Efektivitas Sistem Pendidikan Link & Match

Oleh : Untung Juanto ST. MM, Pemerhati Produktivitas SDM

Debat calon Wakil Presiden pada tanggal 17 Maret 2019 antara KH Ma’ruf Amin dengan Sandiaga Salahuddin Uno yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di hotel Sultan Jakarta dilaksanakan sangat menarik.Salah satu issue yang di bicarkan adalah mengenai pengembangan konsep link and match oleh Cawapres no urut 02. Dengan konsep tersebut di harapkan lulusan SMK dan perguruan tinggi bisa diserap bekerja dengan lebih tepat guna oleh perusahaan yang membutuhkan.

Menurut pasal 25 ayat 4 Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa kompetensi kelulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi penilaian psikomotorik itu sendiri menekankan pada sikap, motivasi dan keterampilan. Berarti bahwa penilaian psikomotorik harus dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa yaitu keterampilan dalam keahlian sesuai bidangnya di dunia industri. Manfaat dari penilaian psikomotorik adalah dapat mengetahui ketercapaian Standar kompetensi yang sudah dijabarkan ke dalam kompetensi dasar.

Indonesia berada di peringkat 94 dari 144 negara health and primary education di dunia. Hal tersebut merupakan salah satu kelemahan SDM di Indonesia yang perlu di perbaiki oleh semua stakeholder. Salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hal tersebut adalah program link and match yang dilakukan antara perusahaan dengan institusi pendidikan. Saat ini masih banyak institusi pendidikan khususnya untuk vokasi yang menghasilkan SDM tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Hal tersebut dapat menyebabkan meningkatnya pengangguran dan juga kerugian bagi perusahaan itu sendiri. Program link and match adalah sebuah simbiosis mutualisme antara perusahaan dengan institusi perguruan tinggi. Simbiosis mutualisme akan tercipta melalui program ini seperti contohnya ketika perusahaan memiliki sebuah permasalahan maka institusi dengan fasilitas yang ada bisa menemukan solusi. Sedangkan untuk Institusi bisa mengirimkan SDM untuk ditingkatkan secara skill dan selanjutnya SDM bisa langsung diserap perusahaan.

Konsep Link and Match telah dikumandangkan sejak tahun 1990-an, wacana yang muncul institusi pendidikan hanya sekedar menyiapkan lulusan yang siap training, siap dimodifikasi, dan siap ditambahkan ilmu. Padahal tuntutan para users lulusan peserta didik adalah siap pakai, siap bekerja, dan sebagainya. Intinya industri tidak ingin hanya sekedar terkena beban kembali, dengan biaya yang cukup tinggi, selain memberi gaji juga harus mengeluarkan dana yang cukup besar untuk kembali melatih. Konsep Link and Match antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang dicetuskan mantan MenDikNas Prof. Dr. Wardiman perlu dikembangkan.

Program Link and match adalah kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak tahun 1989 yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja terutama untuk industri. Programlink and matchbertujuan untuk menjembatani kesesuaian kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan pasar kerja. Programlink and matchadalah penggalian kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja pada masa saat ini dan masa yang akan datang. Diharapkan adanya perubahan paradigma orientasi dunia pendidikan yang tidak lagisupply mindedtapi lebih berorientasi pada demand mindedatau berdasar pada kebutuhan pasar tenaga kerja perusahaan.

Jadi, ada keterkaitan antara penyedia tenaga kerja dengan users-nya. Adanya hubungan timbal balik membuat institusi pendidikan dapat menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan kerja nyata Link and Match dengan program magang. Perbaikan program magang agar industri juga mendapatkan manfaatnya. Selama ini ada kesan yang mendapatkan manfaat dari magang adalah peserta didik, sedangkan dunia industri hanya sebagai beban pelaksana saja.

Salah satu prinsip yang akan dipakai sebagai strategi dalam kebijakan Link and Match adalah model penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). PSG merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkronisasi antara program penguasan keahlian dengan program magang langsung di dunia kerja, untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. PSG merupakan suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir serta fungsi pelaku pendidikan dengan dunia industri. Program pendidikan PSG direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi bersama secara terpadu antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Sehingga fungsi operasional dilapangan dilaksanakan bersama antara peserta didik, tenaga pengajar dengan management perusahaan.

