposito. Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, suku bunga deposito BCA sudah sesuai penjaminan. "Deposito di BCA juga sedikit, jadi tidak mempengaruhi cost of fund," terang Jahja, pekan lalu. **cahyo

Related posts