Investasi Infrastruktur Menjadi Acuan Di 2012

NERACA

PT Trimegah Aset Management (TRAM) meluncurkan reksa dana saham Infrastruktur yang diluncurkan pada 28 Maret 2012. Sesuai namanya, reksa dana saham ini diperuntukkan bagi investor untuk berinvestasi pada aset-aset yang berbasis infrastruktur di Indonesia.

Rencananya, sebanyak 80%-100% dari portofolio akan ditempatkan pada efek ekuitas, dengan 60% di antaranya ditempatkan di sektor yang terkait dengan infrastruktur sebagai portopolio inti.

Selain itu, TRAM Infrastruktur Plus juga akan menginvestasikan 0%-40% dana investor pada portofolio Plus di sektor yang tidak terkait dengan infrastuktur. “sekitar 0%-20% dari total portofolio juga bisa ditempatkan pada efek utang dan atau instrumen pasar uang dalam negeri yang jatuh tempo kurang dari satu tahun,” ungkap Direktur Utama Trimegah Aset Management, Denny R. Thaher.

Denny menjelaskan, portofolio infrastruktur merupakan portofolio yang terdiri dari sektor yang memiliki hubungan langsung dan sektor yang mendapat manfaat tidak langsung dari pembangunan infrastruktur. Sektor yang termasuk kategori infrastruktur misalnya jalan tol, industri pasar, kontruksi, properti, perbankan. Adapun portofolio plus yang dimaksud dalam reksa dana saham baru ini akan menjangkau aset-aset di sektor prospektif lainnya seperti konsumen, ritel, perkebunan dan lainnya.

Keputusan TRAM menerbitkan reksa dana saham berbasis infrastuktur ini memiliki alasan yang sangat kuat. Menurut Denny, pada tahun-tahun mendatang, sektor infrastruktur akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini sudah ditunjukkan pemerintah dengan mencanangkan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan memperbaiki infrastruktur.

Program MP3EI berpotensi untuk mengundang investasi senilai Rp 4.012 triliun hingga tahun 2025 atau sekitar Rp 267 triliun setiap tahun. Dari total rencana investasi tersebut, sekitar 44% akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur di enam koridor ekonomi Indonesia. “Program MP3EI menunjukkan bahwa pemerintah sangat fokus membenahi infrastruktur,” jelas Denny.

Lanjutnya, pembangunan infrastruktur juga akan semakin cepat karena didukung oleh payung hukum yang kuat dan bersumber pendanaan yang semakin murah. Melalui UU pembebasan lahan yang telah disahkan akhir tahun 2011, proses pembebasan lahan akan berlangsung lebih cepat. Pasalnya, dalam UU tersebut pemerintah atau pemerintah daerah menjamin tersedianya tanah untuk kepentingan umum beserta pendanaannya.

Kembalinya peringkat Indonesia ke level investment grade setelah 14 tahun, akan mempermudah akses pembiayaan proyek-proyek infrastruktur. Denny mengatakan, peringkat investment grade dari dua lembaga pemeringkat utang dunia yaitu Fitch Rating dan Moody’s Investor service akan mendorong arus investasi ke Indonesia semakin deras. “Peringkat itu juga akan menurunkan biaya pendanaan untuk pembangunan infrastruktur kita,” katanya.

Denny menambahkan, jalan tol merupakan sektor yang akan mendapatkan manfaat terbesar dari disahkannya undang-undang pembebasan lahan. Rendahnya penetrasi jalan tol dan tingginya kebutuhan masyarakat akibat meningkatnya penjualan otomotif membuat proyek tol bakal tumbuh cepat. Dalam tiga tahun ke depan pembangunan jalan tol akan tumbuh rata-rata 21% per tahun. Angka tersebut naik sepuluh kali lipatnya dibandingkan pertumbuhan empat tahun terakhir.

Saat ini penetrasi jalan tol di Indonesia baru 148 km/jam populasi, sangat jauh dibandingkan China yang mencapai 1.308 km/juta populasi. Sementara sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat, penjualan otomotif juga terus melaju cepat. Tahun ini, Gaikindo memprediksi penjualan kendaraan roda empat mencapai 930.000-950.000 unit, tumbuh 4%-6% dari tahun lalu sebanyak 893.420 unit.

“Pembangunan jalan tol juga akan mendorong harga tanah meningkat. Hal ini tentunya akan berdampak langsung bagi sektor properti, terutama untuk property developer yang berada di Jakarta dan sekitarnya,” jelasnya Denny.

Pembangunan infrastruktur juga akan berdampak positif bagi sektor lain seperti kontruksi, energi dan juga perbankan. Dengan banyaknya proyek infrastruktur dari pemerintah maupun private sector, sektor kontruksi akan mendapat manfaat langsung dari melimpahnya proyek pembangunan. Hingga tahun 2014, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional memperkirakan ada 79 proyek kemitraan swasta publik dengan total nilai sekitar Rp 480 triliun.

Bagi perbankan, berjalannya proyek-proyek infrastruktur akan memberi keuntungan bagi pertumbuhan kredit investasi. Saat ini total kredit perbankan baru mencapai 26% dari Gross Domestic Product (GDP). Jumlah tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan perbankan di regional yang mencapai 91% dari GDP.

Selama ini, banyak perbankan di dalam negeri yang telah memberikan komitmen kredit untuk pembangunan tol. Tapi, lantaran proyek tolnya terhambat masalah pembebasan lahan, kredit yang telah disepakati tersebut tak kunjung ditarik oleh debitur dan menjadi undisburse loan.

Di sektor energi, "Pemerintah menganggarkan investasi senilai Rp 681 triliun untuk pengembangan infrastruktur di bidang power and energy dalam program MP3EI. Artinya, hingga 15 tahun ke depan akan ada pembangunan power plant secara masif." Dampaknya kemudian adalah, konsumsi batubara di dalam negeri akan terus berkembang.

Sebab, di tahun 2011, 84% dari total konsumsi batubara domestik berasal dari power plant. “Jadi pembangunan infrastruktur akan memberikan efek domino yang dahsyat bagi semuk sector ekonomi. Dan peluang itulah yang ingin dimanfaatkan TRAM dengan menerbitkan reksadana infrastruktur Plus.”

Pengamat Pasar Modal Ridwan Noviyanto, Selasa 20/03 menambahkan, investasi infrastruktur pada tahun ini akan berpotensi bagus, investasi property pada saat ini sangat bagus. Ini masih ada dampak terhadap predikat yang didapatkan oleh Indonesia.

Investasi infrastruktur sangat membantu perekonomian kita, jika memang investasi ini banyak peminatnya, kita ketahui investasi asing akan banyak masuk ke pasar modal Indonesia dan pada saat ini investor dari Arab Saudi sudah mulai masuk ke pasar modal Indonesia, ini menjadi acuan bagi pasar modal Indonesia menjadi positif, ungkapnya.

Related posts