Kebijakan DP KPR dan Kendaraan Picu Kinerja Indeks Terkoreksi

Neraca

Jakarta - Rencana Bank Indonesia menaikkan pembayaran awal (down payment/DP) pembelian perumahan dan otomotif serta adanya kepastian kenaikan harga BBM sebesar Rp1.500 per liter memberikan terkanan terhadap indeks.

Senior Research HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan, koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan berlangsung akibat dampak dari faktor regional dan kenaikan asumsi inflasi pasca kenaikan BBM menjadi 3% dari sebelumnya 2%, “Namun ini membuka kesempatan perdagangan pada beberapa saham selektif," katanya di Jakarta, Senin (19/3)..

Sementara analis Sinarmas Sekuritas Jansen Kustianto mengatakan pergerakan indeks akan dipengaruhi kondisi regional dan makro ekonomi nasional terkait rencana kenaikan DP. Kondisi ini akan berdampak terhadap sektor otomotif, multifinance dan perbankan, selain juga dampak lanjutan atas rencana naiknya harga BBM Premium,"katanya.

Menurutnya data ekonomi AS seperti data tingkat kepercayaan konsumen dan produksi pabrik serta rencana BI menaikkan pembayaran awal bagi pembelian rumah dan otomotif dapat memberikan sentimen terhadap indeks.

Hal senada juga disampaikan analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, kebijakan Bank Indonesia (BI) memberlakukan peraturan penyaluran kredit rumah, motor, dan mobil menjadi sentimen negatif di pasar. Pasalnya, BI akan mewajibkan bank menaikkan batas uang muka untuk kredit tersebut.

Selain itu, lanjut dia, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga akan mengikuti jejak BI, terhadap perusahaan multifinance. Oleh karena itu, dirinya memperkirakan perdagangan saham akan bergerak "mixed" dengan kecenderungan menguat terbatas. "Kami juga masih melihat peluang trading pada saham lapis dua dan tiga," ujarnya.

Indeks pekan ini, menurutnya, secara teknikal masih berpotensi menguat secara terbatas pada kisaran 4010-4065. Untuk saham-saham yang layak diperhatikan antara lain PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). (bani)

Related posts