Untuk itu perlu diciptakan adanya keterpaduan peran dan fungsi tenaga pengajar dan instruktur sebagai pelaku pendidikan yang terlibat langsung dalam pelaksanaa PSG dilapangan secara kondusif. PSG adalah mensinkronkan kurikulum yang terdapat di dunia pendidikan dengan kompetensi yang diharapkan oleh industri. Sinkronisasi kurikulum dapat tercapai apabila kerjasama antara dunia industri dengan dunia pendidikan dapat terjalin dengan baik. PSG juga bertujuan untuk membentuk disiplin, mental kerja dan sikap kerja siswa yang positif, terbentuknya sikap kerja positif siswa bermanfaat ketika siswa sudah terjun ke dunia industri sepenuhnya.

Institusi perguruan tinggi juga perlu memikirkan tentang pola komunikasi yang dibangun kepada peserta didik. Saat ini yang sering terjadi komunikasi yang dibangun oleh institusi pendidikan hanya komunikasi satu arah tidak melibatkan dunia industri sehingga SDM tidak memiliki kompetensi yang sesuai, kemudian terjadi reject SDM dalam skala nasional sehingga menyebabkan pengangguran meningkat. Diharapkan melalui program ini lulusan vokasi bisa sesuai dan dengan mudah diserap oleh Industri.

Menjalankan Link and Match bukanlah hal yang sederhana. Karena itu, idealnya, ada tiga komponen yang harus bergerak simultan untuk menyukseskan program Link and Match yaitu institusi pendidikan, perusahaan dan pemerintah. Kreativitas dan kecerdasan pengelola perguruan tinggi menjadi faktor penentu bagi sukses tidaknya program tersebut.

Ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan suatu perguruan tinggi untuk menyukseskan program Link and Match. Perguruan tinggi harus mau melakukan riset ke dunia kerja untuk mengetahui kompentensi apa yang paling dibutuhkan dunia kerja juga harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kompetensi apa yang diperlukan dunia kerja 10 tahun ke depan.

Institusi pendidikan harus menjalin relasi dan menciptakan link dengan banyak perusahaan agar bersedia menjadi arena magang bagi siswa yang akan lulus. Dengan magang on the spot ke dunia kerja seperti itu, lulusan tidak hanya siap secara teori tetapi juga siap secara praktik. Pada saat peserta didik melaksanakan praktik kerja industri, peserta didik dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan agar mempunyai pengalaman yang dapat bermanfaat di kemudian hari.

Dalam praktik kerja industri siswa dituntut agar kreatif, cerdas dan aktif dalam proses pelaksanaanya. Khususnya sikap dan motivasi dalam melaksanakan praktik ketja industri mendukung kemampuan psikomotorik siswa untuk dapat terus berkembang. Selama masa kegiatan pembelajaran, seharusnya setiap siswa pernah mengalami kegiatan praktik kerja industri. Dalam kegiatan ini siswa dituntut dapat menggabungkan kemampuan kognitif yang mereka miliki ke dalam suatu kegiatan yang bersifat psikomotor bukan hanya membantu siswa untuk memahami konsep, tetapi dapat mendorong siswa belajar mengerjakan sesuatu.

Jika program Link and Match berjalan baik, pemerintah juga diuntungkan dengan berkurangnya pengangguran. Manfaat dari pelaksanaan Link and Match sangat besar, diharapkan semua stake holders dunia pendidikan bersedia membuka diri menerima bidang kompentensi yang dibutuhkan dunia kerja sebagai materi pelajaran utama. Perusahaan juga harus membuka pintu bagi peserta didik yang ingin magang on the spot di perusahaan tersebut. Pemerintah juga harus serius menjalankan program Link and Match bukan hanya sebagai proyek belaka.

BERITA TERKAIT

Menguji Efektivitas “Super Deduction Tax”

Oleh: Nailul Huda, Peneliti INDEF Peran inovasi dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi sangat vital mengingat kondisi perekonomian saat ini yang…

Fokus Pendidikan Vokasi Industri Berbasis Kompetensi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan semakin gencar menjalankan berbagai program pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sesuai kebutuhan…

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial   NERACA Palembang - Sistem Informasi Data Kemiskinan Kota Palembang masuk 10…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Wujudkan Cita-cita Bangsa dengan Kontribusi Pajak

  Oleh: Sarah Faizatun Nisa, Staf Ditjen Pajak Menginjak usia 74 tahun, Indonesia diharapkan menjadi negara yang semakin maju dan…

Hoax Bukan Budaya Indonesia

  Oleh : Rizal Adi Pradana, Pemerhati Komunikasi Masyarakat             Sebelum mengurai tentang konsep hoax, perlu dipahami terlebih dahulu tentang…

Stop Generalisasi Isu Papua, Masyarakat Diharapkan Bijak dalam Bersikap

  Oleh : Rahmat Siregar, Pengamat Sosial Politik    Demonstrasi berujung kericuhan terjadi di Manokwari dan Sorong, Papua Barat pada…