Bank Diminta Agresif Kucurkan Kredit

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta industri perbankan untuk lebih ekspansif dalam mengucurkan kredit sejak awal 2019 guna menggerakkan roda perekonomian, di tengah kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral yang diutamakan kepada stabilitas. BI menyatakan akan menerapkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui pembiayaan dari kredit perbankan. Harapan BI, kredit perbankan dapat tumbuh 12 persen dengan pelonggaran kebijakan makroprudensial melalui peningkatan Rasio Intermediasi Makroprudensial menjadi 84-94 persen.

"Dengan Rasio Intermediasi Makroprudensial yang dinaikkan ini, kita ingin memastikan rentang pertumbuhan kredit 10-12 persen, bias nya ke atas. Kita ingin jaga harapannya Sejak dari awal tahun. Jadi dengan direlaksasi dari sekrang, bank bisa dari awal tahun untuk ekspansif," kata Deputi Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Ita Rulina, seperti dikutip Antara, kemarin.

Dalam Rapat Dewan Gubernur periode Maret 2019 ini, BI menetapkan kenaikan batasan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dari 80-92 persen menjadi 84-94 persen untuk mendukung pembiayaan perbankan bagi dunia usaha. Kenaikan RIM tersebut akan berlaku 1 Juli 2019. Dengan demikian, BI melonggarkan batasan kehati-hatian dari penyaluran kredit bank.

Meskipun sudah menaikkan RIM yang menjadi relaksasi bagi perbankan untuk lebih gencar menyalurkan kredit, Ita mengatakan, BI masih mempertahankan target pertumbuhan kredit di 10-12 persen. "Karena sebenarnya tidak mudah juga bank langsung untuk cairkan kredit. Maka dengan dilonggarkannya RIM, kita ingin perkuat sinyal ke perbankan untuk dorong kredit," kata dia.

Kredit perbankan menjadi alat untuk BI memberikan stimulus kepada perekonomian, sebagai sinyal bahwa kebijakan makroprudensial Bank Sentral telah akomodatif (pro pertumbuhan). Sebelum kenaikan RIM, BI memasang syarat kehati-hatian RIM di rentang 80-92 persen. Ita mengatakan dengan batas atas 92 persen, sebanyak 51 bank sudah melebihi ketentuan RIM atau rentang kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Maka itu, RIM ditingkatkan agar bank lebih leluasa menyalurkan intermediasi. "Sementara yang di bawah RIM 80 persen, itu ada 21 bank. Bank juga harus hati-hati dalam mengelola likuiditasnya," ujar dia.

Menurut Ita, kondisi likuiditas perbankan cukup memadai. Namun, masih banyak perbankan yang terlalu hati-hati dalam mengucurkan kredit sehingga ekses likuiditas meningkat. Parameter kesehatan likuiditas yang digunakan BI yakni Alat Likuid per Dana Pihak Ketiga/AL-DPK meningkat ke 20,25 persen per Januari 2019 dari 19 persen per Desember 2018. "Jadi bank bisa memanfaatkan likuiditasnya untuk dorong kredit," ujar dia.

Kebijakan BI yang merileksasi RIM ditanggapi beragam oleh kalangan perbankan. Bank BTN misalnya yang menilai kebijakan tersebut tak akan mempengaruhi likuiditas perseroan. Pasalnya, baik RIM maupun Loan to Deposit Ratio (LDR) selalu berada diatas batas ketentuan.

“Langkah BI merelaksasi RIM baik karena membantu likuiditas perbankan secara nasional, namun untuk kasus BTN kebijakan tersebut sifatnya netral. LDR kami selalu di atas 100%, RIM kami pun selalu berada di atas 94%,” kata Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko, seperti dikutip Kontan. Iman menjelaskan hal tersebut terjadi sebab, bisnis inti perseroan di bidang penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) butuh dana jangka panjang dari berbagai instrumen di luar dana pihak ketiga (DPK).

Hal lain justru diungkapkan oleh Bank BRI. Bahkan Dirut BRI Suprajarto akan meningkatkan target penyaluran kredit pasca BI melakukan rilekasasi RIM. “Sebelumnya kami menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 12%-14%. Namun seiring optimisme dunia usaha dan banyaknya stimulus dari pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat, termasuk relaksasi RIM. Tahun ini, pertumbuhan kredit kami bisa tumbuh di atas 14%,” katanya.

Dari jadwal bank sentral, relaksasi RIM tersebut baru akan terimplementasi Semester 2/2019 mendatang. Nah guna merevisi target pertumbuhan, BRI bisa memanfaatkan revisi RBB di akhir semester 1/2019 kelak. Sementara akhir 2018 lalu, Suprajarto bilang RIM perseroan berada di level 88,5%. Dengan relaksasi ini bank terbesar di Indonesia ini menargetkan bisa mencapai RIM di level 89%. “Relaksasi ini tentu berdampak positif untuk perbankan, karena dengan level intermediasi yang meningkat penyaluran kredit ke sektor riil juga akan bertambah seiring pendanaan yang dikumpulkan,” lanjutnya.

BERITA TERKAIT

BCA Pastikan Akuisisi Bank Royal

    NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk memastikan telah memulai proses akuisisi seluruh saham PT. Bank…

Genjot Ekspansi Kredit - Lagi, BTN Gelar Akad Massal Serentak

Penetrasi pertumbuhan kredit kepemilikan rumah (KPR) lebih besar lagi, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) untuk kesekian kalinya menggelar akad…

Akusisi 30% Saham PNMIM - Bank BTN Investasikan Dana Rp 114,3 Miliar

Di penghujung kuartal pertama tahun ini, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mulai merealisasikan target ekspansi perseroan untuk memperluas…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Penyaluran Kredit BTN Tumbuh 19,57%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan kinerja positif pada penyaluran kredit miliknya.…

BTPN Syariah Catatkan Pertumbuhan Pembiayaan 20%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) mencatatkan kinerja dan pertumbuhan yang positif…

Lelang SUN Serap Rp23,4 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp23,4 triliun dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) untuk…