Soal Saham Gocap Ditunda Hingga Tahun Depan - Pertimbangkan Kajian Pelaku Pasar

NERACA

Jakarta – Menuai banyak penolakan, rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus saham gocap atau penurunan batas minimal harga saham dari kondisi saat ini Rp 50 pada akhirnya diputuskan untuk ditunda. “Soal saham Gocap kita tunda hingga tahun 2020,”kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono W. Widodo di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, penundanaan kebijakan tersebut setelah mempertimbangkan masukan dari pelaku pasar seperti anggota bursa (AB), manajer investasi (MI) dan investor. Namun demikian, lanjut Laksono, kajian penurunan harga minimal saham dari Rp50 per lembar akan menjadi program bursa tahun depan.

Menurutnya, kebijakan penundaan tersebut diambil setelah melakukan diskusi dengan pelaku pasar. Dari pertemuan tersebut, terlihat pelaku pasar tidak siap dengan rencana penurunan minimal harga saham dari Rp50.”Banyak alasan, kita lihat lingkungannya apakah sudah sesuai dengan kondisi saat ini. Karena tidak hanya terkait dengan AB tapi juga investor termasuk dana pensiun,” kata dia.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, pelaku pasar seperti dana pensiun sebenar mengaku sepakat dengan rencana penurunan minimal harga saham. Tapi saat ini, dana pensiun juga telah melakukan transaksi dibawah Rp50 di pasar negosiasi.”Jadi banyak juga dana pensiun yang mau (penurunan batas minimal harga saham),” kata dia.

Selain itu, BEI juga menunda rencana kebijakan penolakan penawaran harga atau auto reject atas (ARA) dan bawah (ARB) saham pada pencatatan perdana. Hal itu dikarenakan akan diterapkan electronic book building (EBB).“Untuk Auto Reject pada saat pencatatan saham perdana juga ditunda, setelah melihat dampak pelaksanaan EBB,” jelasnya.

Merespon kebijakan BEI menghapus saham gocap, analis Panin Sekuritas, William Hartanto pernah bilang, aturan ini dapat menjabak investor pemula.”Saat investor melihat harga yang sangat murah di bawah Rp 50 akan dianggap sesuai budget dan layak beli, karena pemula biasanya menggunakan dana setoran awal sedikit, akhirnya banyak yang salah pilih saham,” kata William.

Kendati demikian, William mengatakan hal tersebut bisa dicegah dengan cara memberikan edukasi bagi investor pemula. Dia juga menambahkan, investor yang terlanjur nyangkut di saham dengan harga Rp 50 dapat meraih keuntungan 100%.Dia mencontohkan, beli di harga Rp 1 bisa dijual di harga Rp 2. Namun Head Of Research Lotus Andalan Sekuritas Krishna Setiawan menilai, jika aturan ini diterapkan investor yang membeli saham di harga Rp 50 akan merugi. “Banyak investor berspekulasi dengan harapan harga sahamnya dapat naik, tapi begitu berubah bisa jadi langsung drop. Karena harganya di bawah Rp 50, bisa aja tiba-tiba Rp 1 perak, rugi banyak lah,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Pasar Respon Positif Nota Keuangan 2020

NERACA Jakarta – Pidato nota keuangan negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang disampaikan presiden Joko…

Harita Bakal Lepas Saham CITA ke Glencore

PT Harita Jayaraya, pemegang saham pengendali PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sedang menjajaki rencana untuk menjual saham minoritas kepada…

Bantah Tuduhan Goreng Saham - Bliss Properti Fokus Perbaiki Kinerja Keuangan

NERACA Jakarta – Menepis tuduhan adanya dugaan mengendalikan harga saham, manajemen PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA) langsung menggelar paparan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Juli, Penjualan Semen Indonesia Naik 78,8%

NERACA Jakarta – Meskipun industri semen dalam negeri masih terjadi oversuplai, namun penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pada Juli…

Lagi, Bank Mandiri Kurangi Porsi Saham di MAGI

NERACA Jakarta – Kurangi porsi saham di PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bakal…

Lindungi Invetor Ritel - OJK Perketat Keterbukaan Informasi Emiten

NERACA Jakarta – Menciptakan industri pasar modal sebagai sarana investasi yang aman dan melindungi investor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan…