Depresi dan Manajemen Risiko

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Turunnya yield obligasi pemerintah yang bertenor sepuluh tahun pada negara-negara maju setelah bank sentral Amerika Serikat berencana tidak menaikan tingkat suku bunganya merupakan indikasi bahwa peluang depresi perekonomian dunia semakin terbuka lebar. Keterkaitan antara depresi perekonomian dan manajemen risiko tak terelakan, namun depresi masih juga terjadi sementara manajemen risiko baik tingkatan mikro dan makro juga terus berlangsung aplikasinya. Apa yang salah?

Tidak ada yang salah dengan ilmu manajemen risiko, namun yang sering dilupakan adalah ambisi politik yang menggunakan manajemen risiko sebagai alat politik. Depresi yang terjadi umunya akibat adanya kooptasi kepentingan politik terhadap sistem pengawasan perbankan atau sektor keuangan. Kooptasi kepentingan politik terjadi bukan hanya di negara demokrasi namun juga di negara non demokrasi.

Dengan mengacu kepada kondisi ini maka risiko depresi akan terbuka kepada sistem perekonomian yang sepertinya kebal terhadap depresi seperti sistem perekonomian RRT. Mengapa RRT? Setelah Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang mengalami depresi maka tinggal RRT yang belum mengalami depresi. Apalagi saat ini penguasa tunggal RRT tidak akan mengalami pensiun seperti pimpinan RRT sebelumnya, sehingga ada kecenderungan kekuasaan absolut akan mengkoptasi model manajemen risiko apapun untuk kepentingan politik.

Sistem politik dengan kekuasaan yang absolut akan sulit menerima koreksi dari dalam karena pendekatan sistem melihat keseluruhan interaksi yang ada dalam sebuah system, yakni suatu unit yang relatif terpisah dari lingkungannya dan memiliki hubungan yang relatif tetap di antara elemen-elemen pembentuknya. Kehidupan politik dari perspektif sistem bisa dilihat dari berbagai sudut, misalnya pada struktur hubungan antara berbagai lembaga atau institusi pembentuk sistem politik.

Hubungan antara berbagai lembaga negara sebagai pusat kekuatan politik misalnya merupakan satu aspek, sedangkan peranan partai politik dan kelompok-kelompok penekan merupakan bagian lain dari suatu sistem politik. Model sistem politik yang paling sederhana akan menguraikan masukan (input) ke dalam sistem politik, yang mengubah melalui proses politik menjadi keluaran (output). Dalam model ini masukan biasanya dikaitkan dengan dukungan maupun tuntutan yang harus diolah oleh sistem politik lewat berbagai keputusan dan pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintahan untuk bisa menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat.

Dalam perspektif ini, maka efektifitas sistem politik adalah kemampuannya untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Tak dipungkiri manajemen risiko merupakan salah satu input dalam sistem politik. Kerap kali terjadi trade off antara input dan output. Misalnya input ditambah berlipat-lipat namun output dapat turun berlipat-lipat. Jika kondisi itu yang terjadi maka atas nama keefektifan sistem politik untuk menciptakan kesejahteraan rakyat, manajemen risiko dapat digadaikan untuk kepentingan jangka pendek.

Yang perlu diingat adalah RRT selama ini mampu meningkatkan rasio investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 40% ketika perekonomian Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang belum mengalami depresi perekonomian. Namun setelah depresi menghantam negara maju tersebut, maka rasio invetsai terhadap PDB RRT malah semakin tinggi yaitu mencapai 45%. Berbeda dengan periode sebelumnya kali ini pertumbuhan ekonomi RRT terus mengalami penurunan bahkan berada di bawah dua digit pertumbuhan ekonomi tahunan. RRT tengah mengalami proses yang mirip dengan konsep lebih besar pasak ketimbang tiang. Risiko depresi di RRT dipastikan akan terus meningkat dengan berjalannya waktu.

