Bank Saudara Tebar Dividen Rp 25,48 Miliar - Segera Terbitkan Obligasi Subdebt

NERACA

Jakarta - Hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) PT Bank Saudara Tbk (SDRA) memutuskan untuk menyetujui membagi dividen 2011 sebesar Rp 11 per saham dengan total Rp 25,48 miliar atau setara 28,3% dari total laba bersih 2011 Rp 90,04 miliar.

Direktur Utama SDRA, Madyanto Purbo menuturkan, sisa laba bersih akan digunakan untuk dana cadangan sebesar Rp 4,50 miliar atau lima persen, sisanya sebesar 66,7% atau Rp 60,06 miliar untuk laba ditahan. "Laba ditahan untuk menjaga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) permodalan dengan persentase baik," kata Madyanto di Jakarta, Jumat (16/3), akhir pekan.

Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 90,04 miliar pada 2011 dari periode sama sebelumnya Rp 59,94 miliar. Kredit perseroan naik menjadi Rp 3,34 triliun pada 2011 dari Rp 2,55 triliun pada 2010. Dana pihak ketiga (DPK) naik menjadi Rp 4,08 triliun pada 2011 dari Rp 2,55 triliun.

Aset perseroan naik menjadi Rp 5,08 triliun pada 2011. Pertumbuhan rasio (loan to deposit ratio/LDR) naik menjadi 81,70% pada 2011 dari 100,20% pada 2010. Marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) naik 9,14% pada 2011.

Tak hanya itu, SDRA juga akan menerbitkan obligasi subdebt senilai Rp 300 miliar pada semester II-2012. Penerbitan obligasi subdebt ini untuk meningkatkan permodalan. "Kami akan menerbitkan obligasi subdebt senilai Rp300 miliar. Di mana 50% penerbitan obligasi subdebt ini untuk permodalan," tukas Madyanto.

Lebih lanjut dia menuturkan, pihaknya akan memakai kinerja keuangan Juni 2012 untuk menerbitkan obligasi subdebt. Kemungkinan penerbitan obligasi subdebt ini pada semester kedua tahun ini. Perseroan menargetkan CAR mencapai 14,7% pada akhir 2012. Hingga 2011, CAR perseroan 13,38%.

Alokasi Rp 10 miliar

Saat ini, komposisi pemegang saham PT Bank Himpunan Saudara Tbk antara lain Arifin Panigoro sebesar 52,92%, PT Medco Intidinamika 11,03%, dan masyarakat sebesar 36,05%. Selain itu, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 60 miliar pada 2012. Dana belanja modal untuk IT, pembukaan kantor cabang, dan kantor pusat.

Dana belanja modal akan berasal dari kas internal. Perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp 10 miliar sebagai penyertaan modal di bank perkreditan rakyat (BPR) tahun ini. "Untuk BPR memang ada yang menawarkan, ada di Bandung, Probolinggo, Garut, dan Jakarta. Kami masih melihat yang pas untuk dibeli. Tetapi kami akan investasikan dana sebesar Rp 10 miliar untuk penyertaan di BPR pada 2012," ujarnya.

Adapun pertimbangkan menganggarkan dana sebesar Rp 10 miliar untuk penyertaan, Madyanto menuturkan, berdasarkan ketentuan Bank Indonesia (BI) yang apabila menyertakan modal BPR di Kotamadya sekitar Rp 2 miliar sedangkan BPR di luar kota madya hanya Rp 1 miliar. Dia juga menambahkan, pihaknya terus melanjutkan pembicaraan untuk menyertakan modal di BPR. Diharapkan pada semester satu tahun ini sudah ada yang bisa direalisasikan. [ardi]

Related posts