OPEC Dinilai Perlu Terus Pangkas Pasokan Sampai Akhir 2019

NERACA

Jakarta – Arab Saudi mengatakan pada Minggu (17/3) bahwa pekerjaan OPEC dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak masih jauh dari selesai, karena persediaan global masih meningkat meskipun ada sanksi-sanksi AS yang keras terhadap Iran dan Venezuela, menandakan pihaknya mungkin perlu memperluas pengurangan produksi hingga paruh kedua 2019 .

Rusia, yang memangkas produksi minyak bersama dengan OPEC, juga mengatakan pengurangan produksi akan tetap ada setidaknya sampai Juni, ketika langkah-langkah Washington berikutnya dalam mengurangi ekspor minyak Iran dan Venezuela menjadi lebih jelas.

Amerika Serikat telah meningkatkan ekspor minyaknya secara tajam dalam beberapa bulan terakhir, sambil memberlakukan sanksi-sanksi terhadap Venezuela dan Iran untuk mengurangi pengiriman mereka ke pasar global.

Kebijakan Washington telah memperkenalkan tingkat ketidakpastian baru untuk OPEC ketik organisasi ini berjuang untuk memprediksi keseimbangan penawaran dan permintaan global. "Penilaian saya adalah bahwa pekerjaan itu masih tetap di depan kita ... Kita masih melihat persediaan terus bertambah ... Kita harus tetap berada di jalur yang pasti sampai Juni," kata Menteri Energi Saudi Khalid al Falih disalin dari Antara.

"Kami ingin tetap siap untuk terus memonitor pasokan dan permintaan dan melakukan apa yang harus kami lakukan di paruh kedua," kata Falih ketika beberapa menteri OPEC bertemu di ibukota Azerbaijan, Baku, untuk komite pemantauan OPEC dan sekutunya seperti Rusia.

OPEC dan sekutunya telah memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari atau 1,2 persen dari permintaan global sejak Januari, untuk membantu menyeimbangkan kembali pasar minyak global dan menopang harga. OPEC dijadwalkan bertemu pada April dan sekali lagi pada Juni untuk memutuskan kebijakan produksinya.

Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi keras terhadap produsen minyak terbesar ketiga OPEC, Iran, tetapi memberikan beberapa keringanan kepada pembeli minyak mentahnya hingga Mei. Washington juga berusaha menggulingkan presiden Venezuela saat ini, Nicolas Maduro, dan telah menjatuhkan sanksi-sanksi minyak negara itu.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan sulit bagi Moskow dan OPEC untuk merencanakan karena sanksi-sanksi AS. Dia mengatakan mereka akan memiliki sedikit informasi tambahan dalam pertemuan mereka berikutnya pada April, mengingat bahwa Washington belum akan mengumumkan keringanan barunya terhadap Iran dan karena itu diperlukan lebih banyak pembicaraan pada Mei.

"Sanksi-sanksi itu menciptakan tren negatif di pasar dan benar-benar mendistorsi gambaran penawaran dan permintaan ... Mereka dikenakan untuk membantu menjual barang-barang negara yang menjatuhkan sanksi, dan mereka menciptakan ketidakpastian," katanya.

Rusia telah menjadi lambat untuk memangkas produksi minyaknya sesuai dengan target Januari, mengatakan sulit untuk melakukannya di musim dingin.

BERITA TERKAIT

Kebijakan Diskon Rokok Dinilai Hambat Visi Pemerintah Tingkatkan SDM Unggul

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memiliki visi membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga dapat menjadi pondasi dalam meningkatkan perekonomian…

PAMERAN UMRAH DAN HAJI 2019

Sekretaris Perusahaan BNI Syariah, Rima Dwi Permatasari (kedua kiri), bersama Pemimpin Divisi Dana Ritel BNI Syariah, Bambang Sutrisno (kedua kanan),…

Pangkas Beban Utang - Waskita Karya Divestasi Bisnis Lima Ruas Tol

NERACA Jakarta – Besarnya beban utang yang ditanggung PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dalam ekspansi bisnis di jalan tol, menjadi…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Pasar Non Tradisional - Indonesia Akan Perkuat Kerja Sama Perdagangan Dengan Afrika

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan akan terus berupaya membuka akses pasar produk-produk Indonesia ke pasar non-tradisional, khususnya…

Kebijakan Diskon Rokok Dinilai Hambat Visi Pemerintah Tingkatkan SDM Unggul

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memiliki visi membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga dapat menjadi pondasi dalam meningkatkan perekonomian…

Ekspor Obat Hewan Tembus Rp26 Triliun Sejak 2015

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat rekomendasi ekspor produk peternakan sejak 2015 sampai semester I 2019 sebesar Rp38,39 triliun…