Target Devisa Pariwisata Turun US$2,4 Miliar - DAMPAK BANYAK BENCANA DI INDONESIA

Jakarta-Pemerintah menurunkan target penerimaan devisa sektor pariwisata tahun ini dari semula US$20 miliar menjadi US$17,6 miliar.Penurunan dilakukan walaupun pemerintah sebenarnyaingin sumbangan devisa dari sektor ini meningkat dan mengalahkan kontribusi dariekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oils-CPO).

NERACA

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pemerintah sebenarnya ingin target tetap dipatok US$20 miliar. Apalagi, saat ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak pertumbuhan sektor pariwisata.

Namun, menurut Arief, kenyataan di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Indonesia menghadapi banyak bencanabelakangan ini, termasuk beberapa di antaranya di titik-titik wisata penting yang sebenarnya diharapkan bisa mengundang banyak wisatawan mancanegara.

Hal itu, menurut dia, membuat jumlah kunjungan wisatawan terpengaruh. Begitu pula dengan durasi masa tinggal wisatawan di Tanah Air dan jumlah pengeluaran yang mereka belanjakan.

Pada 2017 misalnya, penerimaan devisa Indonesia ditargetkan mencapai US$15 miliar. Namun beberapa bencana, seperti erupsi Gunung Agung di Bali, membuat penerimaan devisa Indonesia hanya mencapai kisaran US$14 miliar.

Pun begitu dengan 2018, terjadi bencana alam dari gempa bumi di Lombok, tsunami dan pergeseran tanah di Palu, hingga meletusnya Gunung Anak Krakatau dan tsunami di Banten. Hal ini membuat realisasi penerimaan devisa dari pariwisata hanya berhasil mencapai US$15,8 miliar. Padahal targetnya2018 kemarin, penerimaan devisa bisa mencapai US$17 miliar.

"Itu (penurunan penerimaan devisa) karena kena bencana. Mau dikritik seperti apa pun, tetap saja susah. Mungkin bagi orang keuangan, target ini cenderung konservatif, tapi ini kami hitung bersama dan sudah relatif bagus," ujar Arief di Kompleks Gedung BI, Senin (18/3).

Begitu pula dengan tahun ini, di mana belum lama ini kembali terjadi gempa di Lombok. Menurutnya, gempa tersebut membuat tingkat keterisian kamar (okupansi) tempat-tempat penginapan di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terkena gempa Lombok kembali turun dari 50% menjadi 30%.

Meski target penerimaan devisa menurun, namun bidikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tetap sama, yaitusebanyak 20 juta orang padasepanjang tahun ini. Menurutnya, target kunjungan masih bisa dikejar karena setidaknya masih lebih mudah mengejar kunjungan wisatawan, ketimbang pengeluaran yang dihabiskan di Indonesia.

Menjangkau Target

Kendati begitu, Arief memastikan pemerintah tetap memetakan sejumlah langkah untuk mencapai target-target tersebut. Pertama, menjadikan Singapura sebagai titik penghubung atau hub bagi wisatawan mancanegara yang mau ke Indonesia.

Kedua, membangun terminal bandara khusus untuk maskapai penerbangan bertarif rendah (Low Cost Carrier/LCC). Menurutnya, Indonesia harus memiliki terminal penerbangan LCC karena pasar wisatawan yang potensial dibidik merupakan kelas menengah.

Hal ini tak jauh berbeda dengan karakteristik wisatawan domestik saat ini. Buktinya, pertumbuhan maskapai LCC di Tanah Air mencapai 20%, sementara maskapai yang memberi layanan penuh (full service) hanya tumbuh sekitar 5%. "Secara de facto (hukum), Terminal 2F (Bandara Soekarno Hatta) akan jadi terminal LCC. Kalau tidak datangkan LCC, tidak bisa datangkan 20 juta kunjungan itu," ujarnya seperti dikutip cnnindonesia.com.

Ketiga, menambah pilihan tempat wisata, aktivitas, hingga fasilitas yang bisa didapat wisatawan mancanegara di Indonesia. Tujuannya agar durasi berkunjung dari wisatawan meningkat.

