YLK Sumsel Masih Temukan Jajanan Menggunakan Pewarna Tekstil

YLK Sumsel Masih Temukan Jajanan Menggunakan Pewarna Tekstil

NERACA

Palembang - Yayasan Lembaga Konsumen Sumatera Selatan (Sumsel) masih menemukan jajanan atau produk makanan dan minuman yang diolah secara tradisional menggunakan pewarna tekstil atau bahan kimia berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, masyarakat diimbau untuk mewaspadai peredaran jajanan atau produk makanan dan minuman yang mengandung bahan kimia berbahaya itu,” kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sumatera Selatan, Hibzon Firdaus di Palembang, Selasa (19/3).

Selain makanan dan minuman menggunakan pewarna tekstil, masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai peredaran makanan dan minuman yang telah habis masa pakai atau kedaluwarsa. Peredaran makanan dan minuman yang tidak layak dikonsumsi itu perlu diwaspadai karena jika tidak teliti bisa saja menjadi sasaran pedagang yang berbuat curang dengan sengaja memasarkan makanan dan minuman yang berkualitas buruk dan berbahaya.

Untuk menghindari menjadi korban sasaran peredaran makanan dan minuman yang mengandung pewarna berbahaya dan kedaluwarsa, katanya, masyarakat di provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa ini perlu meningkatkan kewaspadaan dengan mengecek kemasan produk dan bentuk fisik barang yang akan dibeli.

Dengan kewaspadaan yang tinggi, masyarakat bisa menghindari makanan dan minuman yang tidak layak dikonsumsi, serta dapat melakukan protes kepada pedagang atau melakukan tindakan hukum kepada penjual yang "nakal" itu.

Menurut dia, tindakan menjual makanan dan minuman yang tidak layak dikonsumsi merupakan perbuatan merugikan konsumen dan melanggar Undang Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan sanksi hukum yang cukup berat.

“Dalam UU Perlindungan Konsumen dijelaskan bahwa hak konsumen di antaranya adalah berhak mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa, hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan,” ujar Hibzon. Ant

BERITA TERKAIT

Masih Banyak Perusahaan Publik Tak Peduli HAM - Studi FIHRRST

      NERACA   Jakarta - The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), salah satu organisasi masyarakat…

Sumbang 74%, Ekspor Produk Manufaktur Masih Melejit

NERACA Jakarta – Industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu…

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Jawab Permintaan Jokowi, PNM Keluarkan Program Mekaar Plus

Jawab Permintaan Jokowi, PNM Keluarkan Program Mekaar Plus NERACA Bukittinggi - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) akan segera meluncurkan program…

Hadir di GIIAS 2019, SBD Luncurkan Sejumlah Produk Inovatif Anyar

Hadir di GIIAS 2019, SBD Luncurkan Sejumlah Produk Inovatif Anyar  NERACA Jakarta, - Stanley Black & Decker (SBD), perusahaan perkakas…

PNM Suntik Modal, Aset BPRS Haji Miskin Melonjak Signifikan

PNM Suntik Modal, Aset BPRS Haji Miskin Melonjak Signifikan  NERACA Bukittinggi – Pasca PT Permodalan Nasional Madani (Persero) menyuntikkan modal…