Banyak Tekanan dan IHSG Menguat Terbatas

Neraca

Jakarta – Mengawali pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 3,804 poin (0,09%) ke level 4.024,733. Sementara Indeks LQ 45 ditutup turun tipis 0,715 poin (0,10%) ke level 694,023. Pelemahan indeks dipengaruhi aksi ambil untung yang memaksa indeks terhambat melanjutkan penguatannya.

Saham-saham berbasis konstruksi dan konsumer menjadi biang keladi koreksi bursa Senin awal pekan. Saham-saham tersebut rata-rata terpangkas karena aksi profit taking dan berikutnya, indeks Selasa masih mencoba keberuntungannya untuk melanjutkan penguatannya. Indeks BEI sendiri diprediksikan akan bergerak di level 4.024-4.030.

Asal tahu saja, pada perdagangan kemarin tercatat beberapa sektor masih menguat, namun tak kuasa menahan laju koreksi IHSG. Saham-saham yang masih mampu menguat dintaranya berada di sektor agrikultur, industri dasar, infrastruktur, finansial dan perdagangan.

Sementara perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 107.131 kali pada volume 3,108 miliar lembar saham senilai Rp 3,647 triliun. Sebanyak 86 saham naik, sisanya 144 saham turun, dan 102 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 1.500 ke Rp 140.000, Indocement (INTP) naik Rp 1.050 ke Rp 18.350, Tembaga Mulia (TBMS) naik Rp 900 ke Rp 6.100, dan Mayora (MYOR) naik Rp 800 ke Rp 17.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 3.300 ke Rp 13.400, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.600 ke Rp 52.900, Indomobil (IMAS) turun Rp 700 ke Rp 14.300, dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 500 ke Rp 70.500.

Menutup perdagangan sesi I, IHSG naik tipis 4,788 poin (0,12%) ke level 4.033,325. Sementara Indeks LQ 45 melemah tipis 0,507 poin (0,07%) ke level 695,245. Belum adanya sentimen positif membuat indeks bergerak datar. Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kurang menggembirakan ditambah bursa Asia yang bergerak mixed.

Investor lakukan aksi tunggu sambil menunggu perkembangan situasi pasar. Saham-saham berbasis konsumer menjadi pemberat bursa sementara indeks sektor industri dasar menguat cukup tinggi. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 59.202 kali pada volume 1,571 miliar lembar saham senilai Rp 1,801 triliun. Sebanyak 84 saham naik, sisanya 115 saham turun, dan 103 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.350 ke Rp 54.000, Mayora (MYOR) naik Rp 1.300 ke Rp 17.700, Indocement (INTP) naik Rp 1.100 ke Rp 18.400, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 400 ke Rp 20.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.200 ke Rp 53.300, Indomobil (IMAS) turun Rp 550 ke Rp 14.450, Multi Prima (LPIN) turun Rp 400 ke Rp 2.700, dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 250 ke Rp 70.750.

Diawal perdagangan, IHSG BEI dibuka naik 3,73 poin atau 0,09% ke posisi 4.032,26. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 0,95 poin atau 0,14% ke posisi 695,69 poin. "Bursa Asia Senin dibuka `mixed` dengan kecenderungan menguat tipis sekitar 0,5% mengantisipasi rilis data properti AS di pekan ini yang diekspektasikan kembali membaik," kata analis Samuel Sekuritas Christine Salim.

Dia menambahkan, sebagian menguatnya bursa regional juga dipicu dari bursa Eropa sore nanti yang diperkirakan berpeluang dibuka naik setelah Credit Suisse merevisi estimasi pertumbuhan emiten di Eropa menjadi satu persen dari sebelumnya.

Meski demikian, lanjut dia, koreksi signifikan harga baja dunia di akhir pekan lalu diperkirakan akan memberi tekanan pada saham-saham sektor baja dan pertambangan. Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang menambahkan, perkembangan positif terjadi di China ketika IMF mengatakan dalam pidatonya bahwa Ekonomi global telah maju satu langkah dari bahaya keruntuhan.

Selain itu, lanjut dia, sudah muncul tanda stabilisasi dari negara kawasan Eropa dan AS meski belum banyak hal dapat dilakukan karena tidak boleh adanya salah kebijakan, serta tingginya level hutang di negara maju dan naiknya harga minyak mentah dunia adalah kunci kedepannya. "IMF juga mengatakan mata uang Yuan-China dapat dijadikan mata uang devisa dimasa depan jika China melakukan beberapa perubahan yang kuat dengan melakukan beberapa hal,"ujarnya.

Dia mengemukakan, China diharapkan mendorong lebih tinggi lagi pertumbuhan ekonomi, mengubah motor penggerak pertumbuhan ekonomi dari ekspor menuju konsumsi dalam negeri, dan lebih memeratakan penyebaran kekayaan.

Sementara bursa regional diantaranya indeks Hang Seng menguat 38,02 poin (0,18%) ke level 21.356,40, indeks Nikkei-225 naik 18,39 poin (0,18%) ke level 10.148,22 dan Straits Times melemah 12,95 poin (0,43%) ke level 3.023,63.(bani)

Related posts