Investasi Sukuk Ritel Bukan Tanpa Resiko

NERACA

Jenis investasi apapun pasti mendapatkan risiko, investasi sukuk ritel yang sudah mendapatkan pembayaran pokok dan imbalannya sudah dijamin dengan pemerintah, investasi melalui pasar sukuk ritel bukan tanpa risiko.

Pengamat pasar modal Ridwan Novayanto, Selasa (20/3) mengatakan, risiko yang dihadapi oleh para investor adalah risiko pasar ataumarket risk, dan suku bunga. Yaitu apabila harga sukuk negara ritel di pasar sekunder turun. Jika hal ini terjadi, sebaiknya investor tidak melakukan aksi jual. "Pemerintah menyarankan agar investor tidak panik jika terjadi penurunan harga. Sebab, investor akan tetap dapat imbalan setiap bulan. Pokok yang dibayarkan tetap 100%. Harga turun sebaiknya investorhold to maturity.”

Adapun risiko yang harus diwaspadai oleh investor, terhadap sukuk negara ritel ini dapat dijual di pasar sekunder, dijaminkan, atau digadaikan kepada pihak lain. Resiko ini masih terjadi. Investor cenderung menganggap, berinvestasi melalui sukuk negara ritel sangat menguntungkan, sehingga mereka menyimpan hingga jatuh tempo.

Lanjutnya, "Sehingga ketika mau beli di pasar sekunder susah, ini mungkin kondisinya bisa saja berbalik. Seperti SBI jika naik imbalannya masih tetap, ketika akan dibayar di pasar sekunder harganya turun.”

Sedangkan, surat Berharga Negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset Surat Berharga Syariah Negara, yang dijual kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual di Pasar Perdana dalam negeri.

Sukuk ritel diterbitkan dengan tujuan, diversifikasi sumber pembiayaan APBN, Memperluas basis investor, Memberikan alternatif instrumen ritel yang berbasis syariah, Pengembangan pasar keuangan syariah dan memperkuat pasar modal Indonesia dengan mendorong transformasi saving-oriented society menjadi investment-oriented society.

Sukuk ritel diterbitkan dalam bentuk tanpa warkat yang dapat diperdagangkan di pasar bursa, sehingga investor nantinya hanya akan memperoleh Konfirmasi Kepemilikan Surat Utang Negara yang diterbitkan oleh sub registry.

Investasi yang aman, karena pembayaran pokok dan imbal hasilnya dijamin oleh Pemerintah berdasarkan Undang-Undang. Bagi investor syariah, investasi ini tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, sehingga selain aman juga menentramkan.

Investor memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata tingkat bunga deposito bank BUMN. Imbal hasil bersifat tetap, dibayarkan setiap bulan dan dibayarkan sampai dengan jatuh tempo. Prosedur pembelian dan penjualan yang mudah dan transparan.

Dapat diperdagangkan di pasar sekunder sesuai dengan harga pasar, sehingga investor berpotensi mendapatkan capital gain di pasar sekunder. Pembayaran imbal hasil dan nilai nominal dilakukan secara tepat waktu dan online ke dalam rekening tabungan investor. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi serta mendukung pembiayaan pembangunan nasional.

Investasi sukuk ritel pada prinsipnya merupakan investasi yang bebas dari resiko gagal bayar “yaitu kegagalan Pemerintah untuk membayar imbal hasil dan nilai nominal kepada investor.” Sedangkan pada transaksi di pasar sekunder dimungkinkan adanya risiko pasar dan risiko likuiditas berupa capital loss akibat harga jual sukuk negara ritel yang lebih rendah dibandingkan harga belinya. Risiko ini dapat dihindari dengan cara tidak menjual Sukuk Negara Ritel sampai dengan jatuh tempo.

Namun kita harus jeli dalam berinvestasi pada pasar modal, jangan semata-mata kita akan mendapatkan keuntungan yang besar tetapi kita harus mengetahui resiko yang harus dihadapi dikemudian hari, agar kita bisa mengantisipasi sebelum terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan oleh para investor.

Related posts