Siapa Itu Intelektual?

Oleh: Pande K. Trimayuni, Co-writers buku “Activist as A Thinker and Practitioner, ARENA, Hong Kong, 1999. Member, Asian Public Intellectuals (The Nippon Foundation-Jepang) sejak 2001

Sebutan sebagai seorang intelektual mungkin sesuatu yang “sexy” bagi sebagian orang. Boleh saja seseorang merasa dirinya seorang intelektual, yang kadang dikerdilkan artinya hanya sebagai “pemikir”. Bermasalah ketika parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat keintelektualan tersebut mengandung kesalahan/kesesatan (fallacy). Lebih berbahaya lagi, jika kita merasa sebagai seorang intelektual dan orang lain tidak atau tidak cukup intelek dengan memakai parameter yang tidak pas tadi.

Sampai sekarang memang “keintelektualan “ masih menjadi perdebatan panjang.

Bagi mereka yang diidentifikasikan publik sebagai intelektual, titel ini justru lebih banyak mengundang kegalauan daripada kebanggaan. Pantaskah kami menyandang gelar tersebut? Sebagai seseorang yang kebetulan menjadi penerima award “Asian Public Intellectuals (API)”, setiap tahun selama belasan tahun kami sebagai API fellow diundang LIPI atau jaringan universitas di Asia yang disupport oleh The Nippon Foundation-Jepang itu untuk menndiskusikan secara seksama siapa dan apa peran seorang intelektual dalam kehidupan bermasyarakat.

Pesan yang saya tangkap dari tahun ke tahun selalu sama; seorang intelektual tidak hanya berpikir tetapi juga berbuat. Kesimpulan ini menurut saya memiliki argumenntasi yang solid, apa basis material Anda berpikir ketika Anda tidak berbuat sesuatu? Ketika Anda tidak berinteraksi dengan orang-orang? Ketika Anda tidak tahu dinamika yang sedang terjadi dalam masyarakat?

Keintelekan bukan diukur dari profesi, gelar kesarjanaan apalagi keturunan. Seseorang akan menjadi seorang intelektual “by default” ketika mampu melihat, merasakan, memikirkan dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh orang banyak. Dari seorang intelektual sejati kita bisa menangkap perpaduan pikiran, rasa dan karsa yang indah menggugah dan mennggerakkan.

Mengapa pikiran, rasa dan karsa harus berpadu? Ada sebagian orang yang memiliki kesalahan berpikir bahwa “pekerjaan” berpikir itu terpisah dari kerja-kerja lapangan/aktifisme sosial, terpisah dari rasa dan karsa. Bahkan ada yang percaya bahwa “kerja senyap” menara gading adalah keniscayaan bagi mereka yang pemikir. Ketika krisis terjadi, mereka tetap merasa bahwa tugas mereka hanya berpikir dan bahkan ada yang percaya bahwa dengan menjadi “pemikir” mereka memiliki posisi yang lebih tinggi dalam masyarakat. Ini kami alami di tahun 1998 ketika terjadi perdebatan keras diantara mahasiswa UI tentang apakah mahasiswa harus turun ke jalan, apakah mahasiswa harus bersatu dengan rakyat?

Antonio Gramsci (1891-1937) seorang aktifis dan pemikir marxis memperkenalkan konsep intelektual organik dimana seorang intelektual sejati tidak akan pernah memisahkan dirinya dari realitas sosial. Thesis-antithesis terhadap berbagai persoalan dalam masyarakat inilah yang kemudian akan menjadi landasan untuk merumuskan pemikiran/ ideologi dan strategi untuk bergerak dan mengorganisir perlawanan.

Kerja-kerja mental (berpikir) harus selaras dengan kerja-kerja turun ke akar rumput. Jangan sampai, kesibukan “berpikir” menjadi excuse/alasan untuk tidak bergerak. Jika itu sampai terjadi, maka bisa jadi kita adalah bagian dari apa yang disebut intelektual Perancis, Julien Benda sebagai “Intelektual yang berkhianat”, intelektual yang bukannya memperjuangkan kebenaran dan mengabdi untuk kepentingan orang banyak tetapi sibuk untuk memperjuangkan eksistensi diri atau kelompoknya sendiri.

BERITA TERKAIT

'Alarm' Defisit Transaksi Berjalan Indonesia

Oleh: Ahmad Iskandar, Dosen FE Universitas Ibnu Chaldun   Awan hitam yang membayangi perekonomian dunia dalam beberapa bulan terakhir, menjadi…

Peran Media dalam Menumbuhkan Optimisme Bangsa dan Suksesnya Pembangunan

  Oleh: Purista Anggara, Mahasiswa Sosial Politik UIN Jakarta Tak dimungkiri, kian pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini semakin memudahkan manusia…

Ekonomi Indonesia Rentan Resesi

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Pertumbuhan ekonomi global 2019 menunjukkan pelambatan. Bahkan beberapa negara…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Strategi Warganet Lawan Radikalisme Demi Lancarnya Agenda Pelantikan Presiden

  Oleh : Alfin Riki, Pegiat Media Independen Perang melawan radikalisme dan terorisme memang tidak pernah ada habisnya. Satu persatu…

'Alarm' Defisit Transaksi Berjalan Indonesia

Oleh: Ahmad Iskandar, Dosen FE Universitas Ibnu Chaldun   Awan hitam yang membayangi perekonomian dunia dalam beberapa bulan terakhir, menjadi…

Peran Media dalam Menumbuhkan Optimisme Bangsa dan Suksesnya Pembangunan

  Oleh: Purista Anggara, Mahasiswa Sosial Politik UIN Jakarta Tak dimungkiri, kian pesatnya perkembangan teknologi sekarang ini semakin memudahkan manusia…