Bunga The Fed Diyakini Hanya Naik Sekali

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia mengubah proyeksinya untuk kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, Bank Sentral AS, dari dua kali untuk 2019-2020 menjadi hanya satu kali, menyusul sinyalemen "kesabaran" normalisasi yang terus diperlihatkan pimpinan The Fed, Jerome Powell.

Usai Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral bulanan, Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (21/3) mengatakan bahwa sinyalemen penundaan kenaikan suku bunga The Fed membawa imbas positif bagi perekonomian Indonesia, dengan aliran modal asing yang masuk dan tekanan yang berkurang akibat meredanya ketidakpastian.

Pada Rabu malam waktu setempat, Bank Sentral AS, The Fed pada Maret ini mempertahankan suku bunga acuan pada 2,25 - 2,5 persen atau median 2,375 persen. Penetapan suku bunga itu sesuai ekspetasi pelaku pasar. The Fed juga mengubah sinyalemen untuk arah kebijakan suku bunga dalam jangka menengah, yang menyiratkan jumlah kenaikan suku bunga acuan yang lebih rendah dalam dua tahun ke depan.

Sejalan dengan itu, sikap Bank Sentral Eropa (ECB) juga semakin melunak (dovish) karena perkiraan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Benua Biru dan laju inflasi yang rendah. "Dot Plot (arah bunga acuan untuk jangka menengah) The Fed yang semula naik dua hingga tiga kali, kini hanya naik sekali. Kemudian sikap dovish (melunak) juga ditunjukkan ECB," ujarnya.

Oleh karena perkembangan kebijakan moneter negara-negara maju itu, Bank Sentral juga pada Kamis ini mempertahankan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" sebesar enam persen. Dengan dipertahankannya suku bunga acuan pada Maret ini, Bank Sentral tercatat sudah empat kali menahan suku bunga acuan di level enam persen.

Penetapan kebijakan suku bunga itu juga diiringi suku bunga fasilitas penyimpanan dana di BI (Depocit Facility/DF) 5,25 persen dan suku bunga penyediaan dana ke perbankan (Lending Facility/LF) 6,75 persen.

Meski demikian, BI masih mengorientasikan kebijakan suku bunga acuan untuk ketahanan stabilitas dari tekanan eksternal. Sementara kebijakan makroprudensial BI, ujar Perry, diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Salah satu kebijakan makroprudensial terbaru yang dilonggarkan BI adalah peningkatan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) perbankan dari 80-92 persen menjadi 84-94 persen.

Peningkatan batas atas dan batas bawah RIM itu akan mendorong perbankan untuk lebih agresif menyalurkan kredit. Bank Sentral berharap pertumbuhan kredit dapat mencapai 12 persen atau di batas atas sasaran pertumbuhan kredit tahun ini yang sebesar 10-12 persen.

BERITA TERKAIT

Sektor Riil - Investasi Manufaktur Diyakini Semakin Moncer Seusai Pemilu

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku optimistis akan terjadi peningkatan investasi dan ekspansi di sektor industri manufaktur seusai…

Laba Bersih Siantar Top Naik 17,95%

NERACA Jakarta – Di tahun 2018 kemarin, PT Siantar Top Tbk (STTP) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,95% secara…

Ramadan dan Lebaran, Konsumsi Diprediksi Naik 0,2%

    NERACA   Jakarta - Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudistira Adhinegara mengatakan, secara keseluruhan kondisi perekonomian masyarakat Indonesia stabil.…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Penyaluran Kredit BTN Tumbuh 19,57%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan kinerja positif pada penyaluran kredit miliknya.…

BTPN Syariah Catatkan Pertumbuhan Pembiayaan 20%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) mencatatkan kinerja dan pertumbuhan yang positif…

Lelang SUN Serap Rp23,4 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp23,4 triliun dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) untuk…