Bergairahnya Investasi Sukuk Ritel 2012

NERACA

Tahun 2012 memang bagus untuk berinvestasi. Macam dan jenis investasi pun bervariasi seperti investasi reksadana, obligasi, dan property, jenis investasi ini yang banyak peminatnya pada tahun ini, namun tidak demikian dengan investasi sukuk ritel yang juga mulai bergairah dipasar modal pada awal tahun 2012 ini.

Bagi Indonesia, berkembangnya investasi reksadana menawarkan banya pilihan. Terlebih dengan semakin dekatnya peluang RI mendapat upgrading rating investasi menjadi investment grade. Kondisi ini membuka peluang profit di Indonesia, apalagi dengan yield yang relatif masih lebih tinggi dibanding negara-negara sejenis di Asia, maupun yield yang ditawarkan oleh negara-negara maju, ungkap Ridwan Novayanto kepada Neraca Selasa 20/03.

Lanjutnya, dengan investasi yang tinggi dan suku bungga yang 5,2% investasi sukuk ritel diyakinkan akan banyak investor yang akan masuk, ini di sebabkan kondisi perekonomian kita masi bagus untuk berinvestasi di pasar modal.

Ini disebabkan, dari predikat yang didapatkan indonesia yang mendapatkan invesment grade, banyak kalangan investor berpendapat bahwa investasi sukuk pada tahun ini akan ramai di pasar modal. Ini menjadi acuan untuk para investor dari kalangan menengah maupun kalangan atas akan menginvestasikan dana mereka kepasar modal.

Kita ketahui investasi sangat penting untuk mengelolah dana kita dengan benar, maka dari itu investasi yang menjadi jalan keluar untuk menjawab semua itu, namun banyak investor yang masi ragu untuk terjun kepasar modal, namun, dari sisi lain kita lihat banyak masyarakat yang tidak mengerti dengan cara untuk masuk kepasar modal dan keuntungan apa yang di dapat? Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mensosialisakan kepada masyarakat.

Sedangkan, jika kita lihat penerbitan SR 003 tahun 2011 lalu tampaknya tak berbeda jauh dengan SR 001 dan SR 002 yang diterbitkan pada satu sampai dua tahun sebelumnya. Dari sisi akad, harga nominal per unit, minimum pembelian, tenor, dan target pasar semuanya tak berbeda. Namun pemerintah baru-baru ini menerbitkan sukuk ritel seri SR 004 pada 05/03 kemarin, ini juga tidak jauh berbeda dengan seri-seri sebelumnya.

Ridwan mengatakan, Pemerintah sejauh ini optimis penerbitan SR 004 akan mendulang sukses. Hal ini mengingat penerbitan sukuk ritel sebelumnya memperoleh respon positif di pasar dan tren dana yang terhimpun terus meningkat. Pada penerbitan sukuk ritel perdana SR 001 tanggal 25 Februari 2009, dana yang terhimpun sebesar Rp 5,556 triliun. Pada penerbitan SR 002 tanggal 10 Februari 2010, dana yang terhimpun meningkat menjadi Rp 8,03 triliun dan penerbitan SR 003 yang sangat bagus perkembangannya.

Untuk penerbitan SR 004, diprediksi akan terjadi peningkatan pula atau setidaknya akan berada dalam kisaran himpunan dana SR 001, SR 002 dan SR 003. Dalam penerbitan SR 004 kali ini, pemerintah tidak menetapkan target indikatif. Pemerintah lebih memilih wait and see seberapa besar penjualan jumlah instrumen yang dilakukan agen penjual.

Namun demikian, meski optimisme akan pasar sukuk ritel yang cukup besar dan menunjukkan tren meningkat, pemerintah tidak boleh mengabaikan pentingnya inovasi. Meski sukuk ritel memiliki keunggulan dalam hal underlying asset, bebas resiko gagal bayar default risk, dan dapat diperdagangkan tradeable, tetap saja sukuk ritel membutuhkan inovasi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya shocks yang unpredictable akibat kejenuhan.

Sedangkan, Kepala Seksi Pelayanan Publik dan Hubungan Investor Kementerian Keuangan RI Erri Hariyanto mengatkan, sampai sekarang ini Penawaran Sukuk Ritel (SR)-004 oleh pemerintah mendapat respons positif dari investor. Sampai pekan lalu jumlah pemesanan nyaris mencapai Rp 8 triliun. Meski enggan menyebutkan target SR 004, kita melihat sejak dilakukan masa penawaran pada 5 Maret 2012, dipercaya pemesannya sudah melebihi target.

