Sukses Bisnis Kuliner Dengan Kesabaran - Owner Restaurant Pelangi Seafood-Makassar : Mince Phieter

NERACA

Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin melihat indahnya kupu-kupu, kata bijak Antoine De Saint, penulis asal Perancis memang benar. Begitupun dengan semangat perempuan asal Makassar ini. Kesabaran, ketekunan, dan kegigihannya untuk bertahan demi kemajuan bisnis kulinernya kini telah membuahkan hasil.

Adalah Mince Phieter, 45 tahun, bersama sang suami tercinta Rachman Gozali sebagai pemilik Restaurant Pelangi Seafood-Makassar dan sebuah perusahaan jasa pengamanan ternama yang menjadi buah dari kesabaran yang kini ia petik, “Semua kami lakukan dengan nothing to lose. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan,” ucap sosok yang kini dapat menyaksikan elok dan indahnya 'kupu-kupu' yang ia bangun.

Mince, akrab ia disapa pun berkisah. Sebelumnya ia pernah bekerja disebuah perbankan di Sulawesi, lalu ketika perusahaan memutasi dirinya ke Jakarta tahun 1998, bisnis kuliner pun diliriknya. Setelah pundah dua tahun di Kota Jakarta, ucap Mince mengenang, keinginannya membangun sebuah bisnis kuliner kian menggebu, terlebih ia dan sang suami memang memiliki latarbelakang keluarga yang paham menjalankan bisnis kuliner sejak tahun 1960 di Kota Makassar.

Dan di tahun 2000 keinginannya pun terwujud dengan berdirinya Restaurant Pelangi Seafood di Jalan Boulevard Raya Blok TA 2/21 Jakarta Utara, sebuah restaurant yang menyuguhkan aneke kuliner daerah asal Makassar.

Meski untuk membangun usaha bisnis kuliner dianggap sangat sulit untuk dapat berkiprah, ia tetap berupaya meyakini dirinya bila langkah yang diambil adalah benar. “Memang untuk membangun bisnis kuliner, apalagi masakan dengan menu daerah, tidak semudah membalikan telapak tangan. Kita harus sabar itulah yang harus dilakukan semua pebisnis,” ungkapnya memetik pengalaman setelah dua tahun bisnis kulinernya berdiri dan tidak menunjukkan potensi seperti yang ia bayangkan. Dan kata, “sabar” pun mulai menjadi bagian dirinya.

Kesabaran dan ketekunan Mince pun akhirnya membuahkan hasil. Bahkan dari sinilah rentang bisnis kuliner yang dibangun Mince mulai berkibar. Tahun 2005 sebuah cabang restaurant yang sama ia bangun di Jalan Wahid Hasyim Jakarta, lalu tahun 2008 kembali ia dirikan di Wilayah Tanjung Duren Jakarta Barat. Bahkan bisnis security outsourcing melalui PT Multi Karya Sarana Abadi (MKSK) mulai dirambahnya yang kini telah berkembang sangat memuaskan.

Ia pun berencana akan membangun dua cabang lainnya di Wilayah Jakarta Selatan dan Kota Makassar pada tahun 2012 ini, “Semoga impian kita membuka cabang di Makassar dan Wilayah Jakarta Selatan dapat terwujud di tahun 2012 ini. Kita ingin mencari lokasi yang strategis, nyaman dan parkir yang memadai,” ungkapnya berharap. Kini dengan 85 orang karyawan restaurant dan ratusan karyawan PT MKSK, ia mulai memetik hasil, “Kuncinya adalah kesabaran,” ucapnya.

Impian dan Sabar

Mewujudkan impian dengan kesabaran, memang begitu melekat dibenak Mince. “Ternyata tak mudah membangun bisnis kuliner. Kita butuh kesabaran,” ungkapnya. Ia mengenang, ketika kebimbangan untuk melanjutkan usaha setelah dua tahun berdiri, justru ia menerima tawaran sebuah lokasi untuk membuka restoran lebih permanen, “Syukurlah ada teman yang membantu untuk mendapatkan kredit di bank,” ungkapnya. Sejak itu kebimbangan hatinya pupus dan menjadi momentum untuk bangkit dan berkembang, “Inilah jalan yang harus aku lakukan,” ucapnya membulatkan tekad.

