Golden Plantation Jual Aset Kebun di Jambi - Bayar Utang Rp 1,14 Triliun

NERACA

Jakarta – Danai pelunasan utang senilai Rp 1,14 triliun, PT Golden Plantation Tbk (GOLL) akan mendivestasikan aset yang dimiliki.”Di tengah menghadapi masa sulit dalam hal keuangan, strategi perseroan adalah melakukan divestasi kebun dan hasilnya untuk melunasi kewajiban yang akan jatuh tempo,”kata Corporate Secretary GOLL, Felicia Lukman dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, beban utang yang dmiliki perseroan terhadap di bank dan lembaga keuangan yang bakal jatuh tempo dalam waktu satu tahun ke depan. Rencananya, divestasi aset akan dilakukan pada kuartal ketiga tahun 2019 ini. GOLL akan menjual aset kebun miliknya di Kabupaten Muara Tebo, Jambi seluas 19 ribu m2 dengan harga Rp200 miliar.

Asal tahu saja, kesulitan keuangan bukan hanya dialami oleh GOLL, melainkan juga olhe dua entitas anak usahnya, yaitu PT Bumiraya Investindo (BRI) dan PT Airlangga Sawit Jaya (ASJ). Keduanya kini tengah menjalani proses persidangan PKPU berkaitan dengan utang keduanya yang berjumlah Rp5,99 miliar.

Sebagai informasi, perseroan membukukan penurunan pendapatan untuk periode yang berakhir pada September 2018. Pasalnya, GOLL membukukan pendapatan yang merosot hingga 57,17% dibandingkan dengan priode sebelumnya. Penyebab penurunan pendaptan ialah terdapat kesulitan keuangan yang dialami oleh GOLL dan entitas anak sehingga mengganggu jalannya operasional kebun.

Diakuinya pula, GOLL akan mencari partnership dalam mengelola kebun sawit miliknya serta akan mendivestasi beberapa kebun sebagai jalan keluar dari permasalahan yang tengah dihadapi saat ini.Sebelumnya, Rambir Singh, Direktur GOLL pernah bilang, jika sepanjang tahun 2018 kinerja bisnis usaha cukup terganggu dengan adanya perang dagang Amerika Serikat (AS)-China yang memberi sentimen negatif pada jatuhnya harga minyak nabati termasuk CPO. "Keterbatasan dana pinjaman yang diberikan bank untuk industri kelapa sawit juga turut mempengaruhi kinerja,"ujarnya.

Namun Rambir bilang, adanya B20 yang terus menerus digalakkan oleh pemerintah dan di-upgrade dengan B30 bisa menjadi sentimen manis yang akan meningkatkan harga CPO dan konsumsi CPO dalam negeri. Untuk 2019, manajemen emiten yang bergerak dalam sektor minyak kelapa sawit ini mengakui tidak akan terlalu banyak melakukan ekspansi, tapi mengoptimalkan tanaman yang sudah ada. "Kami hanya akan fokus pada peningkatan produktivitas tanaman dan mengoptimalkan kinerja mill dengan meningkatkan suplai tandan buah segar (TBS) dan kualitas rendemen," ungkap Yung Indrawan, Direktur Independen GOLL.

Perseroan juga menegaskan, ekspansi tahun ini tidak seagresif tahun sebelumnya. Pasalnya, jika ekspansi dipaksa dilakukan di saat seperti ini, justru akan menjadi boomerang dan mematikan bisnis usaha. "Kalau tiba-tiba mati di di tengah jalan karena biaya terus keluar dan alasannya juga karena bank tidak memberi pinjaman banyak saat ini," ungkapnya.

BERITA TERKAIT

KPK Dampingi Penerbitan Aset Rawan Dikorupsi Pejabat Pemprov Sumsel

KPK Dampingi Penerbitan Aset Rawan Dikorupsi Pejabat Pemprov Sumsel NERACA Palembang - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendampingi Provinsi Sumsel…

Kantungi Izin Rights Issue - Lippo Karawaci Bidik Penjualan Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menyetujui aksi korporasi untuk menerbitkan rights…

Pacu Penjualan Rumah Murah - Hanson Bidik Dana Rights Issue Rp 8,78 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna menggenjot pertumbuhan bisnis penjualan rumah murah, PT Hanson International Tbk (MYRX) bakal menggalang pendanaan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Bersih Siantar Top Naik 17,95%

NERACA Jakarta – Di tahun 2018 kemarin, PT Siantar Top Tbk (STTP) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,95% secara…

LMPI Targetkan Penjualan Rp 523,89 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) masih mencatatkan rugi sebesar Rp 46,39…

Bumi Teknokultura Raup Untung Rp 76 Miliar

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) membukukan laba bersih Rp76 miliar pada 2018, setelah membukukan rugi bersih sebesar Rp31,48 miliar…