“Hingga akhir pekan lalu nilai pemesanannya sudah mencapai Rp 7,9 triliun. Ini menunjukkan animo masyarakat terhadap sukuk seri SR-004 sangat besar, dan mungkin minggu ini sudah memenuhi target,” tuturnya.

Lanjutnya, Erri mengatakan saat dilakukan penawaran pertama, beberapa agen penjual sudah kembali mengajukan pemesanan dalam jumlah besar. “Saat monitoring, seri SR-004 sudah habis di agen penjual,”

Menurut Erri penerbitan Sukuk Negara Ritel (SNR) dilakukan sebagai upaya untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). “SNR jadi alternatif instrumen pembiayaan yang sesuai syariah.”

Sukuk negara ritel 004 sendiri diterbitkan pada 21 Maret 2012, dengan nominal per unit Rp1 juta. Sementara untuk tanggal jatuh tempo pada 21 September 2015. Target investor sukuk negara ritel 004 tersebut merupakan individu warga negara Indonesia .

Underlying asetnya merupakan proyek APBN 2012. Minimum pemesanan lima juta dan kelipatannya. Tingkat kupon bunga sebesar 6,25% dengan imbalan kupon tetap dibayarkan setiap bulan.

Tantangan

Terdapat sejumlah tantangan bagi pemerintah dalam melakukan inovasi penerbitan sukuk ritel. Pertama, selayaknya investor ritel memperoleh pemanfaatan yang lebih besar dari peruntukan sukuk ritel. Kebutuhan akan hadirnya sukuk berbasis proyek hingga saat ini belum juga terealisasi. Padahal, pemanfaatan dana berbasis aset akan lebih bermakna dan bernilai tambah daripada sekedar untuk menambal defisit anggaran.

Kedua, tidak hanya sukuk ritel, kebanyakan akad sukuk negara yang telah diterbitkan pemerintah Indonesia berbasis ijarah. Hal ini tidak lepas dari tujuan penerbitannya untuk membiayai APBN secara umum. Pemerintah seyogyanya berupaya untuk menggunakan akad lain untuk memperoleh manfaat yang lebih besar. Hal ini mengingat implikasi dari akad ijarah relatif minim kepada sektor riil. Apalagi, dana penjualan sukuk yang diterima pemerintah cenderung tidak digunakan untuk sektor produktif.

Ketiga, meski sukuk merupakan instrument pembiayaan berbasis syariah, namun faktanya keikutsertaan bank syariah dalam penerbitan sukuk sangat kecil. Sejak terbit perdana tahun 2009, hanya ada satu bank syariah yang menjadi agen penjualan. Meski sejumlah bank syariah ditahun 2010 sudah mulai melakukan kerjasama untuk menjadi sub-agen penjualan, pemerintah tetap saja perlu memikirkan bagaimana memberi diskresi bagi bank syariah untuk terlibat lebih besar dan ikut menerima manfaat sukuk.

Meski bank syariah dinyatakan tahan terhadap badai krisis, namun realitas menunjukkan bahwa bank syariah juga dapat mengalami tekanan likuiditas dan membutuhkan instrumen likuiditas. Untuk itu, pemerintah perlu memikirkan bagaimana menjadikan sukuk sebagai instrumen likuiditas bagi bank syariah.

Keempat, pasar sekunder sukuk ritel di Indonesia tidak terlalu likuid karena pangsa pasar yang masih relatif kecil. Untuk itu, pengembangan pasar sekunder harus distimulus. Pemerintah dapat mencoba memposisikan diri menjadi stand by buyer.

Kelima, pemerintah perlu mengupayakan jenis underlying asset sukuk ritel yang produktif. Beberapa tahun belakangan ini, mulai marak sejumlah negara menerbitkan sukuk dengan return yang berasal dari kegiatan produktif. Salah satunya adalah bandara dan pesawat. Sukuk yang menggunakan bandara maupun pesawat sebagai underlying asset lebih menjanjikan daripada return sukuk yang berbasis properti. Tidak terelakkan, meski pemerintah menjamin sukuk ritel bebas resiko gagal bayar, tetap saja investor ke depan akan lebih jeli memperhatikan kualitas pendapatan arus kas dari dana yang mereka investasikan.

Related posts