Saat memiliki lokasi ini (Kelapa Gading), ucap Mince, ia semakin yakin bila sebenarnya menjalankan bisnis kuliner hanya membutuhkan waktu untuk bangkit. Tak segan ia bertanya dengan para pelanggannya seputar sajian yang dihidangkan dengan harapan dapat menangkap keinginan dan memuaskan para pelanggannya, “Saya sering bertanya dengan mereka (pelanggan), agar kita mendapat masukan baik kritik, saran, bahkan pujian dalam memperbaiki pelayanan, penyajian dan cita rasa hidangan yang ditawarkan,” ujarnya.

Strateginya meraba keinginan pelanggan nyatanya jitu ia lakukan. Sejumlah pelanggan merasa puas dan senang dengan pelayanan serta hidangan yang ditawarkan. Sebuah ikatan emosional yang berhasil ia rajut dengan para pelanggan untuk kemajuan bisnisnya.

Bagi Mince menjaga citarasa merupakan harga mati. “Kita sadar kalau ingin menjual masakan daerah di Jakarta dengan pelbagai latarbelakang suku dan ‘lidah’, tentu tidak mudah. Karena itu kita berusaha agar masakan yang kita sajikan dapat diterima disemua lapisan termasuk bagi ‘lidah’ orang Makassar. Dan itu sudah terbuktikan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, beberapa pelanggan yang baru tiba ke Jakarta langsung ke restaurant Pelangi untuk mencicipi masakan, “Mereka bilang hidangan kita lebih enak dari aslinya,” ucapnya bangga.

“Saya yakin banyak masakan enak. Namun menjual masakan daerah berbeda dengan masakan franchise lainnya,” ungkapnya. Karena dalam menjalankan bisnis kuliner, kata Mince, orang Makassar akan membangun hubungan dekat dengan pelanggannya, sekalipun ia seorang pemilik restaurant.

Ia berprinsip dalam menjalankan usaha, ia tidak pernah menargetkan profit yang harus dicapai. Karena dengan manargetkan profit, jelas Mince, kita akan terjebak untuk berusaha terus-menerus meningkatkan profit dan terkadang akan memiliki dampak buruk bagi karyawannya. Misalnya untuk mencapai target yang diharapkan, pemilik memangkas penghasilan para karyawannya.

“Buat saya, kita jalankan usaha dengan nothing to lose, cukup untuk opersional, gaji karyawan, membayar kebutuhan listrik atau penggunaan air bagi saya rasanya sudah cukup,” tutur perempuan penggemar olahraga badminton yang tampil low profile ini menjelaskan.

Perhatiannya pada kesejahteraan para karyawan diperusahaan yang dinahkodainya ia tunjukkan dengan memberi fasilitas jaminan kesehatan melalui Jamsostek bagi karyawan dan keluarganya. Hal ini sebagai upaya meningkatkan gairah kerja, loyalitas dan tentunya meningkatkan kualitas hidup segenap karyawannya.

“Saya sangat memahami kebutuhan karyawan, karena saya pun pernah menjadi seorang karyawan bawahan,” tutur mantan marketing dipelbagai lembaga keuangan sejak tahun 1985 hingga tahun 2010 lalu.

Ia memandang bila kesuksesan itu tanpa batas, “Sebenarnya untuk meraih kesuksesan,” kata Mince, tidak sulit asalkan kita memiliki komitmen yang tinggi terhadap bidang pekerjaan yang kita lakukan.

Menurut Mince, ada beberapa hal yang patut dimiliki seorang enterpreuner. Antara lain; ia harus dapat berbagi dengan sesama, jangan pernah mengeluh, dan enjoying pada bidang pekerjaan yang dilakukannya dengan kesabaran dan semangat berusaha.

“Saya bangga untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain, termasuk dalam membantu pemerintah meski dalam skala kecil dengan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” ungkap sosok yang menjadi donatur tetap pada sebuah yayasan cacat ganda didaerah Tangerang ini menjelaskan.

Related posts