Penerapan Hedging Minyak Terlalu Berspkulasi

NERACA

Jakarta--Pemerintah diminta jangan terlalu berspekulasi dengan mengumbar wacana untuk menerapkan sistem lindung nilai atau hedging terhadap minyak dengan harga impor pada 2013. Alasanya sangat berbahaya untuk perekonomian Indonesia. "itu bahaya sekali, dari perspketif ekonomi itu sangat bahaya karena kita enggak pernah tahu berapa harga minyak ke depan. Saya khawatir kalau itu di-hedge dalam harga tertentu misalnya US$ 110, itu setelah di-hedge kemudian harganya US$ 200 dolar," katanya pengamat perminyakan, Dirgo D Purbo di Jakarta,17/3

Lebih jauh kata Dirgo, masalahnya saat ini, Indonesia sudah sangat tergantung terhadap impor minyak dari luar negeri. Sehingga saat terjadi gejolak di luar negeri bisa berdampak terhadap kenaikan harga minyak dalam negeri. "Kan sekarang kita sudah punya ketergantungan impor 60%," tambahnya

Menurut Dirgo, dampak hedging harga minyak yang dilakukan Meksiko, waktu itu harga minyak di Meksiko US$ 18, Amerika men-hedge US$ 12 untuk 8 tahun. Sehingga waktu itu Meksiko merugi US$ 6 per barel selama 8 tahun yang produksinya saat itu 2,8 juta bph.

Bahkan Dirgo menyoroti budaya masyarakat Indonesia yang suka menggunakan energi seenaknya yang bisa berdampak terhadap konsumsi BBM terus melonjak. "Budaya kita kan tidak ada efisiensi energi, kita kan pakai energi suka-suka kita. Kehidupan kita sehari-hari kan kesannya selalu tersedia energi murah di mana-mana, tapi kita tidak melakukan penggunaan energinya seefisien mungkin," imbuhnya

Sementara itu, ekonom FEUI, Ikhsan Modjo mengungkapkan alokasi subsidi BBM sebesar Rp5 triliun diserap oleh kalangan mampu. Sementara kalangan miskin hanya menyerap BBM sebesar Rp270 miliar. "Kalangan masyarakat kelas menengah ke atas selama ini merupakan konsumen terbesar dari bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sebanyak 10 persen orang kaya Indonesia memakai BBM bersubsidi kurang lebih Rp5 triliun," terangnya

Menurut Ikhsan, ada tiga alasan besar dari rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Pertama, adanya perbedaan antara harga minyak mentah internasional dengan premium dan solar yang beredar di masyarakat. "Saat ini, harga minyak mentah dunia ditaksir mencapai USD127 per barel. Sementara harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar berada di level Rp4.500 per liter," ujarnya.

Kondisi tersebut menyebabkan tekanan anggaran subsidi BBM melonjak dari Rp123 triliun menjadi Rp190 triliun. Hal tersebutlah yang mengakibatkan tekanan terhadap anggaran. Alasan kedua adalah kenaikan BBM bersubsidi dianggap lebih berpihak kepada masyarakat ekonomi kecil. Selama ini pengguna terbanyak subsidi BBM justru berasal dari masyarakat kaya yang hyampir menyerap Rp5 triliun dari alokasi subsidi BBM.

Alasan ketiga adalah pemerintah tengah berupaya mendorong masyarakat untuk berhemat dan ramah lingkungan. Penghematan terutama berasal dari upaya penggunaan energi dari sumber lain. "Banyak energi kita yang belum optimal. Misalnya gas," pungkasnya. **mohar

Related posts