Bengkulu Tempati Urutan Ke-3 di Sumatera - Catatkan Investor Syariah Tertinggi

NERACA

Bengkulu – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pertumbuan investor pasar modal syariah di provinsi Bengkulu menempati urutan ke-3 setelah Sumatera Barat dan Jambi sebagai Provinsi di pulau Sumatera dengan jumlah investor syariah tertinggi, yaitu sebesar 1.296 investor per akhir tahun 2018. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Bengkulu di Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, capaian yang telah diraih oleh provinsi Bengkulu tersebut belum sejalan dengan pola pikir sebagian masyarakat Bengkulu yang masih menganggap produk pasar modal sebagai aktifitas perjudian, spekulasi, haram, ataupun gharar. Minimnya literasi dan inklusi pasar modal di masyarakat menjadi pemicu munculnya pandangan tersebut. Oleh karena itu, BEI terus berupaya meningkatkan literasi dan inklusi pasar modal dengan menyelenggarakan edukasi dan sosialisasi secara menyeluruh dan berkesinambungan.

BEI bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), bekerjasama dengan First Asia Capital Sekuritas, galeri investasi syariah IAIN Bengkulu dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) menyelenggarakan acara seminar pasar modal syariah dan workshop wartawan daerah di Bengkulu untuk menjawab tudingan miring pasar modal yang ditinjau dari Perspektif Islam.

Sebagai informasi, pertumbuhan jumlah investor pasar modal syariah dari tahun 2017 ke tahun 2018 meningkat sebesar 92% atau bertambah sebesar 21.329 investor syariah baru sepanjang tahun 2018. BEI dalam menunjang pertumbuhan pasar modal syariah juga selalu memberikan payung hukum sebagai kepastian bagi investor. Dimana investor pasar modal Indonesia juga memiliki alternatif untuk bertransaksi efek syariah di pasar modal dengan mengacu pada fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Penerapan prinsip syariah pada pasar modal telah mendapatkan fatwa dari DSN MUI melalui Fatwa Nomor: 40/DSN-MUI/X/2003 dan fatwa mengenai mekanisme transaksi efek bersifat ekuitas melalui Fatwa Nomor: 80/DSN-MUI/III/2011. Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI, Irwan Abdalloh pernah bilang, pasar modal syariah di Indonesia berpeluang tumbuh. Namun hal tersebut terkendala sejumlah hambatan. Pertama, rendahnya literasi dan pemahaman masyarakat terkait pasar modal merupakan salah satu yang paling umum terjadi. Demi mengatasi permasalahan itu BEI gencar mengadakan edukasi-edukasi ke masyarakat atau komunitas-komunitas.

Kedua, meyakinkan investor. Banyak investor yang belum tahu atau mempermasalahkan apakah pasar modal sesuai syariah atau tidak. “Sejauh ini sudah ada 19 fatwa tentang Pasar Modal Syariah yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional”. Ketiga, masalah pembiayaan khususnya bagi perkembangan investor di daerah timur Indonesia. Sejauh ini, ada 356 investor syariah dari daerah Timur seperti Papua, Bali dan Nusa Tenggara Barat atau sebesar 1 % dari jumlah investor yang ada.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

Membangun Ekosistem Ekonomi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Allhamdulilah dalam debat terakhir capres dan cawapres yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum…

PRESIDEN JOKOWI KUNJUNGI BOOTH BNI SYARIAH DI HALAL PARK

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (ketiga dari kiri) berfoto bersama Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo (kiri) dan Pemilik…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…