Pemerintah Jangan Jatuh di Lubang yang Sama - IPO BUMN

NERACA

Jakarta - Setelah nasibnya terkatung-katung, jika tak ada halang-rintang, PT Semen Baturaja (Persero) akan melepas sahamnya sebesar 30% ke publik melalui mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada kuartal III-2012 mendatang. Perseroan menargetkan mendapatkan dana sebesar Rp 1 triliun yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi serta memperkuat struktur permodalan.

Selain Semen Baturaja, menurut rencana anak usaha PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Gas atau Pertagas, juga akan go public menjelang tutup tahun 2012. Meski begitu, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan pemerintah dalam melego saham Semen Baturaja dan Pertagas ini.

Reza Priyambada menyebutkan setidaknya ada empat hal. Pertama, pelaku pasar atau investor ingin melihat saham sektor apa yang ingin go public. Kedua, perkembangan dan kinerja perusahaan. Ketiga, evaluasi harga saham perdana. Terakhir, proses penentuan harga saham perdana.“Yang paling urgent itu poin terakhir. Karena investor nggak mau kejadian IPO Krakatau Steel dan Garuda Indonesia terulang kembali. Saat itu kan paparan publik diundur karena belum ada kata sepakat mengenai kesesuaian harga. Alhasil, nilainya jeblok saat listing. Artinya, yang go public ini perusahaan BUMN, faktor politis sangat kental terasa, seperti titipan saham,” jelas managing research PT Indosurya Asset Management ini kepada Neraca, Senin (19/3).

Lebih lanjut Reza mengatakan, mengenai evaluasi harga dimaksudkan agar investor dapat mengetahui apakah harga yang ditawarkan mahal atau murah. Ada beberapa poin dalam menentukan harga, salah satunya, melalui price earnings ratio (PER), yaitu rasio yang menggambarkan keuntungan emiten saham (company's earnings) terhadap harga saham mereka (stock price).

Perhitungan rasio PER ini, sambung dia, dapat dilakukan dengan cara membagi harga saham saat ini (current price of the stock) dengan keuntungan tahunan per saham (annual earnings per share/EPS). Dia menambahkan, baik Semen Baturaja dan Pertagas, seharusnya dilakukan di kuartal kedua atau kuartal empat tahun ini. Pasalnya, ketika itu pergerakan harga saham cenderung naik.“Kalau kuartal tiga, sangat riskan sebab periode Agustus sampai Oktober pasar saham dunia sedang turun. Saya khawatir harga perdana keduanya anjlok. Apalagi, Semen Baturaja bergerak di sektor infrastruktur dan Pertagas di sektor energi. Kecuali, para penjamin emisi mereka (PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Bahana Securities) nantinya dapat meyakinkan pasar bahwa ekonomi global berprospek positif,” tukasnya.

Reza juga menilai, harga saham perdana yang sesuai untuk Semen Baturaja di level Rp 2.350-2.450 per lembar. Sedangkan, Pertagas di kisaran Rp 2.000-2.100 per lembar saham. Ditambahkannya pula, penentuan harga saham ini meliputi tiga macam, yaitu laporan keuangan, kapasitas produksi, dan volume penjualan.

Tunggu RUPS

Sementara kasus yang menghadang IPO Semen Baturaja, sengketa lahan dan permasalahan rekening dana investasi (RDI), telah diselesaikan. Diketahui, utang RDI sebesar Rp 68,65 miliar sudah siap untuk dibayar. Perseroan tinggal menunggu keputusan terkait teknis pembayaran utang RDI tersebut. Mengenai status lahan pabrik Semen Baturaja yang dimiliki PT KAI dan PT Pelindo II, kedua BUMN tersebut sudah bersedia menyewakan lahan miliknya dalam jangka panjang 30 tahun ke depan.

Ketika dihubungi melalui telepon, Direktur Utama Pertagas, Gunung Sardjono Hadi mengatakan saat ini perseroan tengah mempersiapkan dokumen lengkap, seperti laporan keuangan telah diaudit tahun buku 2011 serta menyeleksi legal dan financial advisor. “Untuk legal dan financial advisor akan keluar bulan ini pemenangnya. Selain itu, mengenai laporan keuangan akan diputuskan setelah rapat umum pemegang saham (RUPS) awal April mendatang,” paparnya kepada Neraca, kemarin.

Di tempat terpisah, Direktur Utama Pertamina, Galeila Karen Agustiawan menambahkan, tidak hanya Pertagas, namun pihaknya juga mempersiapkan PT Pertamina Drilling Services Indonesia untuk menawarkan saham perdana. Untuk itu, Pertamina akan melihat kesiapan kedua anak perusahaan itu hingga akhir tahun ini.

Audit investigasi

Di tengah hingar-bingar IPO BUMN, pemerintah harus belajar dan tidak mengulang kesalahan pada kasus IPO Krakatau Steel dan Garuda Indonesia. Karena itulah, pemerintah harus melakukan audit investigatif terhadap BUMN yang bakal IPO melalui Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia, Haryajid Ramelan pernah bilang, audit investigatif IPO BUMN dinilai langkah yang sah.

Menurut dia, usulan audit investigasi tidak akan mempengaruhi saham BUMN di pasar. Sebaliknya, jika harga BUMN yang di awal sudah bagus, tentunya akan menjadi rebutan pelaku pasar untuk membeli. Selain itu, audit BPK terhadap BUMN yang ingin IPO ditunjukkan agar lebih transparan. Karena dalam penetapan harga IPO, diakuinya banyak unsur kongkalingkong.“Kejadian IPO Krakatau Steel dan Garuda kemarin menjadi pelajaran berharga. Tentu peran BPK sangat penting dalam audit BUMN yang akan IPO untuk menghindari spekulasi di dalam BUMN yang telah masuk tahap IPO. Yang pasti, langkah ini dimaksudkan agar dalam penentuan harga saham antara penjamin emisi dan perusahaan benar-benar murni tanpa ada intervensi,” tandas Haryajid. [ardi]

Related posts