Jangan Takut Memilih dan Terprovokasi Hoax

Oleh: Haryo Sumantri dan Mahmud Aridona, Pengamat Sosial Kemasyarakatan

Selama ini, Pemilihan Umum di Indonesia seringkali suasananya membuat rasa khawatiran. Hal ini tidak lain karena para politisi menghalalkan semua cara untuk memperoleh kekuadaan tanpa mempertimbangkan kepentungan nasional yang lebih besar.

Sementara pemilihan di negara_negara demokrasi lainnya adalah dengan cara yang mengedepankan isu isu berkualitas tanpa eksploitasi isu isu yang dapat meretakan persatuan.

Banyak para politisi mempermainkan sentimen etnis, agama, dan primordial lainnya, bahkan intimidasi dan provokasi untuk memanipulasi khalayak ramai demi keuntungan pribadi mereka sehingga timbul apatisme warga untuk memilih bahkan ada yang takut memilih.

Dalam prosesnya, mereka banyak menyebar hoax dengan mendiskriditkan pemerintahan dengan memunculkan isu isu kebencian melalui pidato-pidato provokatif. Ada juga yang dengan sengaja berupaya mendelegitimasi Pemilu dengan tuduhan tuduhan yang dapat menimbulkan konflik ditengah masyarakat.

Salah satu alat yang digunakan untuk kepentingan di atas adalah dengan sengaja terus menyebar hoax. Ada banyak orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang membuat berita bohong atau hoax untuk mendongkak popularitas kandidatnya yang mereka dukung dsn mengintimidasi pendukung lainnya agar takut memilih.

Hal ini tentunya sangat merugikan kuakitas demokrasi kita dan persatuan bangsa Indonesia yang terkenal budaya yang toleransi dan damai.

Itulah mengapa gerakan hoax harus lebih banyak lagi dikumandangkan di negeri ini sebab tanpa hoax pemilu 2019 ini bisa berjalan dengan sukses dan program keberlanjutan pembangunan nasional bukan hanya sekedar angan-angan dan wacana saja.

Untuk itu mari kita sukseskan pemilu 2019 dengsn melawan hosx dan menolak Golput serta melawan intimidasi dengan tidak takut memilih kandidat ysng terbaik yang mau bekerja keras untuk kemajuan Indonesia. Mari kita suksesksn keberlanjutan pembangunan Indonesia dengan gunakan hak pilih kita dengan cerdas tanpa Golput melalui suksesnya keberlangsungan kepemimpinan nasional, menuju Indonesia yang semakin maju.

Milenial Tidak Takut Memilih

Pemilu yang merupakan sebuah ajang lima tahun sekali yang dihelat untuk melanjutkan kepemimpinan nasional selama lima tahun ke depan. Ketika iklim pemilihan umum yang dirusak oleh maraknya berita hoax yang berupaya mendelegitimasi hasil pembangunan serta intimidasi terhadap pemilih agar tidak berani memilih pilihannya maka dapat dipastikan keberlanjutan kepemimpinan nasional di negeri ini tidak akan berjalan dengan baik dan dikawatirkan dapat menghambat suksesnya keberlanjutan pembangunqn Indonesia. Untuk itulah diharapkan peran Warganet berdama masyarskat harus terus menyuarakan gerskan untuk tidak takut memilih dan lawan hoax serta tolak Golput demi suksesnya Pemilu 2019 yang berkualitas dan damai.

Kita harus menggunakan hak pilih kita secara cerdas. Ada begitu banyak cara agar kita mampu menggunakan hak pilih kita secara cerdas. Salah satunya adalah dengan melek politik. Di luar sana memang banyak yang cukup peduli dengan politik, tapi jumlah mereka masih kalah banyak dibandingkan mereka yang terbilang tidak peduli dengan masalah politik di negeri ini.

Hal ini tentunya sangat menggelisahkan dan patut disayangkan mengingat dalam beberapa tahun ke depan tonggak kepemimpinan negeri ini akan diberikan kepada mereka yang terpilih dalam ajang Pemilihan Umum.

Ketika mayoritas masyarakat Indonesia tidak peduli dengan masalah politik, suara mereka justru akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang memiliki niat buruk yang tersembunyi di balik penampilan mereka yang tampak rapi, sopan, dan cenderung terlihat intelek.

Itulah mengapa mulai saat ini kita harus menumbuhkan kepedulian kita dalam permasalahan perpolitikan di Indonesia. Jika saat kita sudah melek politik, kita tidak akan mudah tertipu dengan kata-kata manis oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab , sebab kita dapat menganalisa trackbrecord dan prestasi kandidat serta kita bisa mengkaji rasionalitas progrsm progrsm yang ditawarkan dan sikap optimisme yang ditawarkan bukan hsnya terus menjual kecap dan menakut nakuti, karena masa depan adalah milik kaum milineal saat ini sehingga kita harus dengan cerdas dsn berani gunakan hak pilih kita demi berlanjutnya pembangunan Indonesia.

Melek politik menumbuhkan rasa percaya diri kamu, agar berani memilih pemimpin yang mau memajukan Indonesia kedepannya. Dari pundak kaum milineal ada rasa optimis yang tinggi, agar semua bergandengan tangan mendukung keberlanjutan pembangunan dan kepemimpin nasional. Dengan melek politik dan menggunakan hak pilih secara cerdas, berarti kita telah turut serta mensukseskan pemilu 2019. Mari kita lawan Hoax yang menyesatkan dan Mari kita tolak provokasi Golput dengan kita tidak takut memilih pemimpin yang baik dengan kerja keras yang tulus demi suksesnya keberlanjutan pembangunan.

BERITA TERKAIT

Perkuat Modal Ekspansi Bisnis - Estika Tata Tiara Bakal Rilis Obligasi dan Sukuk

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) atau perusahaan pengolahan daging yang lebih dikenal produk…

Teknologi dan Industri di Satu Sistem

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Teknologi dan Industri dalam kesehariannya adalah kosakata netral. Tetapi begitu saling bersenyawa menyatu…

Bidang Asset Daerah Pemkot Sukabumi Akan Lelang Kendaraan dan Satu Bangunan

Bidang Asset Daerah Pemkot Sukabumi Akan Lelang Kendaraan dan Satu Bangunan   NERACA Sukabumi - Bagian Asset Daerah Pemkot Sukabumi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Persatuan Wujud Kemenangan Bersama Seluruh Warga Bangsa

  Oleh : Rahmat Ginanjar, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Pada 21 Mei dinihari merupakan hari dimana pengumuman resmi dari KPU telah…

Mengawal Kontribusi Pajak untuk Menjadi Manfaat

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak Berbagai upaya mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan di tahun 2019, pemerintah…

Diperlukan Konsolidasi Nasional, Segera!

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Sudah terlambat untuk saling menyalahkan. Begitu juga sudah bukan merupakan penyelesaian dengan mengatakan pelaku kerusuhan adalah…