Ariefmencatat, saat ini rata-rata durasi kunjungan wisatawan mancanegara sekitar 8-10 hari untuk wisatawan yang datang dari negara yang relatif jauh dari Indonesia. Sementara durasi kunjungan dari negara-negara yang cukup dekat sekitar dua hari. "Semakin dekat, semakin cepat biasanya kunjungannya, misalnya Singapura ke Kepulauan Riau, itu average (rata-rata) hanya 1,7 hari. Ibu-ibu itu hanya belanja, lalu pulang," katanya.

Menurut dia, bila durasi kunjungan diperpanjang, maka jumlah pengeluaran dan penerimaan devisa bagi negara akan meningkat. Arief bilang jumlah pengeluaran wisatawan mancanegara sekitar US$1.000-1.100 per kunjungan atau setara Rp14-15,4 juta. "Tapi kalau turis Australia itu mungkin bisa US$1.500 per kunjungan, meski dekat, tapi spending (pengeluarannya) besar, itu karena durasi kunjungan cukup tinggi," ujarnya.

Keempat, mengejar kunjungan wisatawan dari negara-negara yang jauh dari Indonesia. Hal ini juga dimaksudkan agar durasi kunjungan lebih lama dan pengeluaran cukup tinggi. "Misalnya, dari China dan Eropa, relatif jauh jadi waktunya bisa lebih lama di sini mereka. Tapi yang dekat tetap dikejar, Malaysia, Singapura, dan Australia," tutur dia.

Sementara itu, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menambahkan, pemerintah juga akan meningkatkan sejumlah infrastruktur agar akses ke berbagai titik wisata lebih baik. Misalnya, pengadaan terminal internasional di Bandar Udara Internasional Adisutjipto di Yogyakarta yang ditargetkan beroperasi pada April 2019. "Targetnya, kunjungan wisatawan untuk Borobudur jadi 2 juta dari sekarang 1 juta. Lalu, pembuatan jalan kereta, Bali second exit runaway agar jumlah penumpang naik jadi 39 juta dari 29 juta,"ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga akan menambah penerbangan langsung dari beberapa negara ke titik wisata, misalnya ke Danau Toba. "Kami kembangkan bisa ke Danau Toba dari Malaysia, Singapura, itu kami buka juga direct flight," ujarnya.

Sebelumnya pemerintah akan mendorong wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE) dalam 5 tahun ke depan guna menggenjotdevisa di sektor pariwisata. Hal ini lantaran pengeluaran wisatawan untuk kepentingan MICE minimal tiga kali lipat pengeluaran wisatawan biasa.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro menjelaskan, jumlah wisatawan dari kegiatan MICE saat ini baru mencapai 3 persen total wisatawan. Hal ini, menurut Bambang, tak lepas dari kualitas sarana dan prasarana MICE di Indonesia yang masih kurang memadai, mulai dari lokasi pertemuan, hotel, hingga penerbangan penghubung. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

KERJASMA BNI - VAMOS INDONESIA

Menteri BUMN RI Rini M Soemarno (tengah), Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (kedua kanan) dan Founder Yayasan Vamos Indonesia Fanny…

Payoneer Dukung UMKM di Indonesia dan Dunia

Hadirnya financial technology (fintech) memberikan banyak peluang bagi bisnis untuk berkembang secara global karena adanya kemudahan, seperti transaksi lintas negara…

Indonesia Eximbank Kerjasama Pembiayaan Ekspor ke Afrika

      NERACA   Jakarta - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ada “Mafia” Dibalik Maraknya Gelandangan dan Pengemis

  NERACA   Jakarta - Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng) bukan hanya disebabkan faktor…

UPAYA MEMULIHKAN EKONOMI - Penurunan Suku Bunga Acuan Jadi Pilihan Tepat

NERACA Jakarta – Merespon kebijakan suku bunga The Fed yang sudah melandai, beberapa bank sentral dunia sudah mengambil langkah pelonggaran…

IMPOR MASIH MENDOMINASI - Presiden Ingin Defisit Garam Cepat Diatasi

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo menilai bahwa potensi garam yang dihasilkan di tambak garam Desa Nunkurus Kabupaten Kupang, Nusa…