Rupiah Secara Perlahan Terus Menguat

NERACA

Jakarta—Apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami perlemahan. Bahkan rupiah menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) ditutup pada kisaran Rp9.168 per USD dengan rata-rata perdagangan harian Rp9.122-Rp9.214 per USD. Sedangkan kurs tengah Bloomberg mencatatkan rupiah berada pada kisaran Rp9.168 per USD, dengan range perdagangan harian Rp9.103-Rp9.188 per USD. "Namun rilis data inflasi Amerika cenderung memicu sentimen negatif bagi dolar AS dan cenderung mendorong penguatan rupiah," kat Head of Research Treasury Divison BNI, Nurul Eti Nurbaeti di Jakarta,19/3

Menurut Nurul, rupiah memang masih bergerak dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah. Namun, potensi memburuknya kondisi ekonomi Amerika paska softer than expected. Sementara dari dalam negeri, dilakukannya lelang obligasi diperkirakan akan marak dibanjiri investor dan berpotensi menambah tenaga bagi rupiah bila sesuai ekspektasi. "Level rupiah di pasar valuta asing pada sesi pagi yang menunjukkan penguatan diprediksi bakal menopang reli rupiah," ujarnya

Namun, rencana pemberlakuan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam beberapa pekan lagi, berpotensi memberi sentimen negatif bagi rupiah dan cenderung menahan laju apresiasi rupiah. Sementara analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan, pasar global ditutup mixed membuat pasar Asia juga cenderung bergerak mixed.

Sementara itu, Treasry Analyst Telkom Sigma Rahadyo Anggoro mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi bergerak stabil pada pembukaan perdagangan pekan ini. "Rupiah hari ini diprediksi stabil dengan range Rp9.150-9.190 per USD," paparnya

Faktor dalam negeri, menurutnya masih belum terlepas dari rencana pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika pada akhirnya rencana tersebut direalisasikan, diperkirakan akan terjadi inflasi jangka pendek. "Inflasi diprediksi jika kenaikan BBM terjadi sekira 7%-7,2%," katanya.

Pemerintah memang berencana menaikan harga BBM. Jika kenaikan BBM sebesar Rp1.500 per liter maka inflasi yang terjadi sebesar 6,8 persen dari sebelumnya 5,5%. Namun jika kenaikan sebesar Rp2.000 per liter inflasi pada 2012 sebesar 7%-7,2%. "Bahkan keputusan kenaikan tersebut ditunggu oleh lembaga rating, karena mereka berpendapat positif akan hal itu. Imbasnya terhadap surat utang Indonesia. Fitch memang mengakui jika pembatasan ini akan picu inflasi, namun jangka panjang baik untuk indonesia. Indonesia akan kuat dalam dana cadangan untuk capital outflow," akunya.

Sementara faktor eksternal masih terkait dengan krisis Eropa. Eropa masih fokus terhadap penyelesaian utangnya. Sementara mengintip dari Negeri Tirai Bambu yang memangkas perkiraan pertumbuhan ekonominya, dia mengatakan jika faktor itu tidak terlalu berpengaruh. Untuk akhir tahun ini, rupiah diprediksi memiliki range Rp9.000-9.200 per USD. "China, pengaruh terhadap Asia, namun currency tetep oke. Pengaruh terhadap rupiah tidak terlalu signifikan karena lebih dipengaruhi oleh kebijakan dalam negeri," tandasnya. **cahyo

Related posts