Lantas apakah manajemen risiko akan efektif menghindarkan RRT dari depresi seandainya mereka tidak mengkooptasinya dengan kepentingan politik? Sebuah pertanyaan yang utopis karena faktor politik tidak dapat dipisahkan dari realitas penggunaan manajemen risiko. Buktinya adalah kegagalam Mao Zedong melakukan lompatan jauh ke depan yang menyebabkan perekonomian RRT pada saat itu masuk ke dalam depresi yang sangat panjang. Jika kita berandai-andai bahwa faktor politik tidak dominan, maka ada harapan depresi di RRT dapat dihindari jika manajemen risiko dapat diterapkan dengan baik.

Namun demikian manajemen risiko harus sejalan dengan model Mundell Fleming. Artinya depresi perekonomian hanya dapat terhindarkan jika mata uang Renmimbi mengalami apresiasi. Selama pemerintah RRT terus memanipulasi pasar valuta asing, teori manajemen risiko tidak akan mampu menyelamatkan perekonomian RRT dari depresi. Untuk itu RRT harus mengubah orientasi kebijakan fiskalnya menjadi kebijakan moneter. Begitu pula kebijakan neraca pembayarannya harus diubah menjadi kebijakan moneter. Terlepas dari semuanya itu, RRT harus menggunakan rejim nilai tukar yang fleksibel agar risiko depresi ekonomi juga semakin melemah.

Dalam konteks manajemen risiko haruslah juga mampu menggunakan model yang tepat seperti model Mundell Fleming. Penggunaan pendekatan Moderen Monetary Theory akan membuat ancaman depresi semakin besar karena ancaman inflasi. RRT juga harus mengubah pandangannya akan permintaan akan uang. Teknokrat di RRT harus searah dengan ekonom Cambridge yang memasukkan tingkat suku bunga sebagai salah satu faktor penting dalam permintaan akan uang. Jika ini yang terjadi maka manajemen risiko di RRT akan pro terhadap peningkatan suku bunga tabungan dalam rangka meningkatkan tabungan rumah tangga di RRT.

Langkah ini diperlukan agar saving rate tetap tinggi di RRT sehingga depresi di RRT dapat dihindarkan! Bagi Indonesia, aplikasi manajemen risiko harus semakin diterapkan jika perekonomian RRT mengalami kolaps, dan sejalan dengan kebijakan industrialisasi di Indonesia yang semakin tidak kredibel karena dikerjakan oleh konsultan asing yang punya kepentingan bisnis. Konsekuensinya, Indonesia akan semakin berpotensi terperangkap dalam pendapatan menengah yang jika dibarengi oleh depresi perekonomian akan menyulitkan aplikasi manajemen risiko sebagai sebuah ilmu terapan yang bermanfaat.

BERITA TERKAIT

Mimpi Indonesia Menjadi Negara Ekonomi Besar

Oleh: A. Prasetyantoko, Ekonom dan Rektor Unika Atma Jaya Jakarta Bukan sekali saja, Indonesia diprediksi menjadi salah satu powerhouse perekonomian…

Urgensi Penguatan Kapasitas Lembaga Perwakilan

Oleh:  Syarif Hidayat, Profesor Riset di LIPI "Kebiasaan tidur, sekali kerja ngawur", itu di antara poster yang diusung salah seorang…

Waspadai Ancaman Terorisme Jelang Pelantikan Jokowi

  Oleh : Muhammad Zaki, Pemerhati Sosial Politik  Peristiwa penyerangan terhadap Menko Polhukam, Wiranto membuktikan bahwa gerakan teroris masih harus…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewaspadai Aksi Terorisme Jelang Pelantikan Presiden-Wapres

Oleh : Dewi Widyasari, Pemerhati Sosial Politik   Ancaman dari kelompok radikal untuk menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden kian…

Peringkat Daya Saing, PR Jokowi di Periode Kedua

Oleh: Sarwani, Pemerhati Ekonomi Kado tak sedap datang dari World Economic Forum (WEF). Di akhir periode pemerintahan Presiden Joko Widodo…

Masyarakat Bijak Bermedsos, Waspada Terjerat UU ITE

  Oleh : Hanum Titian, Pengamat Media    Kasus provokasi dan pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik kembali terjadi. Salah…