Sisa Saham Garuda Tak Pantas Dijual Tinggi - Pekan InI Resmi Ajukan Penawaran

NERACA

Jakarta - Nasib sisa saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebesar 10,88% akhirnya menemui titik terang. Pasalnya, pekan ini tiga perusahaan sekuritas BUMN yang menjadi penjamin emisi (underwriter), yaitu PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Bahana Securities secara resmi akan mengirimkan surat penawaran kepada beberapa investor.

Mereka ini antara lain Grup Djarum, Grup Rajawali, Sandiaga Salahuddin Uno mewakili Saratoga Group, Rachmad Gobel dengan Panasonic Gobel Group, Chairul Tandjung mewakili CT Group, dan Bakrie Group. Menurut Deputi Menteri BUMN bidang Usaha Jasa, Parikesit Suprapto, rencananya penawaran akan dimulai pekan ini sampai akhir Maret, sehingga proses penjualan saham Garuda ditargetkan rampung April 2012 mendatang.

Des, bagaimana dengan harga saham yang di atas 10% harga pasar? Komentar pedas dilontarkan Agus S Irfani. Lektor Kepala FE Universitas Pancasila ini menegaskan mustahil harga saham maskapai penerbangan pelat merah ini bakal di atas pasar.

“Logika sederhananya begini. Mana mungkin barang tidak laku dijual lalu di obral dengan harga mahal? Yang ada juga di bawah harga normal. Kalau pun dijual harganya sama saat listing di bursa, yakni Rp 750 per lembar, itu luar biasa. Tapi tidak semudah itulah,” cetus Agus kepada Neraca, Minggu (18/3).

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam teori ekonomi terdapat tiga nilai penjualan. Yaitu, nilai buku atau akuntansi, nilai pasar, dan nilai lelang atau likuidasi atau kebangkrutan. Nah, Garuda berada pada pilihan ketiga atau nilai lelang. Dijelaskan pula, jika ada satu perusahaan penilaiannya masuk kategori lelang maka harga jualnya pasti di bawah pasar.

Mengenai rasa optimisme Kementerian BUMN kalau harga saham Garuda akan naik saat ditawarkan kepada investor, dinilai Agus hanyalah sebatas "lip service”. Karena, lanjut dia, hal tersebut bertujuan untuk mengangkat nilai jual perusahaan penerbangan BUMN beraset terbesar ini.“Itu sih wajar. Biar nilainya tinggi. Lagian, ketiga underwriter ini tidak mau mengulang kesalahan kasus IPO Krakatau Steel (KRAS) yang berujung pada penjatuhan denda yang totalnya mencapai Rp 1,1 triliun,” tukasnya.

Akhir tahun lalu, Kepala Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK, Robinson Simbolon mengatakan telah menjatuhkan denda terhadap tiga penjamin emisi akibat diduga adanya transaksi “gelap” dalam penjualan saham Krakatau Steel. Denda tersebut, sambung Robinson, masing-masing dijatuhkan kepada PT Bahana Securities sebesar Rp 100 juta, PT Mandiri Sekuritas Rp 500 juta, serta PT Danareksa Sekuritas sebesar Rp 500 juta.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat (16/3) akhir pekan kemarin, harga saham Garuda ditutup stagnan atau tidak berubah, Rp 620 per lembar, sama ketika saat pembukaan. Frekuensi perdagangan hanya 550 kali dengan tidak ada volume dan nilai transaksi.

Kuasi reorganisasi

Tak hanya itu, Agus juga menambahkan, ada kaitannya antara penjualan sisa saham Garuda dengan keinginan melakukan perseroan untuk kuasi reorganisasi atau pemutihan laporan keuangan akibat merugi. “Meski tidak diakui pihak Garuda, garis merahnya kelihatan kalau penjualan (sisa saham) sukses, langkah selanjutnya, ya, kuasi,” ujar dia.

Direktur Keuangan GIAA, Elisa Lumbantoruan mengakui kalau pihaknya tetap bersikeras mengajukan permohonan kuasi reorganisasi pada pertengahan Maret tahun ini Bapepam-LK. "Kita menunggu audit laporan keuangan 2011 selesai dan laporan keuangan setelah dilakukan kuasi," katanya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Elisa mengatakan, perseroan siap menghapus bukukan saldo defisit sebesar Rp 6,8 triliun. Untuk itu, pihaknya akan mengadakan rapat umum pemegang saham (RUPS) pada April 2012. Pasca-RUPS, diharapkan Garuda segera menyelesaikan rencana kuasi reorganisasi dalam waktu dua bulan.

Seperti diketahui, usai periode IPO pada Februari 2011 lalu masih terdapat sisa saham 3.008.406.725 lembar yang tidak terserap investor dengan nilai Rp 2,25 triliun. Sedangkan publik hanya menyerap 3,327 miliar saham dengan harga saham perdana Rp 750 per lembar.

Sementara saham Garuda yang diserap ketiga underwriter mempengaruhi modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) dikarenakan saham Garuda terus menurun. Rinciannya, Danareksa memegang tanggungan sebesar 2,21%, Mandiri 2,09%, serta Bahana sedikit lebih banyak memegang saham, yaitu 4,41%.

Selain tiga sekuritas BUMN ini, beberapa perusahaan BUMN lainnya yang memiliki saham Garuda adalah PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, PT Jamsostek dan BNI Securities. Parikesit pun mengamini kalau dirinya menyerahkan sepenuhnya harga sisa saham Garuda kepada pasar. "Itu sangat tergantung pada penawaran dan permintaan," tambahnya.

Kongkalikong

Di tempat terpisah, pengamat pasar modal Yanuar Rizki mengatakan, harga saham perusahaan yang terdaftar di pasar modal atau go public telah diatur melalui peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Sehingga tidak bisa sembarangan menaikkan atau menurunkan harga jual.“Lalu yang membuat saya heran tiga underwriter BUMN ini kan mengendalikan harga saham Garuda. Kok, mau naik-turun harganya malah diam saja. Harusnya mereka yang “main.” Bagaimana mau jualan kalau mereka seperti nggak mau ambil pusing,” tegas Yanuar, kemarin.

Oleh karena itu, Yanuar tidak menafikkan adanya tudingan bahwa dibalik upaya penjualan sisa saham Garuda adalah kepentingan menyelamatkan tiga underwriter Garuda yang nyaris bangkrut lantaran harus menanggung rugi akibat tidak terserapnya saham tersebut.

Dia menyatakan, secara logika yang banyak memegang saham justru bisa mengendalikan harga. Pasalnya, sebanyak 40% harga saham Garuda diserap PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas. Sementara 30% diserap Jamsostek dan Dana Pensiun (Dapen). “Alasannya untuk me-maintain harga. Mudah saja, mereka tinggal lihat kok faktor harga saham Garuda turun. Aneh saja seperti tidak bisa berbuat apa-apa,” tutup Yanuar. [ardi]

Related posts