KKP Serahkan Bantuan Sarana Budidaya dan Ikan Segar di Jabar

NERACA

Ciamis - Dalam rangka meningkatkan konsumsi ikan masyarakat melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjungi sejumlah pondok pesantren (Ponpes) di Jawa Barat. Senin (8/4), Menteri Susi mendatangi tiga Ponpes sekaligus yaitu Ponpes Al-Quran Cijantung, Kabupaten Ciamis; Ponpes Darussalam, Kabupaten Ciamis; dan Ponpes Al Munawar, Pasir Bokor, Tasikmalaya.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir mendampingi, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto dan Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina.

Menurut Menteri Susi, selain mengampanyekan Gemarikan guna menangggulangi persoalan stunting (gangguan pertumbuhan), kegiatan tersebut juga bertujuan untuk mendorong Gerakan Masyarakat untuk Sadar Mutu dan Karantina Ikan (Gemasatukata) melalui pengenalan ikan segar dan berkualitas.

Untuk itu, dalam kesempatan ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dan BKIPM menyerahkan sejumlah bantuan program budidaya bioflok, benih ikan, dan ikan segar di ketiga Ponpes dimaksud.

Di Ponpes Al Quran Cijantung diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 20.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan ikan, dan 1,75 ton ikan sarden segar. Di Ponpes Darussalam diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.500 kg pakan mandiri, dan 1,75 ton ikan sarden segar. Sementara di Ponpes Al Munawar diserahkan 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan mandiri, dan 1 ton ikan sarden segar.

Bantuan KKP berupa ikan segar tersebut dimasak untuk dimakan bersama para santri dan sebagian dibagikan bagi masyarakat sekitar. Menurut Menteri Susi, generasi muda perlu diajarkan kecintaan mengonsumsi ikan. Harapannya dapat mengubah pola konsumsinya dari daging merah dan aneka junk food menjadi seafood atau makanan produk kelautan dan perikanan. Ia melanjutkan, misi ini merupakan tugas bersama seluruh komponen bangsa dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas melalui konsumsi ikan yang memiliki kandungan gizi menyehatkan dibandingkan protein hewani lainnya.

Peningkatan konsumsi ikan ini merupakan program pemerintah lainnya di samping menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan menjadikan laut masa depan bangsa. Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah berupaya menurunkan angka gangguan pertumbuhan (stunting) di Indonesia. "Di Indonesia, yang 1 dari 3 anak tumbuh stunting," tutur Menteri Susi.

Usaha ini pun sudah mulai menumbuhkan hasil. Dengan peningkatan angka konsumsi ikan nasional dari tahun ke tahun menjadi 50.69 kg per kapita di tahun 2018, data terbaru Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan terjadi penurunan angka stunting di Indonesia dari 37,8 persen di tahun 2013 menjadi 30,8 persen di 2018. "Mudah-mudahan nanti tidak ada lagi yang stunting. Kalau Ibu masak untuk anak-anak, sediakan masakan ikan," imbuhnya.

Hal ini karena selain bagus untuk pertumbuhan tubuh anak, kandungan gizi pada ikan juga dinilai bagus untuk perkembangan otak dan kecerdasan manusia. Untuk itu, Menteri Susi mengimbau seluruh pesantren untuk tidak lupa menyediakan menu makanan ikan setiap harinya.

Menteri Susi menyebut, konsumsi ikan masyarakat Jawa Barat masih jauh lebih baik daripada masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Ciamis dan Tasikmalaya misalnya, meskipun kedua daerah tersebut tidak memiliki laut, angka konsumsi ikan mereka berada di atas rata-rata konsumsi ikan nasional. Kendati demikian, angka tersebut masih di bawah konsumsi ikan di daerah timur Indonesia. "Di Jawa Barat ini saya lihat banyak sekali kolam-kolam, balong-balong. Setiap rumah punya kolam sendiri, pelihara ikan sendiri, dari nila, gurami, nilem, dan lainnya," kata Menteri Susi.

Guna meningkatkan produksi ikan untuk kebutuhan santri, Menteri Susi juga memperkenalkan budidaya sistem bioflok. Menurutnya, dengan sistem bioflok, dengan tempat yang kecil dapat dihasilkan ikan dalam jumlah yang besar. "Bisa dapat 1 ton per kolam dalam 100 hari."

Tak melulu bicara soal konsumsi ikan, dalam kesempatan tersebut Menteri Susi juga berbagi pengalamannya menegakkan kedaulatan di laut Indonesia. 'Tenggelamkan' yang kini sudah menjadi jargon merupakan sebuah upaya menyelesaikan permasalahan di laut Indonesia. (Fb)

BERITA TERKAIT

BI Perwakilan Jabar Terus Sosialisasikan 3D - Subang dan Bogor Rawan Peredaran Uang Palsu

BI Perwakilan Jabar Terus Sosialisasikan 3D   Subang dan Bogor Rawan Peredaran Uang Palsu NERACA Sukabumi - Bank Indonesia (BI) Perwakilan…

Pemprov Jabar Minta Pemkab Subang Buat Perda Sawah Abadi

Pemprov Jabar Minta Pemkab Subang Buat Perda Sawah Abadi NERACA Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan…

Perkuat Modal Ekspansi Bisnis - Estika Tata Tiara Bakal Rilis Obligasi dan Sukuk

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) atau perusahaan pengolahan daging yang lebih dikenal produk…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Akuakultur - KKP Lakukan Konsultasi Publik Aturan Usaha Pembudidayaan Ikan

NERACA Bandung - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakuan konsultasi publik terkait rencana pemberlakuan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang…

RI-Belanda Kolaborasi Genjot Daya Saing Industri

NERACA Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda sepakat untuk terus berkolaborasi dalam upaya peningkatan daya saing industri nasional…

KIARA: KPK Harus Tangkap Mafia Pengadaan Kapal Nelayan

NERACA Jakarta – Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut tuntas dan menangkap mafia…